Beranda Seni Puisi Malam Ini Ari Pahala Hutabarat Luncurkan Antologi “Rekaman Terakhir Beckett”

Malam Ini Ari Pahala Hutabarat Luncurkan Antologi “Rekaman Terakhir Beckett”

564
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Penyair Ari Pahala Hutabarat akan meluncurkan buku antologi puisi Rekaman Terakhir Beckett di Graha Kemahasiswaan Universitas Lampung, Jumat malam (13/10/2017) pukul 19.00 WIB.

Dua sastrawan Lampung, Iswadi Pratama dan Ahmad Yulden Erwin, akan menjadi pembahas pada sesi diskusi.

Selain sebagai penyair, Ari Pahala Hutabarat selama ini dikenal sebagi pendiri dan sutradar Teaker Komunitas Berkat Yakin (Kober). Karya-karyanya—dalam bentuk puisi sudah sering menghiasi kolom-kolom sastra baik lokal maupun nasional, terlibat di sejumlah even sastra bergensi di tanah air, misalnya Ubud Writers and Readers Festival di Bali, Utan Kayu Literary Biennale, Panggung Sastra Indonesia Mutakhir, dan lainnya.

Bukunya yang pernah terbit antara lain: Menanam Benih Kata (Tentang Menulis Puisi) tahun 2010, Akting Berdasarkan Sistem Stanislavski; Sebuah Pengantar (bersama Iswadi Pratama) tahun 2012, dan sekarang sedang mendalami ilmu nyepuh jiwo kepada Syeh Mukhlisin di kampung Gunung Terang, Lampung.

Buku terbaru karya alumnu Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unila ini berisi puluhan puisi pilihan sosok yang akrab disapa Ari, bertitimangsa antara tahun 2013 hingga 2017.

Iswadi Pratama (Sastrawan dan Direktur Artistik Teater Satu Lampung) mengatakan bahwa puisi-puisi karya Ari Pahala bersinggungan dengan banyak narasi yang telah mewarnai wajah peradaban zaman. Terlontar dari satu gagasan ke gagasan lain, dari satu ranah ke ranah lainnya; kemanusiaan, spiritualitas-kesadaran, filsafat, kritik sosial, dan lain-lain.

Di sisi lain, masih menurut Iswadi, puisi-puisi dalam kumpulan ini lebih ingin membuncahkan arus gagasan dengan tetap berupaya mempertahankan suasana puisi yang sering terasa surealistik tanpa terjebak pada “kelaziman” dalam tradisi puisi lirik yang sudah menjadi hantu bagi proses kreatif seorang penyair di Indonesia. Menolak “berindah-indah”, mengelak dari kepatuhan terhadap rima-rima luar.

“Selamat atas penerbitan buku puisi “Rekaman Terakhir Backett”, Ari Pahala Hutabarat. Aku bahagia membacanya,” ujar Ahmad Yulden Erwin.