Beranda Views Sepak Pojok Manifesto Menyongsong Kemenangan Indonesia Raya

Manifesto Menyongsong Kemenangan Indonesia Raya

158
BERBAGI
Conie
Sema*

Conie Sema

Kaum intelektual dan kaum cendekiawan yang cerdas dan bijak, ketahuilah bahwa
kamu adalah inisiator yang mampu menggerakkan arah perubahan sebuah bangsa. Agenda
kita ke depan bukan sekadar memberantas korupsi dan kemiskinan semata. Agenda
besar ke depan, adalah mengusir dan menangkap bandit-bandit dari luar yang
bergentayangan di negeri ini. Mereka berkolaborasi merampok kekayaan hasil bumi
kita. Merampok ideologi dan budaya bangsa. Merampok kedaulatan politik dan
ekonomi kita. merekayasa pencitraan calon pemimpin negeri ini. Kita harus
sadarkan keterpukauan rakyat oleh tipu muslihat itu.

Jangan
biarkan rakyat terlena dengan iklan dan jutaan buzzer dan follower yang
beredar di media sosial. Jangan terpukau dengan survei dan rekayasa angka-angka
di pasar keuangan dan saham. Karena itu bagian dari instrumen yang mereka mainkan
selama ini.
Berkacalah
10 tahun lalu. Dua kali putaran Pemilu lalu. Bagaimana kita memilih pemimpin
hasil rekayasa pencitraan di seluruh penjuru media di negeri ini. Dan itu
sebuah kesalahan besar.Hari ini kita hanya bisa mencaci maki SBY sebagai pemimpin
yang plintat plintut.
Pemimpin
yang lemah dan tidak memiliki ketegasan. Tak mampu menahan impor pangan yang
memiskinkan petani dan industri kecil. Melaksanakan agenda neoliberalisme
dengan mengurangi semua subsidi untuk rakyat. Tidak memiliki keberanian meninjau
ulang kerjasama bagi hasil keuntungan dengan investor asing sebagaimana amanat
konstitusi.
Lantas
apa yang harus kita lakukan? Atas nama bangsa Indonesia, atas nama kewibawaan negara.
Pertama, Negara harus mengatur sistem
perekonomian yang mengacu kepada konstitusi 
dan ideologi negara. Negara harus memproteksi sistem perdagangan berbagai
komoditas atau produk pertambangan dan industri yang menyangkut hajat
rakyat. 
Sebab,
globalisasi ekonomi dan pasar bebas yang menjadi agenda kelompok neolib tujuan
utamanya hanya menguatkan rakyat, tetapi melemahkan Negara.  Negara kelak tidak berdaya mengatur tataniaga
di pasar. Mulai dari kuota dan harga, juga sistem pendistribusian produk
kebutuhan pokok masyarakat.   
Kedua, kita tetap
melanjutkan agenda reformasi yang bertujuan menciptakan pemerintahan yang
bersih dan demokratis. Tetapi, kita harus cerdas. Pemberantasan korupsi  tidak hanya menindak para koruptor  sebagai penjahat kecil dan musiman, di bagian
hilir. Tetapi juga menyikat garong dan perampok kelas kakap, di bagian hulunya.
Mereka adalah musuh utama bangsa ini.
Merekalah
yang menciptakan belenggu kesengsaraan panjang bagi rakyat. Membuat kita tak
berdaya. Tak mampu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, baik secara ekonomi maupun
politik.
Dari
dulu mental pemimpin kita adalah mental kacung dan pengemis yang meminta belas
kasihan melalui utang dari para perampok asing itu. Para perampok kemudian mendapatkan
kompensasi yang seluas-luasnya mengeksploitasi semua kekayaan bumi pertiwi.
Lucunya
para pemimpin dan petinggi negeri tetap dengan lantang berteriak
“nasionalisme”. Bagaimana mungkin  bicara
nasionalisme jika seluruh aset kekayaan negeri ini diangkut dan dijual ke luar
negeri. Bagaimana mungkin bicara nasionalisme, jika harga diri dan kewibawaan
Negara diinjak-injak.
Ketiga, untuk
memerdekakan bangsa dari penjajahan ekonomi oleh kekuatan asing tersebut,
adalah membangun  ekonomi kerakyatan. Memprioritaskan peningkatan alokasi anggaran
pembangunan yang berpihak kepada rakyat kecil. Dari mulai petani, nelayan,
buruh, industri kecil dan menengah, pedagang tradisional, dan pedagang kecil
lainnya.
Pembangunan
ekonomi kerakyatan adalah sebuah gerakan ekonomi dalam upaya menciptakan masyarakat
adil, makmur dan sejahtera, dengan menekankan kemandirian, produktif, dan
berpijak pada kearifan lokal. Muara akhirnya menjadikan kekuatan rakyat sebagai
kekuatan utama dalam membangun kemandirian bangsa dan masyarakat Indonesia.
Keempat, memilih
pemimpin yang memiliki karakter tegas dan berani menghadapi segala risiko
politik dalam menjalankan kebijakan pro rakyat. pemimpin yang memiliki tekad
kuat memerdekakan rakyat dari penjajahan ekonomi dan politik yang membelenggu
dan merampas kehormatan manusia Indonesia.

Pemimpin
yang membawa gerakan perubahan kepemimpinan nasional dan perubahan tata laksana
penyelenggaraan Negara. Mendukung segala upaya untuk pembangunan bangsa (national building) dan karakter manusia Indonesia.
Perubahan
akan terjadi bila memang ada kemauan dari diri kita sendiri.  Atas dasar itulah, pada Pemilu 2014 ini, para
intelektual dan cendekiawan sebagai motor utama untuk mendorong semua anak
bangsa yang berpotensi, cerdas, jujur, dan memiliki komitmen kerakyatan,
beramai-ramai merebut kursi parlemen dan kursi pemerintahan. Merebut dan
mengamankannya dari orang-orang jahat!
Kalau tidak
sekarang kapan lagi.
Kalau tidak kita
siapa lagi.
Salam
Indonesia Raya!
*Conie Sema adalah seorang esais. Lama menekuni dunia jurnalistik di RCTI. Kini calon legislatif DPRD Lampung dari Partai GERINDRA

Loading...