Manifesto Menyongsong Kemenangan Indonesia Raya

Bagikan/Suka/Tweet:

Conie Sema*

Kaum intelektual dan kaum cendekiawan yang cerdas dan bijak, ketahuilah bahwa kamu adalah inisiator yang mampu menggerakkan arah perubahan sebuah bangsa. Agenda kita ke depan bukan sekadar memberantas korupsi dan kemiskinan semata. Agenda besar ke depan, adalah mengusir dan menangkap bandit-bandit dari luar yang bergentayangan di negeri ini. Mereka berkolaborasi merampok kekayaan hasil bumi kita. Merampok ideologi dan budaya bangsa. Merampok kedaulatan politik dan ekonomi kita. merekayasa pencitraan calon pemimpin negeri ini. Kita harus sadarkan keterpukauan rakyat oleh tipu muslihat itu.

Jangan biarkan rakyat terlena dengan iklan dan jutaan buzzer dan follower yang beredar di media sosial. Jangan terpukau dengan survei dan rekayasa angka-angka di pasar keuangan dan saham. Karena itu bagian dari instrumen yang mereka mainkan selama ini.

Berkacalah 10 tahun lalu. Dua kali putaran Pemilu lalu. Bagaimana kita memilih pemimpin hasil rekayasa pencitraan di seluruh penjuru media di negeri ini. Dan itu sebuah kesalahan besar.Hari ini kita hanya bisa mencaci maki SBY sebagai pemimpin yang plintat plintut.

Pemimpin yang lemah dan tidak memiliki ketegasan. Tak mampu menahan impor pangan yang memiskinkan petani dan industri kecil. Melaksanakan agenda neoliberalisme dengan mengurangi semua subsidi untuk rakyat. Tidak memiliki keberanian meninjau ulang kerjasama bagi hasil keuntungan dengan investor asing sebagaimana amanat konstitusi

Lantas apa yang harus kita lakukan? Atas nama bangsa Indonesia, atas nama kewibawaan negara. Pertama, Negara harus mengatur sistem perekonomian yang mengacu kepada konstitusi
dan ideologi negara. Negara harus memproteksi sistem perdagangan berbagai komoditas atau produk pertambangan dan industri yang menyangkut hajat rakyat.  Sebab, globalisasi ekonomi dan pasar bebas yang menjadi agenda kelompok neolib tujuan utamanya hanya menguatkan rakyat, tetapi melemahkan Negara.  Negara kelak tidak berdaya mengatur tataniaga di pasar. Mulai dari kuota dan harga, juga sistem pendistribusian produk kebutuhan pokok masyarakat.

Kedua, kita tetap melanjutkan agenda reformasi yang bertujuan menciptakan pemerintahan yang bersih dan demokratis. Tetapi, kita harus cerdas. Pemberantasan korupsi  tidak hanya menindak para koruptor  sebagai penjahat kecil dan musiman, di bagian hilir. Tetapi juga menyikat garong dan perampok kelas kakap, di bagian hulunya.

Mereka adalah musuh utama bangsa ini. Merekalah yang menciptakan belenggu kesengsaraan panjang bagi rakyat. Membuat kita tak berdaya. Tak mampu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, baik secara ekonomi maupun politik.

Dari dulu mental pemimpin kita adalah mental kacung dan pengemis yang meminta belas kasihan melalui utang dari para perampok asing itu. Para perampok kemudian mendapatkan kompensasi yang seluas-luasnya mengeksploitasi semua kekayaan bumi pertiwi. Lucunya para pemimpin dan petinggi negeri tetap dengan lantang berteriak “nasionalisme”. Bagaimana mungkin  bicara nasionalisme jika seluruh aset kekayaan negeri ini diangkut dan dijual ke luar negeri. Bagaimana mungkin bicara nasionalisme, jika harga diri dan kewibawaan Negara diinjak-injak.

Ketiga, untuk memerdekakan bangsa dari penjajahan ekonomi oleh kekuatan asing tersebut,
adalah membangun  ekonomi kerakyatan. Memprioritaskan peningkatan alokasi anggaran pembangunan yang berpihak kepada rakyat kecil. Dari mulai petani, nelayan, buruh, industri kecil dan menengah, pedagang tradisional, dan pedagang kecil lainnya.

Pembangunan ekonomi kerakyatan adalah sebuah gerakan ekonomi dalam upaya menciptakan masyarakat adil, makmur dan sejahtera, dengan menekankan kemandirian, produktif, dan berpijak pada kearifan lokal. Muara akhirnya menjadikan kekuatan rakyat sebagai kekuatan utama dalam membangun kemandirian bangsa dan masyarakat Indonesia.

Keempat, memilih pemimpin yang memiliki karakter tegas dan berani menghadapi segala risiko politik dalam menjalankan kebijakan pro rakyat. pemimpin yang memiliki tekad kuat memerdekakan rakyat dari penjajahan ekonomi dan politik yang membelenggu dan merampas kehormatan manusia Indonesia. Pemimpin yang membawa gerakan perubahan kepemimpinan nasional dan perubahan tata laksana penyelenggaraan Negara. Mendukung segala upaya untuk pembangunan bangsa (national building) dan karakter manusia Indonesia.

Perubahan akan terjadi bila memang ada kemauan dari diri kita sendiri.  Atas dasar itulah, pada Pemilu 2014 ini, para intelektual dan cendekiawan sebagai motor utama untuk mendorong semua anak bangsa yang berpotensi, cerdas, jujur, dan memiliki komitmen kerakyatan, beramai-ramai merebut kursi parlemen dan kursi pemerintahan. Merebut dan mengamankannya dari orang-orang jahat!

Kalau tidak sekarang kapan lagi. Kalau tidak kita siapa lagi.Salam Indonesia Raya!

*Conie Sema adalah esais. Ia Lama menekuni dunia jurnalistik di RCTI. Kini calon legislatif DPRD Lampung dari Partai GERINDRA

You cannot copy content of this page