Beranda Teras Berita Mantan Kepala Cabang Bank Lampung Bandar Jaya Ditahan

Mantan Kepala Cabang Bank Lampung Bandar Jaya Ditahan

739
BERBAGI
Zaenal Asikin/Teraslampung.com

BANDAR
LAMPUNG-
Mantan pimpinan kepala cabang (Kacab) Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Lampung  cabang Bandar Jaya, Nahwan Taufik, ditahan di rutan Polda
Lampung pada Kamis (21/8) atas perbuatan melakukan tindak pidana perbankan
(Tipibank). 
“Tersangka
ditangkap kemarin (21/8) sekitar pukul 14.30 WIB. Saat ini ditahan di Rutan
Mapolda Lampung,” kata Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih, Jumat
(22/8).
Menurut
Sulistyaningsih, pada 22 Agustus 2006 Nahwan Taufik selaku pimpinan cabang mencairkan
kredit nasabah atas nama Zaky Indrawan, kuasa hukum Direktur CV Phillo sebesar
Rp175 juta. Pencairan itu  tidak sesuai
prosedur.  Di antaranya jaminan berupa
sertifikat hak milik (SHM) atas nama Nahwan tidak ada di Bank dan debitur atas
nama Zaky Indrawan selaku kuasa hukum direktur CV Phillo tidak ada/fiktif. 
Sulis
mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan pada 22 Agustus 2006, Zaky
mengajukan kredit dan disetujui Nahwan selaku kepala cabang. kemudian dicairkan
sebesar Rp175 Juta dengan jaminan SHM atas nama tersangka Nahwan. Kemudian
jaminan SHM tersangka Nahwan tidak berada di Bank Lampung cabang Bandar Jaya. 
“Debitur
Zaky, selaku kuasa direktur CV Phillo tidak ditemukan. Selanjutnya, pemberian
kredit tidak dilakukan sesuai tahapan pemberian kredit di antaranya belum
disurvei dan jaminan belum diserahkan. Terakhir, hingga saat ini kredit belum
bayar (kredit macet) oleh Zaky atau Nahwan,”ungkapnya.
Barang
bukti yang disita, kata Sulis, antara lain tiga  lembar perjanjian kredit konstruksi antara BPD
Lampung dengan Zaky yang mewakili CV Phillo, satu bundel berkas kredit, satu
bundel perjanjian kontrak Nomor : 005/PPK I (DAK)/KTR-PU/DPUR-WK/2006 tanggal
23 Agustus 2006 nilai kontrak senilai Rp930.501.000 antara pejabat pembuat
komitmen (PPK) I Dinas Pekerjaan Umum dan Pertambangan Kabupaten Way Kanan
dengan CV Phillo.
Nahwan
akan dikenakan Pasal 49 ayat 1 huruf a UU RI Nomor 7 Tahun 1992 tentang
perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 10 Tahun 1998. Ada pun
ancaman hukuman pidana penjara sekurangnya 5 tahun dan paling lama 15 tahun
serta denda sekurangnya Rp10 miliar dan paling banyak Rp200 miliar. 
“Tersangka
juga melanggar pasal 49 ayat 2 huruf b UU RI Nomor 7 Tahun 1992 tentang
perbankan, sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 10 Tahun 1998. Ancaman
hukumannya adalah pidana penjara sekurangnya tiga tahun penjara, paling lama 8
tahun penjara serta denda sekurangnya Rp5 miliar dan paling banyak Rp100 miliar.
Mengenai berkas perkara penyidikan tersangka, sudah diserahkan ke Kejaksaan
Tinggi (Kejati) Lampung,” jelasnya.

Loading...