Beranda News Internasional Marah karena Penembakan di Masjid, PM Selandia Baru tak Mau Sebut Nama...

Marah karena Penembakan di Masjid, PM Selandia Baru tak Mau Sebut Nama Teroris

192
BERBAGI
Perdana Menteri Jacinda Ardern tiba di masjid Kilbirnie pada 17 Maret 2019 di Wellington, Selandia Baru. (Foto: Getty Images via BBC)

TERASLAMPUNG.COM — Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, sangat marah dengan aksi teroris yang melakukan aksi brutal yang menewaskan 49 orang di dua masjid. Ia bersumpah tidak akan pernah menyebut nama pria bersenjata yang melakukan serangan di masjid di Kota Christchurch tersebut.

“Dia mencari banyak hal dari tindakan terornya, termasuk agar menjadi terkenal. Itulah sebabnya Anda tidak akan pernah mendengar saya menyebutkan namanya,” kata Ardern dalam pidato penuh emosional di gedung parlemen Selandia Baru, Selasa. 19 Maret 2019, seperti dilansir BBC.

Penembakan pada Jumat lalu (15/03) di dua masjid di Kota Christchurch telah menewaskan 50 orang, termasuk seorang warga Indonesia, dan puluhan lainnya terluka.

Warga Australia, Brenton Tarrant, yang berusia 28 tahun, yang menyebut dirinya sebagai penganut supremasi kulit putih, didakwa sebagai pelaku penembakan.

Di hadapan anggota parlemen Selandia Baru, Ardern berkata, “Saya mohon, ucapkan nama-nama mereka yang meninggal ketimbang nama pelakunya.

“Dia adalah teroris. Dia adalah pelaku kriminal. Dia adalah ekstremis. Tetapi ketika menyangkut dirinya, ketika harus menyebutnya, saya tak akan menyebut namanya.”

Dalam pertemuan khusus dengan parlemen pada Selasa (19/03), Ardern memulai dengan “Assalamualaikum”.

Dia kemudian meminta platform media sosial untuk berbuat lebih banyak dalam memerangi teror, setelah pelaku serangan di Christchurch menyiarkan langsung serangannya di Facebook.

“Kami tidak bisa hanya duduk dan menerima bahwa platform ini ada dan bahwa apa yang dikatakan mereka bukanlah tanggung jawab yang menerbitkannya,” katanya.

Facebook mengatakan pada Selasa (19/03) bahwa video itu ditonton kurang dari 200 kali selama siaran langsung, dan totalnya sekitar 4.000 kali sebelum akhirnya dihapus.

Perusahaan media sosial itu mengatakan telah menghapus lebih dari 1,5 juta salinan video dalam 24 jam pertama setelah kejadian, 1,2 juta di antaranya diblokir saat diunggah.

BBC

Loading...