Marah Tanpa Solusi Itu Ciri Tidak Kompeten

  • Bagikan
Juniardi/Foto: Istimewa

Oleh: Juniardi

SETIAP manusia pasti pernah marah, apapun itu sebabnya. Banyak cara orang meluapkan kemarahannya atau bisa saja disesuaikan dengan pemicu kemarahannya. Apalagi pemimpin yang suka marah marah. Karena lagi trending di Lampung soal pemimpin yang sukanya marah marah.

Dari berbagai refrensi menyebutkan hakikat marah itu setidaknya terbagi dua, yaitu pertama marah yang terpuji, yaitu marah yang dilakukan untuk membela diri, membela agama dan membela kehormatan, atau menolong orang yang didzalimi.

Kedua marah yang tercela, ini merupakan marah yang dilakukan atas dasar balas dendam atau keegoisan diri sendiri. Marah yang tidak untuk menegakkan kebenaran atau marah yang diiringi dengan perbuatan tercela lainnya.

Lagi serius baca baca soal pemimpin yang suka marah marah, tiba tiba seorang senior ku di kampus mampir, keruang kerja. Masuk dengan salam, lalu melirih labtob, “lagi cari regresi sifa pemarah ya,” ucapnya memancing pembicaraan.

Tanpa diminta dia kemudian cerita, bahwa cara setiap orang untuk meluapkan amarah pasti berbeda-beda. Seolah olah dia paham pikiran saya. Maklum, dia senior dalam hati saya. “Salah-satunya ketika ada masalah, merasa kesal, maka biasanya secara tidak langsung pasti kerap meluapkan emosi dengan kemarahan,” katanya.

Namun, dia bilang hal ini dapat menjadi kebiasaan apabila kemarahan tersebut tidak dapat dikontrol. Karena umumnya memiliki jiwa pemarah membuat orang menjadi seorang yang pemberontak dan tidak suka nasihat. Padahal orang bijak mengatakan sosok pemarah hanya merugikan diri sendiri.
“Kamu harus ingat Bro, orang tua jaman dulu menyebutkan menjadi pemarah itu dapat merugikan, bahkan kita bisa sulit menjadi pemimpin. Karena pemimpin yang baik adalah ketika dia mampu menghargai dan membantu anggotanya agar tim yang ia pimpin semakin unggul. Bukan sebaliknya, selalu marah dan menuntut ini-itu agar anggotamu harus bekerja dengan sempurna,” ledeknya.

Kemudian dia melanjutkan, sifat orang pemarah itu harus siap siap diacuhkan orang orang disekitarnya, dan ini biasanya tanpa disadari. Orang orang yang memperhatikan sikap buruk kita itu akan menghindar dan mereka bisa jadi tidak akan menghargai kita.

Ada lagi yang fatal bagi sifat, lanjit terus bicara, bahwa pemarah adalah bisa membuat sulit mengendalikan keadaan. Sehingga lebih sering marah daripada sabar. Ini bukan hanya berdampak pada hari ini tetapi mempengaruhi masa depan. Kesuksesan di masa depan akan hilang begitu saja jika menanamkan dalam diri untuk menjadi pemarah.

Satu lagi, ucap dia sambil jeda menghisap rokok, pemarah itu bisa menurunkan rasa perrcaya diri. Ketika menghadapi segala sesuatu dengan kemarahan pasti lambat-laun percaya diri menurun. Orang sekitar tidak akan menghargai lagi. Dari sifat buruk pemarah ini dapat menjadikan monster buat orang lain.

Saya coba menyela dengan mengatakan, ya pemarah juga rentan kena penyakit, terutama stroke. Suka marah-marah akan menambah lebih rentan terkena stroke. Menjadi emosi dan meluapkannya dengan berlebihan pasti terbawa pikiran.

Dari pikiran membuat sulit mengontrol tekanan darah sehingga tinggi. Jika sudah stroke pasti akan diserang penyakit lainnya. Bayangkan saja, dari hal sepele bisa membuat rugi dari segi kesehatan.

Tanda Tidak Kompeten

Mudah marah, kasar, dan arogan dalam bersikap merupakan tanda-tanda seseorang yang tidak kompeten dalam memimpin sebuah tim kerja. Setidaknya begitulah hasil studi yang dipublikasikan oleh Washington Post berdasarkan pernyataan dari seorang psikolog bernama Ashley Merryman, yang pernah dilansir kompas.com.

Merryman menuliskan bahwa pemimpin yang rendah hati lebih efektif dan produktif dalam bekerja. Dia menambahkan bahwa sikap arogan dan kasar tidak menjadi kriteria psikologis yang ideal untuk menjadi seorang pemimpin.

Studi yang sempat dipublikasikan oleh jurnal Personality and Individual Differences menunjukkan bahwa responden yang mengakui, tidak selalu benar dan bersedia berubah pikiran jika terbukti salah ditemukan menjalani kepemimpinan dengan bijak serta efektif.

Sebaliknya, pemimpin yang selalu merasa benar justru menunjukkan sikap negatif selama menjalani tugas menjadi ketua di sebuah tim kerja. Studi yang melibatkan 155 partisipan ini meminta mereka untuk membaca 40 daftar pernyataan.

Kemudian, partisipan diminta untuk mengidentifikasikan pernyataan tersebut yang hadir dalam 60 kalimat. Ternyata, partisipan yang rendah hati lebih cerdas dan cepat dalam menemukan 40 pernyataan dalam sejumlah kalimat. Namun, partisipan yang arogan bersikeras bahwa hasil mereka yang salah itu adalah jawaban paling benar.

Hasil studi ini pun dikuatkan oleh studi lain yang ditayangkan oleh Journal of Management yang menyatakan bahwa jumlah karyawan yang keluar masuk sangat rendah pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang profesional yang rendah hati dan tidak sombong.

Selain itu, perusahaan dengan pemimpin yang rendah hati menghasilkan kepuasan karyawan bekerja yang tinggi, performa bisnis menguat, dan solidaritas karyawan yang tinggi.

“Pemimpin yang arogan terlalu bodoh untuk mengakui kesalahan mereka. Ini dinamakan Duning-Krueger Effect. Artinya, mereka merasa apa yang merek lakukan selalu benar. Kenyataannya, mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka tahu itu sedikit dan tidak penting,” urai Jessia Collet, seorang asisten profesor dari University of Notre Dame.

Akhirnya kita sepakat, mengapa tak menularkan kedamaian buat orang lain, yang banyak memberikan keuntungan daripada memelihara sifat buruk sebagai pemarah. ***

Juniardi adalah  Praktisi Pers

  • Bagikan
You cannot copy content of this page