Beranda News Budaya “Marhabanan”, Tradisi Warga Asli Banten di Lampung Usai Shalat Idul Fitri

“Marhabanan”, Tradisi Warga Asli Banten di Lampung Usai Shalat Idul Fitri

2554
BERBAGI
Persiapan “Marhabanan” di Mushola Al-Wustho Gulak-Galik, Telukbetung Utara, Bandarlampung

SEUSAI Shalat Idul Fitri, di Mushola Al Wustho, di Gang Langgar, Kelurahan Gulak-Galik, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung, biasanya para pria dewasa tidak beranjak pergi. Setelah saling bermaafaan di mushala, warga suku Jaseng (Jawa Serang) itu duduk melingkar di dalam mushala untuk menggelar acara “Marhabanan”.

Biasanya, pada acara itu ada satu atau beberapa baru yang baru lahir akan diberi nama. Pada acara “Marhabanan” itulah bayi yang baru lahir dan belum diberi nama akan diberi nama. Biasanya, bayi akan diletakkan di tengah-tengah lingkaran jamaah. Bayi-bayi yang umumnya diberi nama yang mengandung unsur kata “Ramadan” dan “Fitri” itu diletakkan dalam posisi berjajar.

Beberapa pria lain membawa beberapa tas plastik warna hitam berisi nasi beserta lauk-pauk. Yang lainnya membawa hiasan “kembang telur” yang terbuat dari telur yang dihiasi dengan kertas warna-wani, diikat dengan benang, dan dihubungkan dengan bilah bambu seperti lidi. Telur hias yang berbentuk seperti “joran” (alat memancing ikan) itu juga ditempeli uang kertas  senilai Rp 1.000 atau Rp 2.000 dan ditancapkan pada batang pohon pisang yang juga sudah dihias.

“Marhabanan” semacam itu pada dasarnya adalah doa keselamatan bagi bayi. Jumlah bayi yang akan menjadi ‘peserta’ Marhabanan tergantung pada berapa banyak bayi yang dilahirkan oleh warga di sekitar Mushala Al-Wustho.

Beberapa bungkus nasi dan “kembang telur” yang dibawa ke mushola merupakan sumbangan dari para orang tua bayi. Nantinya, nasi dan “kembang telur” itu akan dibagi-bagikan kepada peserta “Marhabanan”.

Para orang tua bayi sengaja melakukan “Marhabanan” di mushola sehabis shalat Idul Fitri agar bisa langsung didoakan oleh para jamaah mushola sekaligus bisa menghemat biaya. Sebab, kalau dirayakan sendiri di rumah, biayanya bisa mencapai jutaan rupiah. Itulah sebabnya, sehabis shalat Idul Fitri tiap tahunnya selalu ada “Marhabanan” untuk beberapa bayi yang baru lahir.

Di Mushola Al Wustho, “Marhabanan” usai Shalat Idul Fitri lebih sering dipimpin oleh oleh Ustad Syuaib. Ia adalah ustad tertua di lingkungan Mushola Al Wustho.

Ketika semuanya telah siap, akan terdengarlah lengking suara puluhan jamaah yang dipimpin Abah Syuaib: “Marhaban yaa marhaban yaa marhaban, marhaban jaddal husaini, marhaban. Yaa nabii salaam ‘alaika yaa rasuul salaam ‘alaika. Yaa habiib salaam ‘alaika shalawaatullaah ‘alaika. Asyraqal badru’alainaa fakhtafatminhul buduruu (Selamat datang, selamat datang wahai kakek Hasan dan Husein, selamat datang. Wahai Nabi, semoga kesejahteraan selalu melimpah kepadamu. Wahai Rasul, semoga kesejahteraan selalu melimpah kepadamu. Wahai kekasih, semoga kesejahteraan selalu melimpah kepadamu. Semoga rahmat Allah selalu tercurah kepadamu. Telah terbit bulan purnama kepada kita. Maka bersembunyi dan suramlah semua bulan dibandingkan bulan purnama itu…”

Kalimat puji-pujian itu disuarakan berulang-ulang. Puji-pujian itu  merupakan penggalan dari syair “Marhabanan”. Untuk mendendangkan teks penuh syair tersebut perlu waktu sekitar satu jam. Orang suku Banten di Lampung — lebih dikenal sebagai Jaseng atau Jawa Serang– menyebut bait-baitsebagai “Marhabanan”.  Namun, dalam sejarah Islam dunia, syair itu biasa disebut Syair Al-Barzanji.

Judul asli syair itu sebenarnya adalah Iqd al Jawahir (Kalung Permata) karya Syekh Ja`far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim, seorang hakim dan sastrawan asal Madinah (1690—1766).

Awalnya, syair itu berbentuk prosa, tetapi kemudian dimodifikasi ke dalam bentuk syair. Popularitas syair itu kemudian sampai ke beberapa belahan  dunia, termasuk Indonesia.

Al Barjanji sendiri merupakan syair puisi yang terbagai atas 2 bagian yaitu Natsar dan Nazhom. Natsar mencakup 19 sub-bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi “ah” pada tiap-tiap rima akhir. Keseluruhnya menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW, mulai saat-saat menjelang Nabi dilahirkan hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nazhom terdiri dari 16 subbagian berisi 205 untaian syair penghormatan, puji-pujian akan  keteladanan Nabi SAW, dengan olahan rima akhir  berbunyi “nun”.

Bersamaan dengan dendang syair itu, keenam bayi itu digendong ayah masih-masih untuk berkeliling di depan jamaah. Satu per satu bayi beberapa helai rambut bayi dipotong dengan gunting oleh anggota jamaah paling tua atau yang dianggap tokoh. Setelah syair selesai didendangkan, bayi-bayi itu kembali ditidurkan dalam posisi berjajar untuk didoakan.

Selain sebagai tradisi menyambut bayi baru lahir, di Lampung “Marhabanan” juga biasa dipakai untuk upacara tradisi pernikahan dan peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad saw (Maulid Nabi. Membacakan “Marhabanan” atau Syair Barzarji diyakini sebagian umat Islam bisa meningkatkan keimanan dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Tradisi “Marhabanan” bagi bayi yang baru lahir bertujuan untuk mengindentikkan bayi yang masih suci dan bersih itu dengan Nabi Muhammad saw. Seolah-olah bayi yang baru lahir atau datang ini akan membawa berkah kepada keluarganya seperti kedatangan Nabi Muhammad yang dianggap sebagai suatu berkah dari Allah oleh penduduk Madinah.

“Marhabanan” atau melantunkan syair-syair Al Barzanji adalah tradisi, bukan ibadah yang diajarkan Nabi Muhammad atau agama Islam.

Agama Islam sebenarnya tidak mengharuskan bayi yang baru lahir disambut dengan upacara tradisi seperti itu. Pengucapan syair-syair Al Barzanji saat bayi baru lahir lebih sebagai tradisi.

Di Indonesia, biasanya berkembang di lingkungan Nahdatul Ulama atau warga  Muslim di pesisir Pantai Utara Jawa.

Oyos Saroso HN

Loading...