Beranda Kolom Kopi Sore Maria

Maria

455
BERBAGI

Rois Said

Sepagi itu Maria sudah datang ke rumah saya. Sisa terpaan angin cukup terlihat di muka dan rambutnya, meskipun bedak dan gincunya tidak luntur. Pagi itu dia harus membagi waktu antara mengantar anaknya ke sekolah dengan menjemput istri saya untuk dibawa ke puskesmas.

“Maaf ya, Pak, saya agak maksa. Soalnya ini tanggung jawab saya,” kata dia begitu saya persilakan masuk. Maria adalah single parent yang menjadi ketua penggerak Posyandu tempat istri saya cek timbangan anak dan imunisasi.

Maria datang tepat waktu. Malam sebelum pagi itu dia dan istri saya memang berbalas pesan. Dia mendesak istri untuk menjalani pemeriksaan serius terkait demam yang diidap selama tiga hari belakangan. Dia disokong penuh oleh dokter puskesmas yang menjadi pembinanya. Kekhawatiran Maria dan pihak puskesmas sangat tinggi mengingat Demam Berdarah Dangue (DBD) tengah mewabah, meskipun sebelumnya saya sudah membawa istri ke klinik langganan.

Saya tawarkan minum, Maria menolak. Dia mengaku sedang tirakat, puasa selama 24 jam penuh. “Oh, maaf,” kata saya. Dengan ketidaktahuan, saya bertanya seputar itu. Dia cerita, seringkali menjalankan tirakat ketika memiliki sebuah tujuan yang ingin dicapai. Dia juga menjelaskan bahwa di Nasrani juga ada puasa. Tentu saja ada banyak perbedaan dengan puasanya Islam.

Maria terlahir sebagai penganut Katolik dari garis ayahnya yang asal Surakarta. Sementara ibunya asli Batak penganut Islam. Karena menikah dengan pria Manado, ia beralih menjadi Kristen. Kata dia, peralihan keyakinan ini terjadi sangat alot karena sejumlah perbedaan antara Kristen dan Katolik. Namun, setelah menjalani ritual untuk meminta petunjuk Tuhan—saya sendiri tidak paham istilahnya, Maria akhirnya ikhlas beralih menjadi Kristen.

Bertahun-tahun hidup bertetangga, baru kali ini saya mengenal dengan lebih lengkap identitas dia. Jujur saja, selama ini saya agak sungkan menyapa dia. Saya terjebak oleh garis wajahnya yang keras, juga kalimat-kalimat tegas yang terdengar saat dia bicara.

Pagi itu Maria berhasil membuat saya malu. Dengan tugasnya sebagai ketua penggerak Posyandu dia mengambil alih tugas yang sebenarnya tanggung jawab saya sebagai suami dari istri saya. Dia memahami saya sedang terhimpit pekerjaan, padahal dia sendiri bukan perempuan kurang kerjaan yang sukanya arisan atau hang out.

Dia kemudian membonceng istri saya dengan sepeda motor matic tua yang sehari-hari menjadi tunggangannya. Mengantar ke puskesmas, hingga akhirnya istri saya ternyata harus dirujuk ke Rumah Sakit Polri di Kramatjati. Bukan hanya menemani, Maria bergerak cepat dengan langkah-langkah tepat untuk memastikan istri saya mendapatkan kamar perawatan.

Bekal penyuluhan sebagai ketua penggerak Posyandu membuat Maria punya cukup wawasan dan pemahaman soal prosedur-prosedur di rumah sakit yang harus ditempuh. Istri saya cerita, dia bahkan sempat membuat seorang petugas paramedis yang “bermain-main” dengan peraturan kena skakmat. Itu terjadi di rumah sakit sebelumnya.

Sebelum ke RS Polri, istri saya sempat dibawa ke sebuah rumah sakit lain tetapi ditolak dengan alasan kamar penuh. Entah alasan itu benar atau tidak. Apakah karena faktor istri saya menggunakan Kartu Indonesia Sehat atau bukan, saya juga tidak tahu. Yang jelas, ketika Maria meminta untuk difoto sebagai bukti bahwa kamar penuh, sang petugas lalu segera memberi rekomendasi agar istri saya dirujuk lagi ke RS Polri sebagai rumah sakit rujukan tingkat I.

Maria baru istirahat ketika saya sudah berada di rumah sakit, dan tinggal menunggu kamar perawatan siap dimasuki. Ia datang lagi setelah sebelumnya sempat pergi untuk kembali berbagi waktu dengan kepentingan anaknya di sekolah.

Kedatangan dia untuk memastikan istri saya sudah ada yang menemani atau belum. Jikapun belum, dia sudah bersiap juga untuk menemani minimal sampai istri saya masuk kamar perawatan. Kepada kami dia pamit setelah semua aman. Tidak ada pesan sponsor atau pembicaraan politik meskipun hawa di luar sangat panas oleh uap pemilu. Semua digerakkan oleh tanggung jawab yang dia miliki, dan rasa kemanusiaannya yang mendalam.

Sangat membahagiakan memiliki tetangga seperti Maria. Itu melengkapi kebahagiaan saya ketika istri dipersilakan pulang setelah tiga hari menjalani opname. Waktu itu suster dengan senyum manisnya mempersilakan kami pulang tanpa harus meninggalkan uang sepeser pun. Hanya tanda tangan saya di atas berkas KIS dan persyaratan lainnya. Cuma itu. Saya jelas heran, tapi tentu bahagia.

 

 

Loading...