Beranda Pendidikan Maryam Juara Lomba Baca Cerita Rakyat Guru SD se-Provinsi Lampung

Maryam Juara Lomba Baca Cerita Rakyat Guru SD se-Provinsi Lampung

313
BERBAGI

Siti Qodratin Aulia/Teraslampung.com

Farida Ekawati, guru SD Darma Bangsa juara II (foto: dok KBPL)

Bandarlampung—Maryam, guru SDIT Permata Bunda I, Bandarlampung memeroleh nilai terttinggi pada Lomba Baca Cerita Rakyat bagi Guru SD se-Provinsi Lampung yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Lampung (KBPL), Rabu (30/4).

Sebagai pengumpul nilai tertinggi, Maryam didapuk juara pertama dan berhak membawa pulang uang pembinaan Rp2.500 ribu.

Sedang posisi kedua diraih Farida Ekawati, guru SD Darma Bangsa, Bandarlampung, sedangkan juara ketiga diberikan kepada Indriyani (Guru SD Al-Kautsar, Bandarlampung). Kemudian harapan I-III: Budi Kurniawan (SDIT Permata Bunda, Bandarlampung), Tri Hayati (SD Ar-Raudhah, Bandarlampung), dan Okis Ulandari (SDN 1 Buyut Udik, Gunung Sugih, Lampung Tengah).

Sebelumnya, Ketua Dewan Juri sekaligus Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Drs. Muhammad Muis, M.Hum saat member evaluasi mengatakan, karya sastra merupakan mimesis dari realitas.

“Karena itu, saat karya sastra dipanggungkan baik dengan cara membaca atau teaterikal, sedapat mungkin mendekati realitas-realitas yang direkam dalam sastra,” kata dia.

Muis melihat banyak peserta yang tampil datar. Sehingga, kata dia lagi, tidak terasa impresif saat di panggung. “Selain datar, penampilan menjadi hambar. Peserta tak lebih hanya membaca teks, dan tidak ada upaya penghayatan dan pengayaan pada materi,” katanya.

Peserta juga tak bisa membesakan antara pembacaan cerita rakyat dengan mendongeng. Akibatnya menjadi kabur, apakah sedang mendongeng atau tengah membacakan cerita rakyat.

“Umumnya karena peserta adalah guru SD, seolah-olah berada di depan murid dan sang guru mendongeng. Bahkan, beberapa peserta memunculkan teaterikal dan naskah pun dihapal. Padahal, ini lomba baca bukan menghapal atau monolog,” kata Isbedy Stiawan ZS, juri salainnya.

Hal sama diakui Drs. Iqbal Hilal, M.Pd., dosen FKIP Universitas Lampung. Iqbal mengatakan, umumnya peserta lomba bukan membacakan cerita rakyat agar pendengar menikmati. “Aasyik sendiri atau malah keluar dari konteks cerita yang dibawakan,” jelasnya.

Penutup lomba dari 10 tangkai yang dilombakan sepanjang April 2014 sebagai bagian program pemasyarakat bahasa dan sastra tersebut, menampilkan 31 guru SD. Lomba Baca Cerita Rakyat (Lampung) ini dimulai pukul 09.00 hingga pukul 15.30.

Selain lomba membaca cerita rakyat, yang telah dolombakan adalah musikalisasi puisi, mendongeng, baca puisi, pewara, mengajar, berbalas pantun, dendang syair, cerdas cermat.

Pada kesempatan sama, KBPL menyerahkan hadiah bagi pemenang penulisan berita berbahasa Indonesia terbaik bagi media cetak dan elektronik di Lampung. 

Diberitakan sebelumnya, harian Radar Lampung berhasil menyisihkan para pesaingnya pada lomba media cetak di Lampung berbahasa Indonesia terbaik. Berita Radar Lampung berjudul “Rekening Ratu Tilang Dilacak” yang ditulis Eka Yuliana dan dimuat di Radar Lampung pada 19 Februari 2014 berhasil mengalahkan 38 tulisan lainnya.

Juara kedua diraih Lampung Post untuk berita berjudul “Dana Saksi Keruk Uang” (Lampung Post, ditulis Hesma Eryani), sementara juara tiga dan empat berturut turut Elshinta dari Harian Suara Lampung dengan tulisan berjudul “Lima Rumah Ludes Dilalap Si Jago Merah” dan Teguh Prasetyo dari Tribun Lampung dengan tulisan “Panji Bacakan Puisi Sambil Tengkurap”.

Keempat jurnalis menerima piagam uang sebagai penghargaan yang diserahkan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Drs. Muhammad Muis, M.Hum, Rabu (30/4) sore.

Loading...