Masha & The Bear dan Cara Rileks Melihat Drama di Senayan

  • Bagikan

Oleh Alexander GB

Satu minggu sebelumnya, ketika Robert Koplak sedang menikmati segelas kopi di beranda, Junot yang sedang  menonton televisi di ruang tamu tak henti marah-marah.

Junot yang memang pemarah, dengan logat bahasa lokalnyadalam waktu sekejap mengeluarkan sejumlah umpatan, sumpah serapah berhamburan dari bibir lelaki yang tempo hari bekerja sebagaai staf percetakan di jalan Antasari.

Puncak kemarahan Junot adalah membanting gelas yang dipegangnya. Robert Komplak yang mendengar hanya tersenyum, lalu menghentikan aktifitasnya mengasah batu cempaka limau manis dengan daun pisang kering sejak setengah jam yang lalu. Robert bangkit dari kursi hijau dan mendekati Junot.

“Pindah chanel saja, Nonton  Masha and The Bear,”  ujar Robert Koplak yang tidak tahan mendengar Junot terus marah-marah.

“Kamu kira aku ini anak-anak?” Balas Junot ketus.

“Ya bukan. Kamu ini juga aneh, seperti baru sekarang melihat tingkah mereka. Memang begitulah adanya tingkah politisi kita, anggota dewan yang terhormat itu. Dan kebutulan itu menjadi topik menarik hampir semua stasiun televisi kita.Sejak dulu kamu ini hobi bener ya dengan berita politik, lalu mengeluh pusing, tensi darahmu naik. Kala uterus menerus begitu kan bahaya. Mendingan kamu lihat Masha,”
“Iya apa mereka tidak tahu kebutuhan bangsa ini? Apa mereka kalau lagi rapat itu tidak sedikit pun mikirin rakyat kecil yang sudah memilihnya?”

“Bukan tidak tahu. Mereka itu tahu. Mereka orang-orang pinter semua. Mereka sengaja ga mau tahu. Lah modal untuk jadi anggota saja kan mahal juga. Jadi sekarang mereka harus mulangin modal dulu,”

“Iya, gw ngerti, tapi apa mereka itu ga terbetik sedikit untuk malu atau yang lainnya. Seolah-olah mereka itu sudah tidak punya hati lagi.”

“Kalau mereka punya hati, mereka pasti menolak ke senayan. Jadi rileks saja. Mendingan ngasah batu kan?”

“Kamu memang sama gilanya dengan mereka. Dasar Koplak. Saya itu ingin melihat kabar bangsa kita, Negara kita ini. Kalau kita tidak peduli, kalau semua orang apatis, terus untuk apalagi kita hidup dan berbangsa hingga sekarang?”

“Bukan tidak peduli. Kita itu memang tidak bisa peduli. Lagipula jangan terlalu heroiklah Jun ngobrolin tema-tema seperi ini ga ada gunanya. Sedikit rileklah,”

“Rileks,rileks, kalau bangsa ini hancur, kalau aset-aset negara jatuh ke tangan asing, kalau BBM terus naik,  kalau anggota dewan itu makin semena-mena, hidup kita kan kena imbasnya juga,”

“Junot, Junot…. Mereka saja yang mencalonkan dan akhirnya diberi kesempatan untuk mengelola bangsa, hanya mikirin diri mereka sendiri, paling besar mikirin kelompok mereka saja. Nah kamu yang kutu kupret tidak usah sok mikirin bangsa yang jauh-jauh,”

“Lalu untuk apa kamu sok-sok turun ke jalan dengan segelintir mahasiswa kemarin?”

“Nah, itu beda lagi. Itu jelas. Kita hanya menyuarakan suara atau aspirasi kita,”

“Sama saja denganku bukan?”

“Beda lah. Kamu cuma marah-marah di depan tivi. Kami turun ke jalan, diliput koran, kadang ditahan polisi dan  diserang demonstran yang pro mereka. Lagi pula faktanya kamu kalau sudah di depan pejabat berubah juga. Di sini sok tidak setuju, marah-marah,  nah giliran ketemu cak sopan nian, sampai badan jadi mengkerut dan sedikit membungkuk. Apaan itu?”

Junot diam.

“Nah, okelah Masha dalam bahasa Russia adalah merupakan panggilan kecil dari Maria yang merupakan nama umum di gunakan. Masha dalam karakter kartun Masha and Bear ini adalah seorang gadis kecil yang super aktif dan cenderung memiliki sifat yang agak jahil. Dia sangat senang bermain-main dan mengganggu teman-teman karakter lain di dalam kartun ini.

Masha adalah anak gadis kecil usia TK yang baik namun hiperaktif. Kelakuan Masha biasanya menjadi penyebab jengkel dan sakit kepala karakter lain di kartun ini.  Masha paling senang mengucapkan “Come Play With Me” yang tentunya membuat semua melarikan diri. Masha memiliki impian untuk segera tumbuh besar. Masha selalu memakai penutup kepala seperti kerudung. Masha punya mata yang indah dan wajah imut.”

Robert Koplak berhenti berbicara sebentar, menyalakan rokok dan menghisapnya. Junot diam.

Robert Melanjutkan: “Nah anggota dewan kita itu tingkahnya kan hampir sama dengan Masha, yang hiperaktif. Yang membuat jengkel rakyatnya. Kalau kampanye mereka obral janji, Pilih saya, Pilih saya. Mari membangun bangsa ini dengan saya. Masha selalu pakai npenutup kepala, politisi kita pakai penutup juga. Musang berbulu domba.

Bedanya, sesungguhnya Masha itu baik dan imut. Nah, politisi kita susah menemukan sisi baiknya, dan wajahnya ngenekin. Selain Masha karakter utama adala sang beruang. Yang selalu bersabar menghadapi kenakalan dan kejahilan Masha. Seperti tingkah rakyat yang hanya bisa mengelus dada sambil berujar sabar-sabar.

Meski begitu rakyat kita masih sering berdoa agar mereka bertaubat, agar mereka kembali ke jalan yang benar sehingga bisa sama-sama membangun Negara ini. Si beruang yang selalu baik dan menjadi korban kejahilan Masha yang hiperaktif,”

Junot hendak menyela. Tapi Robert memberi isyarat dagar Junot tetap diam.

“Nah tontonlah Masha and The Bear. Kalau sudah nonton, setiap para politisi itu muncul kamu ganti dengan wajah Masha. Kamu akan lebih rileks. Cobalah.”

Junot berpikir dan menimbang-nimbang. Barangkali ada benarnya juga si Koplak ini.

“Kadang-kadang idemu oke juga ya.”

“Minimal kamu selamat dari serangan jantung atau darah tinggi.

Iya kan?”

Junot manggut-manggut. Sejak itu Junot suka menonton Masha and The Bear. Junot jadi mudah tersenyum.  Demikian halnya ketika melihat tingkah anggota dewan yang ada di Senayan. Benar, mereka seperti Masha yang selalu usil, merusak ini dan itu,  dan Si Beruang adalah rakyat, yang dengan sabar menerima kenakalan para politisi dan penguasa, yang seperti tak pernah puas menganggkangi rakyatnya.

Oleh sebab itu Junot akhirnya berpendapat, kita juga salah menyikapi mereka.  Mereka tak pantas di sebuat anggota dewan, mereka lebih pas kita padankan dengan Masha. Lalu tontonlah.

Barangkali kekesalan dan kemarahan kita akan menurun. Dan itu penting. Sebab kita harus menjalani kehidupan berbangsa yang entah sampai kapan tidak jelas arahnya seperti ini. Masih banyak hal yang mesti kita kerjakan.

 

  • Bagikan