Beranda Views Kopi Sore Masih Ada Dokter yang Patut Dimuliakan?

Masih Ada Dokter yang Patut Dimuliakan?

920
BERBAGI

Handrawan Nadesul

Dokter disumpah Hippocrates begitu lulus. Sumpah berarti janji terhadap Yang Maha Kuasa. Tapi apakah dalam praktiknya semua mentaati setiap yang diucapkannya dalam bersumpah, itu yang sekarang agaknya menjadi krisis nilai kalangan profesional medis.

Salah satu sumpah itu, bahwa hendaknya memperlakukan teman sejawat sebagai saudara kandung. Penerapan dalam praktik, tidak memungut honorarium dari teman sejawat bila dimintai pertolongan medis. Namun dalam kenyataannya di kita, tidak semua kolega dokter memberikan free of charge kepada teman sejawatnya.

Dihukumkah karena dokter bersikap demikian? Tentu tidak. Cuma secara etika moral dinilai tidak terpuji. Demikian pula halnya untuk pelanggaran Sumpah Hippocrates yang lain.

Kalau masih ada sejawat dokter yang masih mentaati Sumpah yang pernah diucapkannya, sungguh kejadian yang sekarang agaknya semakin langka. Saya mendapatkannya dari seorang Ahli Orthopedi, sejawat AW di RS Premier Bintaro Tangerang untuk tindakan bedah selama tidak kurang 3 jam, dengan sedikit penyulit, dan layanannya diberikan secara cuma-cuma.

Mohon maaf, saya tidak membesar-besarakan kalau harus mengatakan masih ada sejawat yang hanya sekadar berkonsultasi saja masih menarik honorarium dari teman sejawatnya.

Jadi, saya kira tidak berlebihan kalau sejawat AW yang berlelah 3 jam, membuang waktu dan tenaga untuk yang diberikan secara cuma-cuma, sungguh sikap profesi yang luar biasa. Padahal, merasa tidak enak karena operasi yang sama sebelumnya pun, tidak mau menerima honorarium serupiah pun, saya sebelumnya minta supaya ditarik honorarium saja, menghargai kepercayaan dan keprofesionalan operasi sebelumnya. Saya wanti-wanti menyampaikan itu dengan bersungguh, karena memang tidak mau menambah utang budi labih sering lagi. Namun tetap saja kali kedua pun tidak mau menerima bayaran honorarium saya.

Sungguh saya patut memberikan salut, dan angkat topi tinggi-tinggi bukan karena tidak perlu mengeluarkan honorarium, namun rasa kagum, dan penghargaan luar biasa di tengah semakin langka sejawat yang masih melakukan apa yang sudah diucapkan dalam sumpahnya (walk to talk) di zaman kiwari. Bahkan maaf, masih ada yang menjadikan layanan medis sebagai bisnis.

Bagi orang beradab, perbuatan sejawat itu sungguh patut dimuliakan. Perlu memperoleh penghormatan yang tinggi. Dan bagi sejawat yang bersangkutan sungguh perbuatan terpuji ini bakal bertumbuh menjadi berkat dan pahala yang berlimpah.

Salam hormat dan salut saya bagi sejawat AW. Saya kira akan semakin banyak orang yang mengirimkan berkat tak terhingga baginya, karena yang diberikan layanan medis cuma-cuma bukan hanya teman sejawat, konon para guru sekolah juga. RS Premier Bintaro sendiri ikut bangga memiliki pelayan medis yang orientasi praktik profesionalnya tidak semata komersial, melainkan berhati mulia.

Sungguh saya terharu.

 

*Handrawan Nadesul adalah seorang dokter dan sastrawan

Loading...