Beranda News Internasional Masjid di Afghanistan Dibom Saat Shalat Jumat, 62 Orang Tewas

Masjid di Afghanistan Dibom Saat Shalat Jumat, 62 Orang Tewas

187
BERBAGI
Seorang remaja mendapat pertolongan pertama setelah ledakan berlangsung di sebuah masjid di Provinsi Nangarhar, Afghanistan. (Foto: EPA via BBC).
Seorang remaja mendapat pertolongan pertama setelah ledakan berlangsung di sebuah masjid di Provinsi Nangarhar, Afghanistan. (Foto: EPA via BBC).

TERASLAMPUNG.COM — Sedikitnya 62 orang tewas dan puluhan lainnya cedera akibat ledakan bom saat salat Jumat di sebuah masjid di Distrik Haska Mina, sekitar 50 kilometer dari ibu kota provinsi, Jalalabad, Afghanistan, 18 Oktober 2019.

Sejumlah saksi mata menuturkan, ledakan bom tersebut menghancurkan atap masjid dan menyebabkan atap masjid ambruk.

Attaullah Khogyani, juru bicara gubernur provinsi, mengatakan  ledakan itu menewaskan 62 orang dan mencederai 36 lainnya. Seluruhnya adalah jemaah yang sedang menunaikan salat Jumat.

“Kejadian itu menyayat hati, saya menyaksikannya dengan mata sendiri,” kata tetua suku, Malik Mohammadi Gul Shinwari, kepada kantor berita Reuters.

Perwira polisi setempat, Tezab Khan, menyebutkan dirinya mendengar suara khotbah Mullah namun “suaranya tiba-tiba dibungkam dengan ledakan”.

“Ketika saya tiba di lokasi kejadian, orang-orang mencoba mengeluarkan jenazah dan korban luka yang tertimpa atap masjid,” tambahnya.

Sohrab Qaderi, anggota dewan provinsi di Nangarhar, mengingatkan jumlah korban dapat bertambah mengingat orang-orang “sedang berupaya mengeluarkan jenazah dari reruntuhan”.

Belum jelas pelaku pengeboman ini. Taliban membantah mereka bertanggung jawab.

Baik Taliban maupun kelompok ISIS diketahui aktif di kawasan itu.

Ledakan itu terjadi sehari setelah PBB mengatakan jumlah korban kematian warga sipil di Afghanistan pada musim panas ini mencapai taraf yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut PBB, sebanyak 1.174 orang tewas antara Juli dan September, periode kuartal paling mematikan sejak PBB melakukan pencatatan 10 tahun lalu.

Data PBB juga mengungkap bahwa 41% dari korban tewas sejak Januari adalah perempuan dan anak-anak.

Pasukan antipemerintah, kata PBB, merupakan pihak yang bertanggung jawab atas kematian warga sipil sejak permulaan 2019.

BBC

Loading...