Beranda Ekbis Bisnis Masuknya Semen China Menjadi Ancaman Industri Semen Nasional

Masuknya Semen China Menjadi Ancaman Industri Semen Nasional

317
BERBAGI
Pabrik semen milik PT Semen Gresik (sekarang PT Semen Indonesia) di Rembang, Jawa Tengah. Foto: Istimewa/CBFMRembang

TERASLAMPUNG.COM — Masuknya semen asal China yang diproduksi di dalam negeri ke pasaran Indonesia menimbulkan pro dan kontra. Hal itu karena semen asal Negeri Tirai Bambu itu dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan semen lokal.

Pabrik semen CONCH misalnya, menjual dengan harga yang sangat miring dibandingkan dengan Semen Tiga Roda, Semen Gresik, hingga Holcim.

Menurut anggota DPR RI dari Fraksi PKB Komisi VI, Nasim Khan, masuknya semen china yang di bawah harga pasar ke pasar Indonesia menjadi ancaman bagi produk semen dalam negeri.

“KPPU harus lebih jeli melihat apakah harga yang ditawarkan Semen China bukan kebijakan predatory pricing dari produsen semen tersebut,” tutur Nasim Khan, Minggu (21/07/2019).

Nasim khawatir dengan masuknya produk semen China itu membuat persaingan usaha menjadi tidak sehat dan membuat industri semen lokal bangkrut.

Saat ini pasar semen domestik mengalami kelebihan pasokan. Disinyalir, hal ini disebabkan gencarnya semen asal China yang menjual harga di bawah pasaran di pasar semen Indonesia.

Pengusaha sekaligus politikus Gerindra, Andre Rosiade, mengatakan hal ini tidak boleh dibiarkan karena akan merugikan produk semen Indonesia.

“Pasar semen lokal dalam kondisi sangat memprihatinkan atau terancam bangkrut. Kenapa itu bisa terjadi karena ada kebijakan predatory pricing. Jadi industri semen lokal itu terancam karena semen asal China karena mereka terindikasi menjual dengan menggunakan predatory pricing sehingga semen kita yang dimotori Semen Indonesia Grup BUMN kita hancur berantakan,” kata Andre, belum lama ini, seperti dilansir liputan6.com.

Akibat kebijakan sepihak yang dilakukan produsen semen asal China, kata Andre, berdampak langsung terhadap penjualan hingga produksi semen dalam negeri yang menurun. Andre pun mencontohkan harga semen asal China jauh berbeda dengan semen lokal yang bisa dilihat di situs jual beli online.

“Pabrik Semen di Aceh, Semen Padang, Semen Baturaja, Semen Gresik, dan Semen Tonasa terpaksa menurunkan kapasitas produksinya, karena semen mereka tidak laku karena kalah bersaing. Di situs jual beli online harga semen lokal itu berkisar di Rp 51 ribu sedangkan semen asal Tiongkok berkisar di hargap Rp 34 ribu,” katanya.

Andre menduga jika ada agenda semen asal China ingin mengambil alih pasar semen di Indonesia dengan langkah awal menjual harga semennya di pasaran atau predatory pricing tersebut.

“Jika mereka berhasil menghancurkan pasar perusahaan semen dalam negeri, menurutnya tidak menutup kemungkinan jika nantinya perusahaan-perusahaan semen dalam negeri akan diambil alih oleh perusahaan semen asal China. Mereka terindikasi ingin menghancutkan semen lokal, setelah hancur mereka akan take over industri semen dalam negeri ini dan ini membahayakan industri strategis kita yaitu industri semen,” kata Andre.

Loading...