Materi Legalkan Pacaran di Kurikulum 2013 Jadi Sorotan MUI

  • Bagikan



Malang Teraslampung–Pro dan kontra kurikulum 2013 masih menjadi perbincangan dikalangan masyarakat pendidik tetapi pemerintah telah menetapkan sebagai kurikulum baru yang diterapkan mulai tahun 2014. Dalam beberapa hari ini munculnya polemik baru pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk kelas XI atau kelas 2 SMA menjadi sorotan publik di sosial media dan menjadi perhatian serius oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yakni materi dan gambar dalam tema gaya pacaran sehat dalam buku teks pelajaran tersebut.

Salah satu materi dalam buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) untuk kelas XI atau kelas 2 SMA, terdapat tema pacaran sehat. Tema itu ada di BAB X yang berjudul Memahami Dampak Seks Bebas.

Disebutkan, gaya pacaran sehat terdiri dari beberapa macam unsur, yaitu sehat fisik, sehat emosional, sehat sosial dan sehat seksual. Dalam buku teks PJOK yang menjadi polemik adalah, gambar yang digunakan dalam buku itu, tepatnya di halaman 129 adalah karikatur lelaki dan perempuan menggunakan peci dan jilbab. Gambar itu dianggap tidak memiliki korelasi yang tepat dengan gaya pacaran sehat yang dimaksud.

Dari perestiwa tersebut, buku materi pelajaran PJOK kontan mengundang reaksi publik terutama jejaring media sosial seperti Facebook salah satu yang mengomentarinya akun atas nama Evi Nurul dengan mengatakan,”wah ini ngga beres K13, nga ada korelasinya baik materi dan gambar”, demikina status akun Evi.

Lalu Duta Atmaja dalam akun facebooknya menuliskan, “Ini maksudnya pacaran Islami kali ya? Sehat fisik, tidak ada kekerasan dalam berpacaran, dilarang saling memukul, Tidak melakukan hubungan yg berisiko, gambarnya berbusana peci dan jilbaber…Ini siapa yg bikin materi berpacaran?”

Lebih lanjut ia berkomentar lagi kalau materi yang dipaparkan dalam pacaran sehat seakan-akan adalah hal yang Islami. Padahal, menurut dia, justru mengarahkan kepada maksiat, yakni zina mata, hati, kulit, telinga di dalam Islam.  “Lucu sekaligus miris,” tulis Duta lagi.

Ada juga akun atas nama akun Riski Kurnia Ariyanti yang melontarkan,  “Harusnya sih nggak usah masuk di penjaskes tapi masuk ke pelajaran tambahan gitu kayak chracter building atau muatan bimbingan konseling, terlepas dari niat baik yang ingin disampaikan penulis tapi ya mbok gambarnya jangan pake jilbab panjang gitu,” kata akun Riski Kurnia Ariyanti.

Sementara informasi yang dihimpun Teraslampung.com, beberapa  respons masyarakat pendidik umumnya menyatakan keprihatinan. afar Sabarudin, S.Pd pengajar di SMPN 2 Kupang, misalnya,   mengatakan materi seperti itu  bisa membuat penurunan makna jilbab sebenarnya.

“Ujungnya nanti ada diskotek sehat (islami), selingkuh sehat (islami) dan macam-macam lagi, yang penting pelakunya berbusana muslim, lakinya pakai peci dan perempuannya pakai jilbab. Waduh…ini lucu sekali,” ujarnya.

Di buku tersebut di antaranya tertulis sejumlah tips agar tidak terbuai dalam aktivitas berpacaran. Salah satunya adalah hindari bacaan/film porno yang merangsang sebelum/selama pacaran.

Adanya materi gaya pacaran sehat dalam buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK)Kurikulum 2013 untuk siswa SMA, mendapat perhatian serius dari Majelis Ulama Indonesia. Ketua MUI Bidang Pendidikan, Anwar Abbas, seperti dilansir Republika mengatakan, kurikulum yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus memperhatikan keyakinan dan kepercayaan di masyarakat.

Adanya buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk kelas XI, yang di dalamnya terdapat tema pacaran sehat dinilai tidak memberikan pendidikan bagi remaja atau siswa SMA yang ada. Ia menjelaskan, dengan adanya pembelajaran tersebut berarti secara tidak langsung Pemerintah memperbolehkan atau melegalkan pacaran. Padahal secara spiritualitas pacaran sangat tidak sehat.

“Berarti sama saja mengatakan pacaran itu boleh. Tuhan aja melarang kenapa kemendikbud membolehkan? Tidak etis Kemendikbud membuat kurikulum seperti itu karena bukan kapasitasnya. Itu kapasitas ulama,”papar Anwar Abbas sebagaimana dikutip melalui Republika.

Anwar Abbas juga menambahkan seharusnya kurikulum yang ada memberikan nilai-nilai baik. Termasuk bimbingan agar menjauhi pacaran dan menjalani hidup sehat agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Seharusnya secara edukasi jangan menyuruh. Jangan dilegalisir. Jika anak masih pacaran itu urusan mereka,” kata Anwar.

Aan Frimadona Rosa

  • Bagikan