Beranda News Bandarlampung May Day di Bandarlampung, Para Buruh Tuntut Pembebasan Daryati dari Hukuman Mati

May Day di Bandarlampung, Para Buruh Tuntut Pembebasan Daryati dari Hukuman Mati

366
BERBAGI
Peringatan May Day di Bundaran Tugu Adipura Bandarlampung, Selasa pagi (1 Mei 2018). Foto: teraslampung.com/dandy ibrahim
Peringatan May Day di Bundaran Tugu Adipura Bandarlampung, Selasa pagi (1 Mei 2018). Foto: teraslampung.com/dandy ibrahim

TERASLAMPUNG.COM –– Ratusan buruh/pekerja berkumpul di Bundaran Tugu Adipura (Tugu Gajah) Kota Bandarlampung untuk merayakan Hari Buruh Sedunia (May Day), 1 Mei 2018. Sebelumnya mereka berjalan kaki dari Gedung Juang (belas kantor DPRD) di depan Kantor Pos Tanjungkarang menuju Bundaran Adipura.

Pada peringatan May Day tersebut, Bundaran Adipura dipenuhi ratusan massa buruh mengenakan atribut serba berwarna merah yang mengatasnamakan Perjuangan Rakyat Lampung (PPRL) yang tergabung dari FSBKU-KSN, KPR, FMN, FSBMM, SP SEBAY, SERUNI, LBH Bandarlampung, SBMI, KPOP, AGRA, BEM U-KBM Unila, Persatuan Masyarakat Kampung Pasar Griya (PMKPG) dan lainnya dengan mengenakan atribut serba berwarna merah.

Sebelum berkumpul dan melakukan orasi di Bundaran Adipura, ratusan massa aksi buruh melakukan longmarct yakni berjalan mulai dari Jalan Radin Intan (depan Mall Ramayana) hingga menuju ke titik aksi di Bundaran Adipura.

Sembari berjalan, massa aksi buruh membentangkan spanduk yang bertuliskan tuntutan terhadap pemerintah serta membawa bendera, mereka juga terus meneriakkan yel-yel “Hidup para buruh…!”. Selain itu juga, masa buruh menggelar aksi teatrikal.

Aksi ribuan massa buruh tersebut, mendapat pengawalan ketat ratusan anggota kepolisian Polresta Bandarlampung dan Polsekta Tanjungkarang Barat.

Peserta aksi May Day tiba di Bundaran Gajah pukul.10.00 WIB. Mereka kemudian  membetuk lingkaran dan di tengah lingkaran ada peserta aksi yang melakukan aksi teatrikal

Selanjutnya, orasi dari perwakilan FSBMM. Orator meminta kenaikan upah buruh agar kehidupan mereka sejahtera. Dia juga meminta pemerintah untuk memberantas korupsi. Sebab menurutnya hak itu menjadi  penyebab kemiskinan di Indonesia.

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI),Yuni,  dalam orasinya menceritakan kondisi Daryati yang terancam hukuman mati di Singapura.

“Daryati menjadi TKI karena hidup miskin, untuk mengubah kehidupannya dia menjadi TKI dan minta dukungan dari pemerintah untuk lepas dari jerat hukuman mati,” katanya.

Dandy Ibrahim/Zainal Asikin

Loading...