Beranda Teras Berita May Day, SBMI: Lawan Kekerasan terhadap Buruh!

May Day, SBMI: Lawan Kekerasan terhadap Buruh!

165
BERBAGI

Aan Frimadona Rosa/Teraslampung.com

Para buruh menggelar aksi untuk memperingati hari buruh di depan Stasiun Kota Malang, Kamis (1/5/2014). Foto: dok Surya

Malang – May Day tahun terbilang istimewa karena merupakan kali pertama ditetapkannya 1 Mei sebagai hari libur nasional.Peringatan Hari Buruh  Internasional di Kota Malang tampak meriah. Aksi tidak hanya berupa unjuk rasa, tetapi juga panggung orasi serikat pekerja buruh di depan stasiun kereta api  kota Malang, diskusi, parade puisi, bazar buku, pemutaran film TKI, dan pameran foto.

Pada puncak kegiatan  hari buruh  kali ini, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Timur  bekerjasama dengan  Dewan Kesenian Malang (DKM) menghelat diskusi dengan tajuk ‘Upaya Meniadakan Kekerasan terhadap Buruh dan Meningkatan Taraf Kehidupan”.

Diskusi yang dihadiri berbagai aktivis,seniman,budayawan,akademisi,unsur pemerintah daerah dan puluhan buruh berlangsung di arena terbuka Dewan Kesenian Malang.

Jiati Ningsih, ketua SBMI Jawa Timur, mengatakan bahwa memperjuangkan tanggal 1 Mei menjadi hari buruh memerlukan waktu  puluhan, bahkan  ratusan tahun. Kini hasilnya di Indonesia hari buruh 1 Mei tiap tahunnya dinyatakan sebagai hari libur nasional.

Baca puisi untuk memperingati Hari Buruh di Malang. (Aan Frimadona Rosa)

Menurut Jiati, para buruh telah menyumbang pembangunan di planet bumi ini, tetapi nasib buruh  masih ibarat  tumbal bagi pemilik modal dan pejabat korup.

“Artinya perjuangan belum selesai dalam  konteks buruh migran. Misalnya, di NTT warga dari Larantuka, P. Adonara, Lembata, Solor dan sekitarnya, betapa infrastruktur pelayanan masih sangat tidak mudah. Masyarakat harus mengurus dokumen ke Kupang (kota provinsi) kalau ingin menjadi BMI/TKI, perlu waktu, lama, tenaga, serta biaya yang mahal,” kata Jiati.

Hal itu disebabkan pengurusan dokumen tersentralisasi di kota besar tempat PJTKI/PPTKIS berkantor. “Juga kalau ada masalah harus ke kota besar atau bahkan ke Jakarta, ini juga bagian dari kekerasan sistemik terhadap buruh migran Indonesia (BMI). Kadaan tersebut harus dilawan, bukan didiamkan terus!” kata Jiati.

Acara diskusi yang berlangsung pada Kamis pagi yang dimulai pukul 10.00 WIB itu juga diselingi dengan pembacaan puisi baik dari buruh, aktivis, budayawan, dan kelompok keseniaan.

Budayawan Malang Yongki Irawan yang hadir pada acara diskusi tersebut menegaskan perlunya memperjuangkan hak hak buruh melalui pendekatan kebudayaan untuk lebih memanusiakan manusia.

“Budaya menjadi salah satu pendekatan untuk memperjuangkn hak-hak buruh,” kata Yongki.

Loading...