‘Mbeguguk Ngutha Waton’

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pada saat pagi menjelang siang di ruangan kerja yang sederhana tetapi nikmat ini, kehadiran tamu seorang doktor masih muda, dan trengginas. Beliau ini memiliki obsesi masa depan lembaga yang jauh melampaui usianya. Satu ciri khas kepribadian yang sangat menopang langkahnya adalah teguh dalam berpendirian, tidak jarang beliau mengambil sikap “mbeguguk Ngutha Waton” kepada atasan; jika memang itu tidak sejalan dengan prinsip kebenaran yang dia yakini.

Pada kesempatan lain ada informasi bahwa pimpinan satu lembaga terpandang di negeri ini, yang sanggup keluar dari kelompok pimpinan dalam media sosial, dan kelompok kelompok lain sejenis, yang menurut keyakinannya sudah menyimpang dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) kelembagaan yang seharusnya diemban. Beliau memosisikan diri mbeguguk ngutha waton terhadap atasan dan kelompoknya demi menegakkan keyakinan akan kebenaran yang awalnya telah menjadi kesepakatan bersama.

Apa sebenarnya istilah mbeguguk ngutha waton itu ? Mbeguguk: diam tidak mau bergerak seperti benteng batu (Kutha watu). Telanjur banyak disalah-ucapkan menjadi “Mbeguguk ngutha waton“. Kita bisa bayangkan sebagai orang yang diam di tempat tidak mau digerakkan. Pengertian umumnya adalah orang yang membangkang atas perintah. Contoh paling terkenal adalah almarhum Mbah Marijan yang tidak mau turun gunung saat erupsi Gunung Merapi sudah dalam tahapan paling bahaya. Padahal, yang memerintahkan adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X sendiri.

Istilah ini sebenarnya bagian dari istilah “mbalelo” yang sudah menjadi diksi baru dalam Bahasa Indonesia serapan dari Bahasa Jawa; memiliki makna memberontak atau menentang perintah. Adapun bentuk bentuk penentangan itu sendiri bermacam macam di samping mbeguguk ngutha waton, dari hasil penelusuran literatur ditemuka yaitu (diunduh 17 November 2021, pk. 08.30): Pertama, “Madal Sumbi”. Ada beberapa pengertian “Madal”. Yang cocok dengan peribahasa ini adalah: Menolak, tidak mau menurut. Analog dengan ungkapan “larane wis madal tamba”: Artinya penyakit yang sudah tidak bisa diobati: Seolah-olah menolak (madal) tamba (obat).

Adapun pengertian “sumbi” dalah bagian dari alat tenun, semacam bilah yang dibalut kapas untuk meregangkan yang ditenun. Arti harfiah “madal sumbi” adalah adanya sesuatu yang tidak halus, sehingga tenunan tidak rata, dengan adanya benjolan-benjolan kecil (Jawa: Njekethut). Pengertian peribahasa “madal sumbi” menggambarkan orang yang menolak perintah, atau tidak segera melaksanakan perintah. Ibarat kain yang ditenun tidak mau diatur oleh sumbi.

Kedua, ”Madal Wicara”; Ini lebih mudah dipahami daripada madal sumbi. Artinya sama: Orang yang menolak perintah. Bila madal sumbi masih ada “gojag-gajeg”nya dalam arti tidak segera melaksanakan perintah, maka dalam madal wicara jelas-jelas menolak perintah pimpinan.

Ketiga,Mbondhan Tanpa Ratu”. Bondhan atau mbondhan adalah menari Bondhan. Saking asyik dan senangnya menari seolah-olah merasa tidak ada raja (bahasa jawa: tanpa ratu). Pengertiannya adalah: Orang yang bertindak semaunya sendiri, tidak mempedulikan lagi bahwa hidup ini diatur berbagai norma. Misalnya norma agama, norma kemasyarakatan dan norma hukum.

Keempat, “Ngalasake Negara”; negara dianggap hutan (Bahasa Jawa: ngalasake = menganggap hutan). Menggambarkan orang yang tidak mengindahkan norma hukum, bertindak semaunya, tidak mau menuruti peraturan perundang-undangan.

Kelima, “Mirong Akampuh Jingga”. Makna terjemahan kata adalah “mirong” menurut Bausastra Jawa, karangan Poerwadarminta, 1939 adalah: (1) Menyelimutkan “kampuh” di pundak untuk menutupi badan. (2) Sikap menjauh, tidak mau berkumpul, mempunyai niat untuk memberontak. Jadi pengertian maknawi dari “mirong kampuh jingga” adalah lebih diarahkan kepada memberontak ( dalam bahasa Jawa disebut “kraman” ) kepada Negara atau system yang ada.

Sebagai pemimpin harus paham hal hal di atas; karena memberontak atau tidak mengikuti perintah pimpinan itu pasti ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai apa adanya. Karena bentuk bentuk penampilan memberontak itu tidak harus adu fisik; akan tetapi bentuk bentuk perilaku yang ditampilkan seperti di atas, merupakan “pertanda” ada yang tidak beres dalam sistem yang ada. Oleh karena itu pemimpin harus bertindak cepat, tepat dan trengginas, tanpa sesumbar apalagi mengancam. Justru tindakan yang terakhir ini akan menyudutkan pemimpin sendiri sebagai orang yang pongah.

Koreksi yang dilakukan orang yang dipimpin kepada pimpinan biasa hanya satu bentuk, namun bisa jadi beberapa bentuk ditampilkan. Oleh karena itu, “memata-matai” boleh-boleh saja sebagai upaya deteksi dini, bukan memilah “kita dan mereka, atau kami dan kamu”. Jika ini yang dilakukan berarti pemimpin melakukan pendekatan konflik. Bukan penyelesaian yang didapat justru menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah.

Kunci utama yang harus dilakukan pemimpin, bukan dendam atau membenci, tetapi jangan bosan-bosan memberi pengarahan dengan logika yang dapat diterima. Kita juga harus siap kalau yang kita beri pengarahan tetap “mbeguguk ngutha watu”. Walaupun sudah berulang-kali memberi arahan. Dalam bahasa Jawa ada peribahasa (“paribasan”) : “Lambe satumang kari samerang”, ibarat bibir kita yang tadinya sebesar tumang (ganjal untuk bibir tungku di dapur jaman masih pakai kayu, biasanya dari pecahan genting) tinggal sebesar merang (batang padi). Maksudnya bahwa pemimpin itu dalam situasi apapun harus mengedepankan sabar.***

 

 

  • Bagikan