Medali Emas Olimpiade Tokyo, Bukan Hasil Tetapi Proses

  • Bagikan
Greysa Polii dan Apriani Rahayu meraih emas cabang bulutangkis ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo, Jepang, Senin siang WIB (2/8/2021). Foto: AFP
Greysa Polii dan Apriani Rahayu meraih emas cabang bulutangkis ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo, Jepang, Senin siang WIB (2/8/2021). Foto: AFP

Handrawan Nadesul

Ada yang bertanya,”Kok Indonesia begitu hiruk-pikuknya menyambut keberhasilan ganda putri meraih emas Olimpiade? Amerika, Cina, Jepang yang sudah mengantongi berpuluh emas, sepertinya tidak sesemarak pemimpin dan rakyat Indonesia. Cuma satu emas kok hebohnya se-Republik.”

Ya, itu karena orang-orang melihatnya sebagai sebuah proses menuju yang cuma satu itu, bukan hanya melihat hasil yang hanya itu. Demikian pula terjadi dalam kehidupan.

Sukses anak desa meraih prestasi tinggi pada pendidikan, yang pergi sekolah jalan kaki, buku yang terbatas, guru seadanya, proses yang luar biasa dibanding anak kota berkecukupan, sekolah diantar mobil, segala buku tersedia, sekolah favorit, dan guru yang serba mumpuni. Kalau mereka yang berkecukupan meraih prestasi, rasanya biasa saja. Sudah seharusnya.

Demikian saya melihatnya prestasi yang diraih pasangan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, bukan proses yang biasa, sehingga pantas dilumrahkan saja. Ini proses luar biasa. Bentuk perjuangan yang luar biasa gigih, tekun, dan dalam serba keterbatasan.

Terutama Greysia yang sudah beberapa kali ikut Olimpiade, dan belum meraih emas, harus meredam kelemahan umur yang semakin bertambah, maaf, mungkin asupan gizi yang tidak sebagus atlet negara kaya. Saya mendengar sendiri atlet bulutangkis kita yang mengaku kurang perhatian asupan gizinya dibiarkan jajan bakso selama pelatnas, beli vitamin sendiri, dan saya tidak tahu apakah selama latihan sudah memanfaatkan teknologi tinggi melatih otot, menajamkan kiat dan teknik pukulan dengan mesin, sebagaimana diberikan di negara maju.

Kita harus mengakui dalam banyak hal. Keolahragaan kita masih serba dalam keterbatasan itu. Jadi kalau dalam kondisi demikian, kita masih mencetak prestasi besar, itu hal yang sungguh luar biasa.
Dalam kehidupan juga suka muncul pihak-pihak bersuara, dan bersikap nyinyir, yang memunculkan iri-dengki. Juga dalam kehidupan profesi sekalipun. Iri melihat sejawatnya berpestasi, tanpa melihat seberapa proses yang sudah ditempuhnya berpeluh-peluh.

Hanya iri tanpa mengakui kalau diri sendiri tidak berjuang habis-habisan untuk meraih prestasi. Hidup yang ongkang-ongkang tidak pantas iri-dengki terhadap mereka yang berprestasi, yang menempuhnya sampai-sampai harus melupakan hiburan, melupakan jam mengaso, tidak cukup tidur, bangun pagi, ketika teman-temannya enak-enak duduk santai di cafe, atau main golf, dan rutin ngegym.

Saya terharu menyaksikan lulusan sebuah Perguruan Tinggi besar di Bandung, yang saat wisuda orangtuanya hadir dengan jas bukan ukuran badannya, wajah ndeso, anaknya lulus cum laude, berasal dari sekolah di desa bukan sekolah unggulan. Mahasiswa yang selama kuliah melupakan hari santai, tekun belajar, makan seadanya. Teman-teman yang tidak meraih cum laude entah bermain ke mana saja selama kuliah, seperti diungkap M.A.W. Brower dalam satu tulisannya. Ketika anak beprestasi tekun duduk belajar, yang tidak cum laude berkeliaran ke mana-mana.

Maka,  tidak perlulah kita iri hati, mendengki kalau melihat ada teman, saudara, kerabat yang sukses berkat jerih payahnya tanpa henti. Hayati prosesnya itu. Hargai jerih payahnya. Hormati perolehannya.

Itulah buah achievement. Merekalah yang mencetak status achievement statusdengan berpeluh, dan bukan status warisan karena orangtua kaya atau turunan raja, yang tergolong ascribed status. Menjadi kaya dari orangtua kaya, atau karena seorang raja, tidak lebih hebat dari kehebatan prestasi karena mulai dari nol. From zero to hero.

Saya kira kita semua bisa belajar. Bangsa ini perlu belajar juga. Karena prosesnya yang melelahkan itu, maka penghargaan besar laik diberikan bagi kedua pasangan bulutangkis kita.

Kita menghargai jerih-payahnya, menghormati perolehan yang laik diterimanya. Buat negara, kendati hanya satu emas, tapi yang satu itu lahir dari proses berpeluh-peluh puluhan tahun yang sungguh melelahkan. Belum tentu setiap kita sanggup melakoninya.***

*Handrawan Nadesul adalah dokter dan sastrawan

  • Bagikan