Beranda News Internasional Media Asing Sebut Jumlah Pasien Covid-19 Meninggal di Indonesia Ribuan Orang

Media Asing Sebut Jumlah Pasien Covid-19 Meninggal di Indonesia Ribuan Orang

709
BERBAGI
Belasan warga Kelurahan Sekincau, Kecamatan Sekincau, Lampung Barat bergotong royong menyiapkan liang lahat untuk pemakaman jenazah pasien virus corona yang meninggal di RSU Abdul Moeloek, Sabtu (4/4/2020).
Belasan warga Kelurahan Sekincau, Kecamatan Sekincau, Lampung Barat bergotong royong menyiapkan liang lahat untuk pemakaman jenazah pasien virus corona yang meninggal di RSU Abdul Moeloek, Sabtu (4/4/2020).

TERASLAMPUNG.COM — Kantor berita Reuters yang berpusat di London, Inggris, memprediksi jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia yang meninggal jauh lebih banyak dibanding data yang selama diupdate pemerintah.

Melalui berita bertajuk “Exclusive: More than 2,200 Indonesians have died with coronavirus symptoms, data shows”, pada edisi 28 April 2020 Reuters menulis lebih dari 2.200 orang Indonesia telah meninggal dengan gejala akut COVID-19 tetapi tidak dicatat sebagai korban penyakit ini, sebuah tinjauan Reuters menunjukkan data 16 dari 34 provinsi di Indonesia.

Menurut Reuters, tiga ahli medis mengatakan angka-angka tersebut mengindikasikan jumlah korban jiwa nasional kemungkinan akan jauh lebih tinggi daripada angka resmi 765 (per 28 April 2020).

“Indonesia memiliki salah satu tingkat pengujian terendah di dunia, dan beberapa ahli epidemiologi mengatakan bahwa telah membuat sulit untuk mendapatkan gambaran yang akurat tentang tingkat infeksi di negara berpenduduk terbesar keempat di dunia.

Data terbaru dari 16 provinsi menunjukkan ada 2.212 kematian pasien di bawah pengawasan karena mereka memiliki gejala virus corona akut.

“Kementerian Kesehatan Indonesia menggunakan istilah pasien dalam pengawasan (PDP) untuk mengklasifikasikan pasien-pasien ini ketika tidak ada penjelasan klinis lain untuk gejalanya,” tulis Reuters.

Reuters melansir bahwa data yang dimilikinya dikumpulkan oleh lembaga provinsi setiap hari atau setiap minggu dari angka yang dipasok oleh rumah sakit, klinik dan pejabat yang mengawasi pemakaman. Itu diperoleh oleh Reuters dengan memeriksa situs web, berbicara dengan pejabat provinsi dan meninjau laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Ke-2.212 kematian adalah tambahan dari kematian 693 orang yang dites positif COVID-19 di provinsi-provinsi tersebut dan secara resmi dicatat sebagai korban penyakit.

Ke 16 provinsi tersebut mencakup lebih dari tiga perempat dari 260 juta penduduk Indonesia.”

Anggota senior gugus tugas COVID-19 pemerintah, Wiku Adisasmito, tidak membantah temuan Reuters tetapi menolak mengomentari jumlah korban virus corona yang ia yakini dapat ditemukan di antara pasien yang diklasifikasikan sebagai PDP.

Dia mengatakan banyak dari 19.897 orang yang diduga penderita virus corona di Indonesia belum diuji karena jumlah spesimen yang menunggu diproses di laboratorium yang kurang staf. Beberapa orang telah meninggal sebelum sampel mereka dianalisis, katanya.

“Jika mereka memiliki ribuan atau ratusan sampel yang perlu mereka uji, mana yang akan mereka prioritaskan? Mereka akan memberikan prioritas kepada orang-orang yang masih hidup,” katanya kepada Reuters.

Adisasmito adalah pakar kesehatan masyarakat paling senior di gugus tugas COVID-19 Indonesia; Kantor pers Presiden Joko Widodo biasanya merujuk pertanyaan ke satuan tugas.

Menurut pedoman COVID-19 terbaru dari Kementerian Kesehatan, pasien yang diklasifikasikan sebagai PDP adalah pasien dengan penyakit pernapasan akut yang tidak ada penjelasan klinis.

Pasien yang diiklasifikasikan sebagai PDP adalah pasien yang memiliki riwayat perjalanan ke suatu negara, atau suatu daerah di Indonesia, di mana virus corona telah bertahan dalam waktu 14 hari sejak jatuh sakit.

“Saya percaya sebagian besar kematian PDP disebabkan oleh COVID-19,” kata Pandu Riono, seorang ahli epidemiologi di Universitas Indonesia, mengutip gejala COVID-19 mereka dan bahwa tidak ada penyebab lain kematian yang diidentifikasi.

Menurut Reuters, beberapa petinggi  pemerintah Indonesia mengecilkan risiko wabah pada Januari dan Februari dengan beberapa menyarankan bahwa doa, pengobatan herbal dan cuaca panas akan membantu menangkal virus corona.

Dugaan Reuters senada dengan dugaan seorang ahli epidemilogi Universitas Indonesia, Dr. Iwan Ariawan.

“Tingkat infeksi dan kematian sebenarnya lebih tinggi daripada data yang dilaporkan secara resmi karena tes kami masih sangat rendah dibandingkan dengan populasi,” kata Dr Iwan Ariawan, dilansir Aljazeera.

Presiden Joko Widodo mengatakan pekan lalu bahwa dia telah memberi tahu menterinya untuk melaporkan data COVID-19 dengan jujur. Pemerintahnya mengumumkan inisiatif transparansi baru dua minggu lalu, tetapi situs web baru yang dijanjikan dengan semua data belum diluncurkan.

Daeng Faqih, ketua Ikatan  Dokter Indonesia,  telah mendesak pemerintah untuk mengungkapkan jumlah nasional yang diduga pasien COVID-19 yang meninggal tetapi belum diuji.

Kantor perwakilan WHO di Indonesia juga mengatakan pada akhir pekan bahwa kematian pengidap virus corona harus diungkapkan.

Bagaimana Faktanya?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa memang sejauh ini lebih banyak pasien yang masuk dalam kategori pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal dibandingkan dengan pasien yang termasuk kategori positif mengidap virus corona.

Di Provinsi Lampung, misalnya, sampai Kamis (30/4/20), jumlah PDP yang meninggal ada 13 orang. Sedangkan pasien positif Covid-19 yang meninggal jauh lebih sedikit, yaitu 5 orang. PDP yang meninggal itu sebagian besar hasil swabnya belum didapatkan saat pasien meninggal. Hasil swab biasanya dikirimkan ke laboratorium di Palembang atau ke Jakarta.

Sejauh ini Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Lampung tidak mengumumkan kepada publik atau kepada media dari 13 PDP yang meninggal itu berapa yang hasil swabnya benar-benar negatif dan berapa yang positif mengidap Covid-19.

Kasus seperti ini agaknya yang menyebabkan pemerintah Indonesia dinilai tidak transparan soal data Covid-19 sehingga memunculkan dugaan seperti yang ditulis Reuters.

TL/Reuters/Dewira