Beranda Views Opini Media, Pelacur, dan Bahasa

Media, Pelacur, dan Bahasa

346
BERBAGI

Oleh Toto Dartoyo

Seorang artis ibukota, sebut saja X, (Trans 7, 5 Januari 2016) menyangkal bahwa dirinya yang telah malakukan perzinahan dengan bayaran tinggi di sebuah hotel di Surabaya disebut sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil). Artis ini merasa bukanlah PSK. Alasannya, PSK adalah mereka yang melakukannya sebagai profesi. Sementara dirinya tidak merasa berprofesi sebagai WTS (Wanita Tuna Susila), karena melakukannya hanya sesekali. Beberapa alasan juga ia ungkapkan sebagai penyangkalannya.

Kesimpulan pemirsa atau masyarakat dari pernyataan artis di atas bisa terpecah tiga. Yang pertama, pemirsa akan menganggapnya benar bahwa artis itu tidak bersalah dan hanya sebagai korban (istilah yang dipakai pembela dan pengacara) serta bukan pelacur. Yang kedua, artis itu memang bekerja sebagai artis yang merangkap sebagai pelacur. Yang terakhir, pemirsa akan menganggap bahwa perzinahan itu tidak dilarang dan diperbolehkan.

Perlu ditambahkan di sini bahwa artis merangkap jabatan lain adalah hal biasa dan sah-sah saja. Artis sekaligus pejabat negara banyak. Artis sekaligus penjual makanan banyak. Artis sekaligus pengusaha Wedding Organiser (WO) banyak, artis sekaligus pedagang mobil banyak. Dan artis-artis yang membuka usaha lainnya juga banyak. Tapi, jika artis yang sekaligus merangkap sebagai pelacur? Mungkin tidak sebanyak yang disebut pertama, tapi di sinilah letak permasalahannya. Mengapa artis X di atas mati-matian menolak sebutan ini.

Sebagai orang yang bergelut dengan bahasa, penulis lebih memilih kesimpulan yang kedua. Pernyataan artis tersebut sebenarnya bukan itu. Sebenarnya, maksud komunikasi artis tersebut adalah bahwa dia merasa malu sudah ketahuan publik bahwa dirinya telah berbuat asusila (perbuatan yang hanya pantas dilakukan oleh hewan, red).

Berbeda dengan artis-artis yang berprofesi ganda lainnya yang tidak malu berprofesi sebagai pedagang mobil, sebagai pejabat, sebagai pemilik WO, dan sebagainya. Mengapa? Karena perbuatan mereka adalah perbuatan mulia. Baik di hadapan Tuhan maupun manusia. Sementara artis X merasa malu karena melacur jelas perbuatan yang hina yang bahkan pelakunya bisa dihukum mati. Catatan: artis X ini malu tapi anehnya ia masih bisa terseyum saat diwawancarai awak media itu.

Mengapa artis X dan artis-artis lainnya dengan kasus serupa harus mati-matian menyangkal profesi rangkapnya sebagai pelacur? Jawabannya sederhana saja, jika jabatannya sebagai artis ini tidak dibela mati-matian, maka karir dan pamornya sebagai artis jelas sangat terancam. Karirnya sebagai artis akan habis sebab masyarakat tidak akan mau lagi melihat wajahnya di media apapun. Yang berarti pula pendapatannya sebagai pelacur alias lonte alias jablay atau WTS akan menurun drastis. Perlu diingat hanya artis cantik papan ataslah yang berbayar selangit jika menjadi pedagang alat kemaluan (penjaja seks). So, jika pekerjaan keduanya (artis sekaligus pelacur) hilang, ia bingung mau hidup dari mana? Melacur tanpa status artis mungkin masih bisa dilakukannya, tapi penghasilannya jelas akan jauh menurun alias tak seberapa. Bagaimana pula nanti jika dirinya sudah tak cantik dan tua pula?

Saya berani bersaksi, itulah maksud komunikasi artis tersebut, karena itulah yang diinginkannya. Bukan yang lain. Bahkan saat ditanya wartawan tentang seorang artis lain yang berbuat serupa, dia dengan lantang menyatakan bahwa rekannya (artis Y) yang tidak mau mengakui dirinya sebagai teman adalah seorang munafik. Tuduhan ini pun mengisyaratkan kepada kita bahwa artis-artis papan atas tidak hanya satu atau dua orang saja yang melakukan praktek jual beli alat kelamin tersebut. Sungguh miris. Publik figur mencontohkan perilaku tidak terpuji kepada masyarakat. Lebih miris lagi media seolah tak peduli dan terkesan mendukung artis-artis pendukung “seks bebas” ini.

Fenomena artis yang mempertontonkan perilaku tidak tahu malu tersebut, sebenarnya tidak hanya kali ini saja terjadi. Jika mau diungkap, amat panjang kasus yang muncul ke permukaan. Itu yang terpampang, sedangkan yang tidak ketahuan tentu jauh lebih dari itu, karena dunia artis adalah dunia yang identik dengan dunia glamour atau dugem yang penuh dengan kebebasan dan hura-hura. Dunia yang jauh dari nilai ataupun norma kehidupan mulia.

Kemudian apakah artis-artis yang terpapar di media massa dan telah melakukan perbuatan hina itu pamor keartisannya akan tenggelam? Masihkah artis-artis itu eksis di dunia hiburan kita? Rentang waktu yang panjang dan maraknya stasiun televisi akan menjawab setinggi apa tingkat kepopulerannya nanti. Masyarakat akan melihat dan bisa memantau ending kehidupan publik figur yang telah mempertontonkan kerendahan perilaku yang katanya mengaku sebagai manusia itu. Namun, dari beberapa contoh video porno yang pernah beredar dan pelakunya masih malang melintang di dunia jagad hiburan tanah air, tampaknya ada beberapa hal yang melatarbelakangi keeksisan mereka itu. Beberapa di antaranya adalah perilaku yang cenderung mengabaikan efek pemberitaan dari sebuah media.

Perilaku awak (pemilik) media cetak dan elektronik yang masih mengabaikan efek pemberitaan (perilaku meniru masyarakat terhadap public figure) ini dapatlah kita tinjau dari pembenaran dan pembiaran mereka terhadap artis-artis yang dimaksud di atas. Jika perilaku artis tak terpuji “dibenarkan” dan “dibiarkan” tanpa “hukuman” oleh media, maka dapat dipastikan masyarakat akan bersifat apatis terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Hal ini tentu patut disayangkan mengingat efek yang amat besar dari sebuah media. Artinya, media bisa menjadi alat penyeru terhadap kebenaran untuk menjadikan pemirsanya sebagai insan-insan yang mulia dan bertanggung jawab.

Sekali lagi, media hendaknya menjadi sarana perubahan yang efektif dan berdampak positif terhadap pemirsanya. Bukan malah sebaliknya. Seperti disampaikan pihak MUI berdasarkan laporan masyarakat tentang indikasi dimunculkannya keteladanan negatif oleh media massa, (PR, 2 April 2014), kasus penggunaan (jasa) artis yang terjerat pelacuran atau seks bebas secara kontinyu ini pun menguatkan indikasi tersebut dan tentunya amat sangat mengkhawatirkan.

Penayangan artis yang terlibat kasus negatif, pada akhirnya akan menimbulkan kekacauan perspektif terhadap sebuah kebenaran. Masyarakat akan melihat sesuatu yang negatif sebagai sesuatu hal yang biasa dan benar karena sifat “permisif” dari sebuah media. Pada akhirnya, masyarakat akan melakukan “kebenaran” itu karena publik figur pun melakukannya. Peringatan Tuhan dalam Al Quran yang tidak mentolerir adanya pencampuran hak dan batil (Surat 2: 42) tidak lagi dihiraukan, sebab tontonanlah tuntunannya.

Jika sudah seperti itu, dimanakah peran lembaga pemerintah yang mengontrol dan mengawal media sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan warganya ini berada? Haruskah kita selalu disuguhi kebenaran yang tidak sejalan dengan apa yang telah digariskan Tuhan? Termasuk sebuah perzinahan yang dianggap sah dan dibolehkan?Hehh!!***

Loading...