Beranda News Budaya Melacak Jejak Benak Taufiq Ismail Ihwal Pendidikan (3)

Melacak Jejak Benak Taufiq Ismail Ihwal Pendidikan (3)

889
BERBAGI
Slamet Samsoerizal*
Taufiq Ismail (Ist)
Sumbangan ketiga Taufiq Ismail adalah teknik penyebarluasan
puisi-puisinya kepada khalayak.  Dalam
kaitan ini Taufiq sadar benar bahwa untuk mewujudkan keinginannya sebagaimana
dilontarkan dalam puisi  Aku Ingin
Menulis Puisi yang. Ia memublikasikan puisi-puisinya melalui jalur media massa
baik cetak maupun elektronik.
Melalui media massa cetak, puisi-puisinya ditemukan
melalui rubrik puisi dan surat pembaca pada surat kabar dan majalah. Selain
itu, puisi yang dipublikasikan itu pun dibukukan dalam bentuk antologi baik
atas nama sendiri maupun kumpulan bersama beberapa penyair.
Jalur konvensional ini
merupakan langkah kebanyakan penyair di negeri mana pun di dunia ini. Akan
tetapi,  dalam berbagai kasus banyak
antologi diterbitkan, sayang keberadaanya diabaikan. Khusus
antologi-antologi puisi Taufiq Ismail, keberadaannya mendapat animo yang
menggembirakan. Indikator yang dapat dijadikan sebagai titik tolak adanya
keterlibatan puisi-puisi Taufiq Ismail yang sering dikutip baik pada buku-buku
pelajaran bahasa Indonesia atau materi perkuliahan, pun banyak analisis dan
kajian atas puisi-puisinya baik tingkat pelajar tingkat menengah maupun
disertasi tingkat doktoral.
Puisinya yang berkisah tentang Fariduddin Attar  dijadikan rujukan untuk membahas sebuah
materi metafisika untuk kuliah filsafat oleh Jujun Suriasumantri dalam buku Filsafat
Ilmu Sebuah Pengantar Populer (1984). Juga saat Amien Rais mendapat pengukuhan
gelar Profesor dari Universitas Gajah Mada pada 1999, mengutip puisi Takut ’66,
Takut ’98 sebagai acuan uraian teoritis tentang bahaya ”kuasa” dan ”tunakuasa”
sekaligus menunjukkan perubahan politik di negeri ini yang menunjukkan bahwa
tunakuasa (powerlesness) mulai mendialogkan kuasanya (powerness). Nilai didik yang dapat ditangkap melalui puisi
yang bicara rasa takut ini agar dihayati benar oleh para wakil rakyat dan
pejabat negara, terutama ”takut” kepada rakyat, selain takut kepada azab Allah
SWT.
           
Melalui media massa elektronik, puisi-puisinya meluncur
melalui pembacaan baik yang dilakukan Taufiq sendiri maupun melalui orang lain.
Begitu seringnya Taufiq diundang untuk membacakan puisi-puisinya di dalam
negeri dan di luar negeri. Media yang mengundang pun beragam. Ada kalanya dalam
sebuah seminar tentang politik, ia diminta membacakan puisinya. Undangan juga
mengalir dari radio maupun televisi. Frekuensi yang demikian tentu
menguntungkan puisi-puisinya banyak dikenal orang di dalam maupun luar negeri.
Apalagi puisi-puisinya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahasa Arab,
bahasa Rusia, dan bahasa China.
           
Terobosan Taufiq dalam penyebarluasan puisi-puisinya
ternyata tidak hanya sebatas itu. Kita mencatat sejak 1973, puisi-puisi seperti
Oda pada Van Gogh,  Dengan Puisi Aku,
Kasidah Rindu Kami Padamu, Adakah Suara Cemara, Aisyah Adinda Kita, Sajadah
Panjang, Ada anak Bertanya pada Bapaknya
dan Jual Beli adalah beberapa puisi
Taufiq Ismail yang dijadikan sebagai lirik lagu-lagu Bimbo. Kita pun mencatat,
bahwa puisi Panggung Sandiwara Taufiq
Ismail digubah oleh Ian Antono dari kelompok musik Godbless dan dilantunkan
oleh Achmad Albar begitu populer di telinga penikmat musik Indonesia.
Khusus mengenai lagu-lagu bertema religius yang
dinyanyikan Bimbo seperti Tuhan,  Sajadah
Panjang,   Aisyah Adinda Kita, Ada anak Bertanya pada
Bapaknya begitu merajai telinga penikmat musik, terutama saat bulan Ramadan
tiba –sehingga tidak mengherankan jika ada yang menyebut bahwa setiap Ramadan
adalah bulan lagu-lagu Bimbo. Kita pun dapat beranalogi, menyebut sukses Bimbo
berarti menyebut sukses Taufiq Ismail sebagai penulis lirik yang andal. Ia
ternyata juga merambah kerja sama dengan 
almarhum Chrisye untuk penulisan lirik Ketika Tangan dan Kaki
Bicara.   
Unsur didik sangat terasa pada semua lirik yang berasal
dari puisi-puisi garapan Taufiq Ismail. Secara representatif, puisi berjudul Tuhan
 dan Sajadah Panjang sangat kental nilai
religinya. Berikut dikutipkan isi puisi Sajadah Panjang secara lengkap.:
Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya
Horison Apresiasi Sastera
Taufiq Ismail bercita-cita menjadi sasterawan sejak SMP
dan mengental ketika SMA–  menyadari
kewajiban yang diembannya. Berkaitan dengan pendidikan, ia ikut membidani
lahirnya Majalah Sastra Horison.  Sebuah
majalah yang  secara taat asas
melaksanakan tugasnya sebagai majalah sastra sejak awal pendiriannya, 1966
yakni mencatat puisi, cerpen, esai, 
menyemai bibit-bibit sastrawan baru, menumbuhkembangkannya, sehingga
terjadi dialektika secara dinamis baik sebagai sebuah sosok maupun karya dengan
konsekuensinya. Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di
sekolah-sekolah, mengingat Horison  adalah satu-satunya majalah sastra di negeri
ini(!)
Melalui Horison pula, Taufiq Ismail mengemas empat proyek
besar atas keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan bangsa ini. Taufiq
Ismail mengemas melalui program penerbitan sisipan “Kaki Langit”  majalah Horison  sejak November 1996 dan masuk ke SMU, MA
(Madrasah Aliyah), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan Pesantren. 
Itu  yang pertama.
Sebagai suplemen,  “Kaki Langit”  menampilkan karya sastra : puisi, cerpen, dan
esai para siswa dari seluruh Nusantara. Bapak dan Ibu guru (bahasa Indonesia)
tidak ketinggalan dilibatkan pula, melalui rubrik ”Pengalaman Guru”. Ulasan
puisi dan cerpen karya siswa juga disajikan sebagai bentuk kritik terhadap
karya para siswa. Setiap terbit, “Kaki Langit”  memperkenalkan sosok sastrawan –mulai dari
biografi, karyanya hingga proses kreatifnya.
Kedua,   menyadari
bahwa perubahan harus  dimulai dari guru,
Taufiq Ismail melalui Yayasan Indonesia (penerbit Majalah Horison) melobi
Bappenas dan Departemen Pendidikan Nasional dan sejak Februari 1999 meluncurkan
program MMAS (Membaca, Mengarang, dan Apresiasi Sastra) untuk guru bahasa dan
sastra Indonesia. Hingga tahun 2000, telah dilatih 11 angkatan (DKI Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera
Barat).  Itu mencakup 660 guru. Setelah
itu, Riau, Jambi Sumatera Utara, Lampung, dan pada tahun 2001 MMAS melanglang
ke Kalimantan dan Indonesia Bagian Timur.
Ketiga,  dalam
rentang masa yang sama, 43 sastrawan bergerak masuk ke 30 SMU, MA, SMK, dan
Pesantren di 20 kota 3 provinsi bertemu dan berdiskusi dengan 3.000 siswa.
Kegiatan ini merupakan proyek ketiga yang digarapnya di bawah bendera SBSB
(Sastrawan Bicara Siswa Bertanya).  Pada
2004, SBSB  telah merampungkan hajatnya
di 26 provinsi, 133 kota, 205 siswa, dihadiri (sekitar) 92.000 siswa dan guru,
didatangi sekitar 90 sastrawan.
Keempat, pada tingkat perguruan tinggi, Taufiq Ismail
menggarap proyek keempatnya yakni SBMM (Sastrawan Bicara, Mahasiswa Bertanya).
Melalui SBMM Taufiq Ismail mendatangkan 12 sastrawan selama dua semester ke dua
kampus (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia dan Fakultas Bahasa dan
Seni Universitas Negeri Jakarta) untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Mahasiswa
itu diwajibkan membaca buku karya sastrawan tersebut, sebelum hadir dalam
diskusi. Kegiatan SBSM dan SBMM ini dibiayai oleh Ford Foundation.
Apa yang menarik? Kegiatan SBSM ternyata menerbitkan
optimisme bagi Taufiq Ismail secara pribadi maupun lembaga yang dipimpinnya.
SBSM yang berfokus pada apresiasi tingkat SMU, Madrasah Aliyah, dan Sekolah
Menengah Kejuruan ternyata mendapat respon yang luar biasa. Para siswa tidak
saja langsung dapat bertatap muka dan menyimak proses kreatif para sastrawan.
Pengenalan langsung seperti ini tentu lebih efektif dalam pembelajaran bahasa
Indonesia di sekolah. Sebagai tindak lanjut SBSM Horison pun memberikan wadah
berupa rubrik sisipan “Kaki Langit”.  Lagi-lagi optimisme kembali bangkit manakala
redaksi Horison  kewalahan menampung
karya-karya siswa di seluruh tanah air. 
Dalam Seminar sehari yang digelar Musyawarah Guru Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia DKI Jakarta, pada 30 September 2000 Taufiq Ismail
melontarkan kritik pedasnya. “Masyarakat
Indonesia itu sudah mengidap penyakit rabun membaca dan lumpuh menulis.
Akibatnya, kedua penyakit itu menimbulkan budaya kekerasan yang akhirnya mempengaruhi
juga sisi-sisi kehidupan kaum mudanya.”
Lontaran ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan amatannya,
kuantitas oplah buku-buku sastra yang terbit sejak awal revolusi,  Taufiq Ismail menyayangkan rendahnya minat
masyarakat, terutama minat membaca karya sastra. Apabila melihat jumlah majalah
sastra, ternyata yang terbit di Indonesia cuma satu buah, yakni Horison.
Menurutnya, keadaan ini sangat luar biasa minimnya.
Apalagi jika Taufiq Ismail membandingkannya dengan jumlah penduduk Indonesia
yang sudah mencapai lebih dari 200 juta jiwa. Di Mesir, dengan jumlah penduduk
sekitar 50 juta jiwa, penduduknya mampu menerbitkan majalah sastra sebanyak 12
buah. Taufiq Ismail pun melontarkan, 
semestinya   kita memiliki 48 buah
majalah sastra.   Catatan lain yang dikemukakan
dalam seminar tersebut adalah novel Atheis karya Achdiat Kartamihardja yang
pertama terbit 1949 dan beroplah 3. 000 eksemplar,  hingga tahun 2000  jumlah eksemplarnya tidak berubah.  Sebuah ironi, memang!
Munculnya budaya kekerasan di Indonesia akhir-akhir ini salah satunya disebabkan
oleh tidak dikembangkannya nilai-nilai luhur dalam sistem budaya. Nilai
kejujuran, ketertiban, tanggung jawab, pengendalian, kebersaman, keimanan, yang
seharusnya berproses dalam pendidikan di sekolah, rumah, dan masyarakat
–kemudian dicontohkan oleh pendidik, orang tua, dan pemuka masyarakat, serta
dibaca dalam karya-karya sastra—ternyata tidak berlangsung seperti yang
diharapkan.
_________________ 

*)
Peneliti pada Pusat Kaji Darindo



Baca Juga: Melacak Jejak Benak Taufiq Ismail Ihwal Pendidikan (1)
Baca Juga: Melacak Jejak Benak Taufiq Ismail Ihwal Pendidikan (2)