Beranda Hukum Kriminal Melawan, Pengedar Narkoba Jaringan Lapas Way Hui Ditembak

Melawan, Pengedar Narkoba Jaringan Lapas Way Hui Ditembak

623
BERBAGI
Ilustrasi

Zainal Asikin|teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung, meringkus tersangka pengedar sabu-sabu, Ahmad Solihin (30), warga Kelurahan Sumur Batu, Telukbetung Utara. Polisi melumpuhkan tersangka dengan timah panas, karena melawan saat akan ditangkap di Jalan ZA Pagar Alam, Kedaton, Senin (20/2/2017) lalu sekitar pukul 17.30 WIB.

Direktur Reserse Narkoba Polda Lampung, Kombes Abrar Tuntalanai melalui Kasubdit I, AKBP Raswanto mengatakan, petugas menangkap Ahmad saat akan bertransaksi sabu-sabu di Jalan ZA Pagar Alam, Kedaton.

“Saat akan dibawa dengan petugas, tersangka Ahmad berusaha kabur dan melawan. Petugas melumpuhkan tersangka, dengan timah panas di kaki,”ujarnya, Rabu (22/2/2017).

Dari penangkapan tersangka, disita barang bukti berupa satu paket sedang sabu-sabu seberat 5 gram.

Dikatakannya, penangkapan Ahmad, bedasarkan informasi masyarakat yang menyatakan bahwa, di Jalan ZA Pagar Alam, Kedaton, akan ada transaksi narkoba.

“Dari informasi tersebut, dilakukan penyelidikan dan berhasil menangkap tersangka Ahmad,”ungkapnya.

Rswanto mengutarakan, dari hasil pemeriksaan tersangka Ahmad mengaku, sabu-sabu tersebut didapat dari seorang warga binaan Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Narkotika Way Huwi berinisial AN. Barang haram tersebut, rencananya akan dijual lagi dengan tersangka.

“Sabu-sabu yang didapat Ahmad, dipasok dari seorang napi Lapas Way Hui. Tersangka mengaku, belum lama mengedarkan sabu-sabu,”terangnya.

Menurutnya, pihaknya sudah melakukan pengembangan ke Lapas, namun tidak menemukan nama napi yang disebutkan dengan tersangka Ahmad tersebut.

“Kami masih terus mengembangkan kasusnya, untuk mengungkap siapa nama sebenarnya napi penghuni Lapas Way Hui tersebut,”pungkasnya.

Akibat perbuatannya, tersangka Ahmad dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) sub Pasal 112 ayat (2) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika, dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 20 tahun.