Beranda Teras Berita Melintas Batas pada ‘Pembatas Buku’ Yuli Nugrahani

Melintas Batas pada ‘Pembatas Buku’ Yuli Nugrahani

346
BERBAGI

BANDARLAMPUNG, Teraslampung – Yuli Nugrahani baru-baru ini menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi berjudul Pembatas Buku. Ada 40 judul termaktub dalam
buku ini. Berbagai tema dimunculkan, mulai dari cinta, kerinduan, kehampaan,
pergulatan-pergulatan personal dan sosial. Sebagian dari antaranya dibungkus
dalam cerita-cerita dengan tokoh yang saling bercakap, atau diajak bercakap
oleh penyairnya. Bagi yang tidak menyukai puisi pun mereka masih bisa menikmati
cerita-cerita yang disodorkan penulis karena keruntutan kisahnya.

Ini akan memudahkan para pembaca awam sastra. Lihat saja
satu puisi berjudul “Sehelai Rambut Kresna”. Penulis meletakkan pergulatannya
sendiri dalam pergulatan Arjuna dan Kresna. Dialog antara Arjuna dan Kresna
digambarkan begitu dekat, ada di sekitar penulis – atau pembaca – dan dapat
dirasakan bahwa apa yang dikeluhkan oleh Arjuna pun dapat terjadi dalam hidup
sehari-hari.
Hati dan logika tiba-tiba
bermain sandiwara
menjadi Arjuna dan Kresna di
atas kereta.
Tanpa beradu pandang, di
depan dan belakang
saling berbincang,
menguarkan kasih sayang.
Lihatlah wajah Arjuna,
gundah masai, duduk
tangan ragu memegang busur
terkulai.
“Kewajiban, Arjuna, lebih
utama dari sukma
kesepian.”
Tak ada suara setuju dalam
badai menderu,
pun Arjuna diam gelisah
tanpa menimbang.
Kresna tak melepas tali
kekang, menggeser kata
lebih tandas melecut gamang.
Atau pada sebuah puisi yang
berjudul “Tersembunyi di Pulau Delos”. Yuli mengambil tokoh Diana dari
Pulau Delos untuk mendekatkan perasaan dan pikirannya tentang Kekasih, atau
mungkin Sang Ilahi.
Telah kau kecup ribuan
kuncup dadaku
setiap ujungnya mekar di
bibirmu, Kekasih.
Seperti sayap kolibri
menyusu bunga sepatu
aku melayang bergetar dalam
nikmat cintamu.
Para nimfa kutolak
melindungi tubuhku
jangkung telanjang di
hadapanmu, Kekasih.
Segar berselempang percik
air keniscayaan
aku menjelma utuh bersama
genggamanmu.
Engkau bukan Aktaion sang
pengintip
yang memuaskan inderawi haus
pujian.
Engkau senyata perengkuh
jiwa tanpa rupa
menegakkan sujud sejajar
dengan harapan.
Kalau malam ini kupalang
ambang jendela
kupastikan kau ada di dalam
rumahku, Kekasih.
Menyelinap liang luka
menabur biji ungu gandaria
mengumpulkan getah selagi
embun menua.
Aku tak peduli dipanggil
sekedar Diana,
Artemis, pemburu, atau si
pembunuh.
Biar saja kutukku menyerap
di batu-batu
asal seluruh baumu mengalun
atas tubuhku.
Sebagian puisi-puisi Yuli
Nugrahani menampilkan cerita semacam itu dengan tokoh-tokoh mitos, pewayangan,
spiritualitas dan sebagainya. Dari sanalah kemudian para pembaca yang tidak
ingin di permukaan saja, bisa melesat pada kedalaman makna yang ditawarkan.
Pesan-pesan yang muncul dari perasaannya bisa ditangkap dalam puisi-puisinya
ini.
“Puisi-puisi Yuli Nugrahani, sama seperti prosa-prosanya,
sama-sama beranjak dari persoalan yang hadir dan akrab dalam pergaulan
hidupnya. Yang membedakan adalah intensitas tingkat penghayatan terhadap objek
tersebut. Jika pada prosa-prosanya ia secara sadar seakan mengambil jarak
terhadap apa yang biasa kita sebut sebagai objek,  pada
puisi-puisinya ini ia justru meleburkan diri habis-habisan terhadap objek
tersebut,” demikian dikatakan oleh Ari Pahala Hutabarat, Ketua Komite Sastra
Dewan Kesenian Lampung dalam catatan pembuka di bagian awal buku tipis
ini. 
Yuli mengaku, ia menjadikan yang universal
menjadi sangat personal dalam puisi-puisinya. Dunia fiksi yang dalam hal ini
diwakili tokoh-tokoh tertentu, berubah menjadi begitu ”faktual”—setidaknya bagi
dirinya sendiri. Tokoh-tokoh tersebut seakan ditarik, diajak berbincang, dan
direnggut dari mitos-mitos dan kesakralan yang melingkupinya. Seperti secara
seketika mereka, para sosok tersebut menjadi teman berbagi, cermin, sekaligus
wakil dari perasaan dan pemikiran si penyair. 
“Yang “biasa” kemudian menjadi “luar biasa” di dalam
proses transposisi objek dalam sebagian puisi dalam buku ini. Yang jauh menjadi
terasa begitu dekat. Pada beberapa puisi – Yuli berhasil mengubah
perasaan-perasaan domestiknya menjadi perasaan-perasaan publik,  menyisipkan
yang sakral terhadap peristiwa-peristiwa yang banal,” ungkap Ari.
Buku kumpulan puisi ini akan diluncurkan pada 22
Mei 2014 pukul 19.00 di Gedung PKM lantai 1 UKMBS Universitas Lampung dalam
rangkaian peringatan 12 tahun Komunitas Berkat Yakin, KOBER, sebuah komunitas
yang fokus pada seni dan sastra. Ada dua buku yang akan didiskusikan dalam
kesempatan ini yaitu Pembatas Buku karya Yuli Nugrahani dan Suluh karya Fitri
Yani.
Yuli sendiri termasuk orang
baru dalam dunia puisi, baru tahun 2013 mulai memublikasikan puisi pada tahun
2013. Lahir di Kediri tahun 1974, hijrah ke Lampung tahun 2000 dan selain
produktif menulis dia aktif dalam gerakan sosial. Dia lebih dahulu memublikasikan
cerita pendek dan sudah masuk di berbagai media sejak 2008. 
Cerpennya masuk
dalam antologi cerpen Kawin Massal yang diterbitkan Dewan Kesenian Lampung 2011
dan juga masuk dalam antologi puisi dan cerpen sastrawan Lampung, Hilang
Silsilah (
2013). Puisi-puisinya pernah muncul di beberapa media, dan
masuk dalam antologi puisi 8 Tahun Lumpur Lapindo Gemuruh Ingatan yang terbit
Mei tahun ini juga. *** (ch)
Judul buku                    :
PEMBATAS BUKU
Penulis                         :
Yuli Nugrahani
Desain sampul              :
Devin Nodestyo
Tata letak                     :
M. Reza
Cetakan pertama           :
Mei 2014
Penerbit                        :
Indepth Publishing
Isi                                :
62 hlm + xii
Ukuran                         :
14 X 21 cm
ISBN                            :
978-602-1534-31-1

Loading...