Memanfaatkan Berkah Transportasi

  • Bagikan
I.B. Ilham Malik

Dr. Eng. I.B. Ilham Malik*

Lampung memiliki berkah transportasi. Demikian statemen inti yang pernah disampaikan oleh Prof Ofyar Z Tamin, seorang pakar transportasi Indonesia yang juga Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera) yang baru saja berpulang 9 Juni 2021 lalu. Ia menyampaikannya berulang-ulang diberbagai kesempatan. Pernyataannya ini mungkin bisa dianggap sebagai pernyataan penilaian biasa. Dan itulah yang ditangkap banyak pihak selama ini. Tetapi sesungguhnya didalamnya mengandung dan bisa dibuat banyak ulasannya.

Salah satu benefit yang bisa ditangkap adalah suatu posisi strategis Lampung yang bisa menjadi hub dan bahkan menjadi mobility center untuk logistik. Jika ini bisa dimanfaatkan, maka secara ekonomi, Lampung akan mendapatkan manfaatnya. Ekonomi dapat tumbuh tinggi, terbukanya lapangan pekerjaan, dan hal ini bermuara pada kesejahteraan masyarakat Lampung.

Secara geografis, Lampung yang menjadi penghantar dan penghubung interaksi Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Interaksi keduanya melingkupi 60-70% ekonomi nasional. Interaksi keduanya yang sedemikian erat, ditunjukkan dengan padatnya penyeberangan di Selat Sunda, banyaknya rute-rute kapal yang menghubungkan Sumatera dan Jawa. Termasuk juga di sector penerbangan. Jumlah penduduk yang berinteraksi antarkedua pulau juga lebih dari 200 juta jiwa.

Penduduk Jawa ada 151 juta jiwa, dan Penduduk Sumatera ada 59 juta jiwa. Bagi para pengusaha, ini adalah pasar besar. Bagi peneliti ini adalah tantangan perencanaan yang sangat serius. Dan bagi pemerintah daerah, ini adalah peluang pemasukan besar untuk meningkatkan pendapatan daerah, membuka banyak investasi dan menyejahterakan masyarakatnya. Ini sebagian hal yang bisa dibahas detail ke depannya.

Pemahaman yang mendalam tentang arti penting kebijakan berbasis strategi geografis menjadi sangat relevan bagi Lampung. Setelah sekian lama, bahkan hingga kini, pemda Lampung masih kesulitan menemukan jalan keluar bagi daerah dari belenggu kemiskinan, sudah saatnya bagi pemda untuk menerjemahkan ulang atau melakukan pendalaman terhadap kebijakan yang perlu diambil untuk melepas cengkraman ketertinggalan ini.

BACA JUGA:   Kebersamaan dalam Peristiwa Tari Melinting

Beragam kebijakan yang telah dilakukan selama beberapa dasawarsa ini, tidak menjadikan Lampung sebagai titik pertumbuhan ekonomi penting di Sumatera. Kondisi geografis Lampung yang dekat dengan Jawa seolah menjadikan Lampung sebagai daerah yang bisa dikriteriakan sebagai pelanduk yang mati diapit oleh dua gajah. Interaksi antara Sumatera dan Jawa, menempatkan Lampung berada diantaranya. Bukannya mendapatkan berkah, malah hal yang terjadi adalah sebaliknya, mendapatkan ketertinggalan dan keterbelakangan. Sehingga banyak yang bertanya, kenapa bisa begitu?

Transportasi adalah sector yang penting. Ia menentukan hubungan atau jenis interaksi antar daerah atau antar kawasan. Ketika Lampung pada tempo beberapa tahun lalu, sebelum jalan tol beroperasi, mengeluhkan kerusakan jalan akibat banyak kendaraan berat melintasi Lampung, disatu sisi ini memang dapat dilihat sebagai masalah. Tetapi, disisi lain, sebenarnya ini adalah sebuah peluang. Ada banyak pohon industry yang bisa dikembangkan di Lampung. Mulai industri konstruksi, industri otomotif dan perbengkelan, dan bahkan kawasan industry dan pergudangan bisa di dorong habis di Lampung. Tetapi semua memang harus diskenariokan. Artinya, pemda akhirnya tidak bisa hanya sekedar memanfaatkan demand. Bahkan harusnya menciptakan demand. Bukan saja memenuhi supply. Tetapi juga sudah seharusnya menciptakan supply. Di sinilah peranan ahli lokasi, ahli kawasan, ahli budaya ekonomi, dan semacamnya, dilibatkan. Sementara para ahli keteknikan dihadirkan ketika tahapan implementasi program dan kegiatan (pemda dan swasta) mulai harus running.

Kembali ke berkah transportasi yang melingkupi Lampung. Maka hadirnya jalan tol, pelabuhan, bandara, jalur kereta api Sumatera, adalah sebuah berkah yang sangat besar. Lampung menjadi pengumpul bagi semua pergerakan transportasi. Dan disana ada angkutan orang dan barang, yang melayani semua jenis tujuan kegiatan mobilitas. Ini adalah sebuah peluang yang sebenarnya sangat dicari-cari dan kemudian dimanfaatkan oleh berbagai daerah dibelahan dunia mana pun. Artinya, Lampung juga dapat memanfaatkan situasi ini. Bahwa ada beberapa daerah lain yang telah memanfaatkannya, seperti Sumatera Selatan, dengan melahirkan berbagai program atau even nasional dan internasional di daerahnya, yang kemudian Sumsel mendapatkan banyak program pembangunan sarana dan prasarana pendukung, ini adalah wujud dari kemampuan mereka menciptakan program. Lampung yang memang memiliki keunggulan yang datang sendirinya akibat posisi geografis, harus dapat memanfaatkan ini dengan menciptakan beragam program nasional. Jika pemda bisa, hasilnya akan lebih besar dari apa yang dapat oleh Sumsel.

BACA JUGA:   Pandemi Covid-19, Bersiap Menghadapi Tatanan Dunia Baru

Akankah pemda di Lampung, yang terdiri dari 1 pemda provinsi, 13 pemda kabupaten dan 2 pemda kota, dapat memanfaatkan berkah transportasi yang sering disampaikan oleh alm Ofyar Z Tamin selama ini? Semua sangat berpulang pada pengharapan dan impian tiap daerah. Namun yang jelas, lahirnya perguruan tinggi negeri (PTN) Institut Teknologi Sumatera (Itera) di Lampung, telah siap jika dibutuhkan untuk memanfaatkan berkah tersebut. Itera yang lahir untuk Sumatera, bagaimanapun, tetap memiliki tanggung jawab terhadap daerah Lampung, dimana tempat Itera berada. Tulisan ini saya dedikasikan untuk kembali mendengungkan warning Rektor Itera, alm Prof Ofyar Z Tamin, tentang peluang Lampung untuk memanfaatkan berkah transportasi ini, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung.****

*Dosen PWK-ITERA, Peneliti di Pusat Riset dan Inovasi (Purino) Infrastruktur Berkelanjutan Itera

 

  • Bagikan