Beranda Seni Sastra Membaca Dias: Membaca “Tanju” yang Bias

Membaca Dias: Membaca “Tanju” yang Bias

104
BERBAGI
Buku kumpulan puisi Dias
Oleh Mas Nakurat Darindo
WANITA penyair, Dias Putri Samsoerizal meluncurkan kumpulan sajak pada 27 Oktober 2014. Peluncuran yang berbarengan dengan hajatan milad pertama Buletin STOMATA ini, berlangsung marak. Ada baca puisi, musikalisasi puisi, sekaligus apresiasi.
Siempunya blog samsoerizalputri.wordpress.com  yang kini duduk pada semester VI Universitas Jakarta ini menoreh tajuk bukunya: Sajak-sajak Tanpa Judul.  Tiga puluh empat sajak yang termuat, tidak satu pun yang memiliki judul. Penerbit STOMATA menyiasatinya cuma dengan menerakan Sajak Satu hingga Sajak Ketiga puluh empat.
***
Sajak ditulis  jutaan penyair bukan tanpa proses. Ada pergulatan gagasan, intrik batin, bahkan keisengan  yang menggumpal di dada dan benak. Ketika gumpalan itu menyesakkan, sajak jadi ada.
Tema bisa jadi mengikuti kemauan penyair atau sebaliknya.  Pengalaman sublim, lantas menjadi semacam katarsis yang berpotensi menjadi penawar bagi “ke-plong-an gagas” yang mendesak dan lampiasan yang tepat sasar. Itu sebabnya, apa pun pengalaman yang mampir di benak dapat mewujud sajak.

Sejumput konsep tentang rima, dapat dimanfaatkan. Rima tidak melulu bergenit-genit sekedar bermain-main bunyi jadi sepadan. Rima justru dapat dimanfaatkan agar mampu menyugesti kefanaan makna.

 

Demikian pula diksi. Keberadaannya dapat dipicu untuk menyasar ide yang meledak-ledak dan menafsir segala makna. Bagi penyair, diksi adalah alat yang dapat diperani sejumlah muatan: eufonik, menegas gagas, dan dalam konteks lebih luas adalah wacana. Bagi penikmat sajak, diksi adalah wacana terbuka yang boleh dimaknai ketika dibacakan di pentas atau dibaca secara diam-diam.

 

Membaca  sekumpulan sajak “Tanju” (“Tanpa Judul”) karya Dias Putri Samsoerizal adalah menatap pengalaman, menemu umpatan, meninju keadaan yang dikemas secara apik dalam larik-larik sajak. Sebuah sajak yang ditulis pada 22 Maret 2014 itu dengan renyah diucap:

 

jika merasa memiliki cerita indah

mengapa memilih berpisah?

jika memiliki cerita indah

mengapa makna pisah yang
kau unggah?

H U A H

hendak mengusik?

Tidak!
Tidak!

Tidak!

 

kalian hanya sekelumit riwayat
lalu

jadi, silakan
berlalu

riwayat kini hanya
milik kami

dan silakan kau
tetap berlalu

 

Kemenarikan kumpulan sajak ini  semuanya tak bertajuk – tanpa menerakan judul (!). Penyair agaknya ingin  memberikan hak asasi atau ruang terbuka bagi
para pengapresiasi sebagai pembaca atau penikmat sajak-sajaknya. Dua larik
sajak menarik berikut, bisa saja kita beri judul, misalnya: misteri  aku takut pada malam karena pekatnya

 

Sebagai warga baru dalam persajakan, perjalanan kepenyairannya masih perlu diuji. Alam kelak akan menyeleksinya: apakah dia tergolong taat pada profesi yang menjadi pilihannya! ***