Beranda Seni Sastra Membaca Kembali Indonesia, Lamban Sastra Isbedy Gelar Politisi Baca Puisi

Membaca Kembali Indonesia, Lamban Sastra Isbedy Gelar Politisi Baca Puisi

183
BERBAGI
Isbedy Stiawan ZS

TERASLAMPUNG.COM — Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS akan mengadakan tasyakur di tempat baru, Jalan Turi Raya Labuhan Dalam, Tanjungsenang, Bandarlampung, Sabtu (3/8/2019) mendatang.

Acara yang mengusung tema “Membaca Kembali Indonesia” sekaligus merayakan HUT ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia ini diharapkan dihadiri banyak politisi.

“Kami mengundang 32 politisi Lampung untuk membaca puisi,” kata  Agusri Junaidi, ketua panita, dalam rilisnya yang dikirim ke redaksi Teraslampung.com, Selasa, 15 Juli 2019.

Menurutnya acara Politisi Baca Puisi ini mengawali progran Lamban Sastra di tempat baru setelah hampir dua tahun istirahat.

“Acara ini kami namakan Politisi Baca Puisi, dengan tema Membaca Kembali Indonesia,” jelas Agusri di Lamban Sastra, Selasa (16/7/2019).

Dikatakan Agusri, pihaknya sudah menyebarkan undanga ke politisi. Diharapkan hingga 26 Juli ada konfirmasi kesediaan atau tidak.

“Dari konfirmasi itu kami akan membuat banner dimana ada foto para politisi,” katanya lagi.

Ia berharap politisi Lampung dapat meramaikan panggung Membaca Kembali Indonesia. Pangggung ini juga sebagai silaturahim politsi dengan konstiuen, seniman, dan pemerhati sastra.

Panggung Puisi Politisi Lampung ini, masih kata Agusri, umtuk saatnya bersama-sama “Membaca Kembali Indonesia” melalui karya-karya puisi.

Sementara itu, Syaiful Irba Tanpaka menjekaskan bahwa kita memaklumi bahwa karya sastra sangat dekat dengan masyarakat, dan negara pun memiliki kepedulian pada sastra.

“Dari panggung Lamban Sastra Isbedy, kita pertemukan antara pokitisi dan masyarakat, puisi pada politisi dan pemerhati.”

Pengampu Lamban Sastra, Isbedy Stiawan ZS menambahkan, kedekatan negara dengan karya sastra dapat dibuktikan dengan teks Sumpah Pemuda yang dikonsep oleh Muhammad Yamin.

Isbedy mengutip pernyataan Sutardji Calzoum Bachri bahwa teks Sumpah Pemuda adalah puisi dengan “P” (kapital).

“Teks Sumpah Pemuda itu futuristik dan universal. Saat itu Indonesia masih in absentia,” tegas Isbedy.

 

Loading...