Beranda Seni Sastra Menikmati Sepi dalam “Pendar Plasma” Marina Novianti

Menikmati Sepi dalam “Pendar Plasma” Marina Novianti

278
BERBAGI

Oleh Isbedy Stiawan ZS

SEHIMPUN puisi karya Marina Novianti dalam Pendar Plasma saya terima melalui pos elektronik (e-mail) beberapa hari lalu. Awalnya, saya diminta menjadi pembahas saat peluncuran buku puisi ini di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, 18 Mei 2014.

Sayangnya, saya tak dapat memenuhi harapan Marina, penyair yang saya ketahui merupakan pendatang baru dalam dunia sastra Indonesia.

Dari puisi-puisi Marina yang dibagi dalam tiga subbagian ini, saya merasakan adanya kerlip, kilau, binar, cahaya, kirana (padanan dari pendar, buka Tesaurus Bahasa Indoensia, Eko Endarmoko) yang menguar dari plasma (barang cair tidak berwarna yang menjadi bagian darah, atau bagian dari sistem usaha pertanian/perkebunan yang bertugas memroses prduksi dan memasok hasil produksinya kepada pabrik, baca: Wikipedia).

Baiklah, saya perkenalkan dahulu buku Pendar Plasma ini terbagi tiga bagian: I. Interstellar, memuat 24 puisi; 2. Ionisasi (16 puisi), dan III. Aorora (17 puisi).

Dari judul buku dan subbagian yang dipilih, menunjukkan bahwa penyair ini sangat akrab dengan nama-nama dalam ilmu pengetahuan alam dan tubuh manusia.

Sementara, Marina Novianti mengelompokkan kumpulan puisi ini dalam tiga kategori (tema), yaitu puisi-puisi tentang hubungan (manusia) dengan Tuhan, kedua tentang interaksi dengan lingkungan atau masyarakat, dan bagian ketiga adalah puisi-puisi yang berbicara tentang cinta.

Pengelompokan tema ini bukan tidak sengaja. Artinya, penyair bekerja keras memilah dan memilih puisi-puisi yang ada kemudian di keplompokkan sesuai tema yang diinginkan. Meski pun banyak penyair yang juga melakukan serupa.

Buku Pendar Plasma Marina Novianti ini menghimpun 57 puisi, yang ditulis dari 2012 sampai 2014. Titimangsa penciptaan tidak runut karena disesuaikan pada tema (kategori) tersebut.

Karena itu pula dalam pembacaan pada puisi-puisi Marina, saya lakukan “serampangan” dalam arti merunut pada suasana hati saya. Terus terang, saya menyuka sepi, maka saya pilih suasana sepi.

GUMAM BULAN

malam bergelung selimut kelam
bulan sabit melengkung sendirian. muram
mungkin bintangbintang terlelap, ia bergumam

MN, Agustus 2013

Puisi “Gumam Bulan” ini, suasana sepi (sekaligus muram) seakan menohok hati. Saya amat menyikai bulan, bintang, dan hal-hal yang bernama malam. Pada malam, saya menemukan misteri hidup ini. Ada kelam, sekaligus juga saya merindukan pendar (cahaya/sinar/kerlip) meskipun hanya dari kunang-kunang.

Saat menikmati puisi ini, saya membayangkan ada bulan di langit sana. Malam tetap terasa kelam, hanya sesabit buan sendiri di langit karena tiada bintang. Saya seperti memaknai sepi, membaca kesendirian.

Mungkin saja hal itu yang menandai kemuraman dan kesunyian sia aku lirik—dalam hal ini penyair Marina Novianti—saat bertemu malam, sementara bulan sabit tanpa kerlip bintang yang menemaninya. Pada saat-saat seperti ini, siapa pun ia, seperti menangkap keheningan. Dan, kalau tidak “berkhayal” maka hanya gumam.

Suasana sepi berikutnya sang aku lirik, saya dapatkan pada puisi “Senja di Senggigi” Marina. Demikian aku lirik berujar: jemari mentari senja/menelisik di balik kabut/lembut menyentuh biru laut/di gelap permukaan, menari merah jingga.

Di Senggigi, sang aku lirik, juga hanya menemukan kabut, gelap di permukaan (biru laut), seakan menari merah jingga. Dan, suasa kesepian ini, makin dipertegas pada dua baris pada bait terakhir: Semakin dekat. Terendam/Semakin pekat. temaram

Berteman sepi akan membuat kita berangan-angan. Demikian pula aku lirik dalam banyak puisinya yang dihimpun dalam Pendar Plasma ini. Pada sepi, seseorang tahu makna diri. Sebagaimana pendar akan terwujud keberadaannya di saat dikelilingi pekat (kelam). Manusia akan paham arti siang, karena pernah merasakan malam. 

Itu sebabnya, kata Marina, kala sepi ia tetap tidak ingin sendiri: jangan tinggalkan aku, baying-bayang/tanpamu mutlak sendiri (puisi “Bayang-Bayang”). Bagi Marina, baying-bayang adalah keindahan, sebab “aku ada. menyapa dalam sunyi.”

Memaknai sepi, di tangan Marina, bukan saja kemuraman melainkan juga pencarian jatidiri pada ketenangan. Ketenangan diri, cenderung diperoleh saat hening (kontemplatif). Tentu saja, saya tidak mengecap Marina sebagai penyair (ke)sepi(an).

Penyair selalu berada dalam dua alam: sunyi dan riuh. Walaupun penyair memburu ilham atau mengembara jauh, ia tetap berpijak di bumi. Artinya, puisi-puisi Marina tetaplah membicarakan keberadaan manusia, baik itu hubungannya dengan manusia dan mahluk lain, dengan Tuhan, ataupun terhadap alam semesta.

Penyair Marina sangat menyadari bahwa menjadi penyair adalah bergelut dengan sepi, malam, hening, kabut, dan senja. Juga pada laut, bulan sabit, serta kelam.

Sebagaimana dalam puisi bertajuk “Berburu Tepi Cakrawala” yang mengantar penyair ini memahami surga. Surga, diyakini Marina, adalah rumah bagi sirnanya duka derita. Di surga, sebagaimana juga diimani oleh muslim, tempat berhuninya manusia yang dicintai Tuhan.

Karena itu, “nanti, bila waktu tiba/kutahu ke mana harus melangkah/menuju sungai kristal di mana/tiap airmata ditampung penuh cinta” yang membuat manusia sangat merindukan, bahkan memburu segala yang disyaratkan Tuhan.

Intensitas penghayatan penyair terhadap cahaya dan plasma, menunjukkan kekuatan puisi-puisi yang dihimpun di sini. Meskipun, sebagai penyair yang baru datang, Marina masih bergumul pada persoalan yang belum berani melompat jauh (quantum).

Beberapa puisi Marina terkesan hanya luapan perasaan yang ditulis dalam baris-baris (menyerupai) puisi. Tugas penyair, setelah mendapatkan “ilham” semestinya diendapkan lebih dulu, diremuk dalam imajinasi sang aku lirik, lalu ditulis dalam imajinasi yang baru (meminjam penyair Kristianto Agus Purnomo—Kriapur, almarhum).

Dalam penulisan ini, tugas berat penyair adalah memilih kata (diksi), membangun imajinasi baru, merangkum idiom-idiom yang menjadi khas sang penyair. Bukankah meski puisi dipetik dari realitas, namun dalam puisi yang baik terdapat suara (sejarah) lain, seperti dikatakan Octavio Pazz.

Terlepas dari adanya kelemahan puisi-puisi Marina Novianta dalam Pendar Plasma, saya masih menemukan puisi yang saya sukai. Di antaranya yang telah saya kutip di bagian atas, juga puisi brikut ini:

DOA  PENARI

ajari aku, langit dan bumi
sisipkan kuasamu, ruh ilahi
izinkan tiap lekuk gerak lantun nada
menjelma hikayat segenap rasa
tentang awal, akhir dan rahasia di antaranya

MN, Desember 2013

Walaupun kata-kata yang digunakan Marina sederhana untuk membangun puisinya, namun kesederhanaan (mungkin juga kejujuran penyair) itu telah meniupkan ruh ke dalamnya sehingga puisi ini menjadi hidup dan tentu saja memiliki tenaga.

Jadi, menulis puisi diperlukan kejujuran. Dengan kejujuran muncul kejernihan. Tak mesti menulis puisi gelap atau absurd kalau akhirnya tidak berbicara apa-apa: bisu.

Maka, “ajari aku, langit dan bumi… tentang awal, akhir, dan rahasia di antaranya” kerena demikian tugas manusia di muka bumi.

Lampung, 5 Mei 2014

*) tulisan ini merupakan catatan penutup kumpulan puisi “Pendar Plasma” Marina Novianti yang akan diluncurkan 18 Mei 2014 di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta.

————————————————————————————————————————————————-
Isbedy Stiawan ZS, penulis puisi dan cerita pendek, menetap di Lampung. Buku puisinya, antara lain Menampar Angin (Bentang, Jogjakarta), Kembali Ziarah (Gama Media, Jogjakarta), Kota Cahaya (Grasindo Jakarta), Taman di Bibirmu, Dongeng Adelia (Siger Publisher). Sedangkan buku cerpennya, Perempuan Sunyi (Bentas Pustaka), Seandainya Kau Jadi Ikan (Gramedia), Perempuan di Rumah Panggung (Siger Publisher, 2013).

Loading...