Beranda Views Opini Membangun Karakter Menuju Manusia Indonesia Berbudaya

Membangun Karakter Menuju Manusia Indonesia Berbudaya

182
BERBAGI

Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro *)

Pemerintah  Republik Indonesia berupaya membangun karakter bangsa dengan mencanangkan  program Revolusi Mental melalui sektor pendidikan. Program ini digelar pada dasarnya untuk mengatasi adanya indikasi krisis karakter yang terjadi di kalangan generasi muda bangsa saat ini.

Kebudayaan merupakan pondasi cara berfikir, sikap dan perilaku lahirnya Indonesia. Kebudayaan telah menjadi nafas masyarakat Nusantara bahkan sebelum hadirnya Indonesia sebagai entitas negara-bangsa. Kebudayaan sejak dahulu telah menjadi bagian integral dan tidak dapat dipisahkan dari denyut kehidupan  masyarakat Nusantara.

Para pendiri  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pun menyadari betapa kebudayaan merupakan nafas kehidupan dari eksistensi berbangsa dan bernegara, baik secara filosofis maupun konseptual dengan menempatkan kebudayaan sebagai identitas nasional.

Peran budaya dalam membangun dan memajukan bangsa adalah membentuk karakter dan moral bangsa. Krisis karakter, generasi muda yang tidak punya prinsip dan integritas adalah indikasi kegagalan pembangunan kebudayaan. Budaya punya peran yang mendasar dalam membangun bangsa,  karena menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi tatanan masyarakat.

Dilandasi oleh pemahaman pentingnya kebudayaan dalam keseluruhan program pembangunan bangsa menuju Indonesia yang adil, makmur, demokratis dan sejahtera. Tanpa pembangunan kebudayaan, baik itu berupa kesenian, sastra, tradisi lokal ataupun pemikiran budaya, sebuah bangsa akan kehilangan spirit dan ruh kehidupan masyarakatnya.

Untuk itu negara harus meneguhkan kembali kebudayaan yang adiluhung sebagai indentitas nasional.  Negara harus hadir dalam merevitalisasi nilai budaya sebagai rancang bangun pondasi yang kokoh NKRI.

Pendekatan Pendidikan  Budaya

Budaya juga memiliki fungsi lain yang sangat mendasar yaitu pendidikan. Masyarakat yang kehilangan nilai budaya dan tidak mampu mengaktualisasikan seni-budaya akan menjadi masyarakat yang kehilangan pondasi etik dalam tatanan kehidupan mereka.

Kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan diyakini bisa untuk mengembangkan rasa, kreativitas dan imajinasi siswa. Selain itu, kesenian merupakan pendorong pertumbuhan dan pengembangan berbagai bidang kehidupan. Pendekatan kebudayaan menjadi pilihan strategis pemerintah untuk membangun karakter anak bangsa.

Fungsi pendidikan kebudayaan adalah pembangunan karakter suatu masyarakat. Itulah peran fundamental pendidikan kebudayaan dalam keseluruhan program pembangunan yang dicanangkan Negara

Hal ini senada dengan buah pikir Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara juga pernah menyampaikan pemikirannya, kalau pendidikan tidak hanya  mengembangkan kemampuan berpikir, tetapi juga mengembangkan rasa. Untuk itulah pendidikan di Indonesia diarahkan untuk membentuk manusia seutuhnya. Kemampuan siswa perlu dikembangkan, tidak hanya di bidang akademik, keagamaan , olahraga tapi juga di bidang seni.

Kita ketahui dalam pendidikan terangkum unsur pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap(attitude) yang terpadu dalam kreativitas dan kepribadian siswa.

Dalam kaitan itu, siswa sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki bekal pendidikan kognitif, afektif, dan motorik yang selaras dan seimbang.

Tetapi yang jadi pokok persoalannya selama ini mata pelajaran budaya (kesenian) tak mendapat porsi yang cukup dalam kurikulum dan juga terbatasnya guru seni budaya.

Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah

Menghadapi situasi ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sudah sejak tiga tahun lalu menginisiasi Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Gerakan ini merupakan kegiatan yang menghadirkan langsung seniman (pelaku  seni)   terjun ke sekolah-sekolah selama beberapa pertemuan untuk membekali siswa sekolah dibidang seni dan budaya.

Program GSMS ini pada prakteknya  dikemas dan  dijalankan sebagai pelajaran ekstra kulikuler, agar para siswa dapat menyerap secara langsung pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki para seniman yang menjadi guru tamu dalam jangka waktu yang ditentukan. Dengan program ini para siswa diharapkan dapat mengenal dari dekat kesenian-kesenian  terutama di daerah masing-masing yang tidak diperoleh di bangku sekolah, buku-buku, maupun sumber-sumber pengetahuan yang lain.

Gerakan Seniman Masuk Sekolah ini berupaya membantu dan memfasilitasi keterbatasan sekolah-sekolah dalam menghadirkan guru seni budaya yang selama ini menjadi kendala di satuan pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK di Indonesia.

Gerakan Seniman Masuk Sekolah diharapkan bisa  menjangkau sekolah-sekolah yang belum dapat menyelenggarakan ekstrakulikuler seni.  Seniman yang dihadirkan Gerakan Seniman Masuk sekolah ini pun beragam, mulai dari seni musik, tari, teater, sastra, film,seni rupa,  seni media baru dan lainnya.

Gerakan Seniman Masuk Sekolah ini merupakan salah satu upaya membawa kesenian kembali ke sekolah. Muaranya pada akhir masa belajar, para siswa diharapkan dapat melakukan pertunjukan atau pameran dari hasil pembelajarannya. Diharapkan juga para siswa  kelak bisa turut meramaikan dunia kesenian  paling tidak menjadi  penonton yang apresiatif.

Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah  ini harus dipahami bukan sekadar mengajarkan kesenian hanya sebagai sebuah proses kreatif  kepada para siswa, tetapi juga sebagai wahana penguatan karakter melalui penanaman dan penyerapan nilai-nilai positif yang terkandung dalam kesenian itu.

Seniman yang hadir sebagai pengajar harus memahami kesenian yang diajarkan juga sebagai sarana edukatif  kepada siswa. Jadi,kesenian tak hanya di maknai sebagai tontonan saja, tetapi juga sebagai tuntunan. Untuk itu, seniman ketika terjun ke sekolah sebagai pengajar, tentunya harus menggali dan mengeksplorasi aspek-aspek nilai-nilai pen didikan melalui seni yang diajarkannya.

Dengan harapan aspek-aspek edukatif dalam kesenian yang diajarkan  dapat memberikan pengayaan bagi siswa untuk mengembangkan karakter masing-masing.

Muara GSMS

Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah  diselenggrakan agar siswa memahami dan dapat mengasah kepekaan terhadap nilai-nilai positif seperti nilai kejujuran, keberanian, solidaritas, dan kebhinekaan.Kesenian juga harus dijadikan wahana untuk memupuk sikap-sikap toleran.

Hal itu didasari oleh kenyataan bahwa ruang ruang kebhinekaan dalam masyarakat kita semakin menyempit. Disini kesenian dapat ambil bagian untuk menumbuhkan dan memperkuat kembali nilai-nilai tersebut, sehingga siswa dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Gelaran Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah  yang diluncurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan  diharapkan juga bisa menjadi wahana menguatkan pendidikan dalam hal ini melahirkan  siswa-siswa  yang berkarakter dan berbudaya sebagai modal dasar menuju perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik,  mandiri dalam bidang ekonomi,   berkepribadian, dan berbudaya.****

*) Pemerhati pendididikan dan kesenian bermukim di Bandarlampung.

 

Loading...