Beranda Views Opini Membangun Kebudayaan Membaca dan Menulis

Membangun Kebudayaan Membaca dan Menulis

276
BERBAGI
Para guru SMA/SMK di Lampung belajar menulis di sebuah acara pelatihan yang digelar Lampung Media Center (LMC).

Asarpin*

Sebagaimana menulis, membaca adalah sebuah laku budaya. Membaca mungkin bukan hal yang pertama yang saya lakukan semasa kecil, melainkan menulis. Sebagai bocah saya mulai dengan memegang pensil, mencoret, lalu mewarnai atau menggambar, menebalkan huruf-huruf, kemudian perlahan-lahan memasuki huruf demi huruf dengan bantuan ayah dan ibu. Ketika usia sekolah saya masih belajar mewarnai gambar, belajar membaca dan mengeja hingga kemudian dua proses ini berlangsung secara bertukar- urutannya sampai saya bisa berani mengatakan bahwa saya suka membaca dan menulis sekaligus.

Kebudayaan membaca tidak pernah terpisah dengan kebudayaan menulis pada masa kanak-kanak kita. Baru ketika sudah besar, entah mengapa membaca seakan mulai berjalan sendiri-sendiri dan semakin jauh terpisah dengan menulis. Terkadang orang lebih asyik dengan bahan bacaan dan tidak sampai memiliki pengalaman menulis. Dengan kata lain: ada orang yang hanya berhenti sebatas membaca dan tak pernah memiliki pengalaman menjadi penulis.

Seorang penulis yang baik sudah bisa dipastikan seorang yang membaca dengan baik. Jika ia disuguhkan teks tertulis untuk dibaca, maka ia akan membacanya dengan enak didengar telinga. Saya seringkali menjumpai seorang politikus atau guru yang jika disuruh membaca saja terbata-bata dan tidak enak sama sekali. Membaca saja tidak lurus apalagi menulis. Di zaman ini banyak orang meremehkan membaca, karena dianggap sudah selesai dan tidak perlu lagi diajarkan.

Coba kita suruh anak SLTP atau SLTA membaca teks cerita atau puisi, sebagian besar pasti jelek dan membosankan mendengarnya. Itu karena mereka tidak terlatih dengan baik cara membaca. Bahkan kalangan mahasiswa saja banyak sekali yang tidak bisa diandalkan ketika disuruh membaca teks pidato atau teks cerita.

Yang menyedihkan saat ini adalah orang banyak sudah terjun jadi penulis tapi membaca saja tidak lurus. Orang mengaku sebagai penulis tapi malas membaca. Bisa saja ia berhasil menulis, tapi tak menjamin tulisannya berkualitas. Seorang pembaca yang baik berpeluang menjadi seorang penulis yang baik. Mungkin hanya soal waktu atau kesempatan. Dan membaca sungguh laku hidup yang mengasyikkan, mirip seperti orang tamasya ke tempat-tempat yang sangat disukainya. Ini berlaku bagi mereka yang sudah keranjingan membaca.

Tamasya membaca seperti bertamasya ke belantara kata-kata untuk menemukan kedalaman dan kebermaknaan dari kehidupan. Tak banyak orang yang bisa membaca sesungguhnya, sebagaimana hanya sedikit orang yang bisa menulis sungguh-sungguh. Sudah bisa dipastikan di zaman ini: orang yang asal membaca akan menghasilkan tulisan asal-asalan.

Membaca adalah pondasi utama pendidikan. Membaca butuh belajar, yakni belajar membaca. Tiap kali saya membaca buku baru, saya seperti belajar membaca kembali. Demikian pula menulis, tiap kali saya mulai menulis saya harus belajar menulis lagi, menyusun dan menata kalimat lagi, memperbaiki tanda baca dan menguatkan argumen. Begitu seterusnya.

Laku membaca dan menulis ini saya teladani dari puluhan penulis, baik penulis lokal maupun mancanegara. Untuk sampai hobi membaca saya mesti memperbanyak bahan bacaan sehingga membaca menjadi kegandrungan, menjadi kebutuhan yang sama pentingnya dengan makan atau minum. Demikian pula menulis, puluhan atau ratusan penulis yang karya-karya mereka telah saya baca, yang saya jadikan teladan dan acuan dalam karir menulis sehingga menulis bagi saya di hari ini adalah perkara menggairahkan.

Sebagaimana menulis, kata Mario Vergas Llosa, laku membaca pada dasarnya adalah protes terhadap tidakmemadainya hidup. Saya merasa hidup saya tidak memadai. Maka saya mencari dalam karya fiksi maupun fakta apa yang kurang dalam hidup, dan saya seperti sedang mengatakan–tanpa perlu mengucapkannya atau bahkan mengetahuinya. Bahwa hidup sebagaimana adanya ini tidak memuaskan dahaga saya, jikalau saya tak banyak membaca.

Baik menulis maupun membaca memiliki tingkatan yang barangkali tidak disadari oleh semua penulis. Tingkatan membaca sungguh amat kaya, dan tak segampang yang dibayangkan orang. Para penulis besar memang banyak membaca, tapi bukan sekadar membaca, mereka juga menyeleksi bacaan yang bermutu. Karena banyak membaca, dengan sendirinya mereka mengerti mana buku yang betul-betul bermutu dan buku jelek.

Beberapa waktu lalu terbit buku berjudul Bengkel Baca, buah pena Septriana Murdiani. Saya katakan buku ini bagus, karena penulisnya begitu berani menerbitkan buku “panduan cara membaca”. Banyak orang terpikir untuk membuat buku tentang cara praktis mengajarkan anak membaca, tapi mereka tak sempat menulis, atau mereka kebingungan akan mulai darimana mengajarkan anak-anak membaca. Atau mereka merasa terlalu banyak yang harus disampaikan atau terlampau tinggi bahasa yang harus disajikan sehingga buku mereka tak jadi-jadi.

Buku Bengkel Baca muncul untuk mengisi kekosongan bahan bacaan praktis untuk pendidikan membaca yang tak sempat atau tak mampu ditulis oleh para penulis lain. Buku semacam ini telah lama ditunggu-tunggu. Ia menjadi semacam peta panduan untuk mengajarkan anak mencintai buku, mendekatkan anak kepada buku atau bahan bacaan. Semua orang tua yang suka membaca mengharapkan agar anaknya rajin membaca, intim dengan bahan bacaan, berkhidmat dengan bacaan, tapi mereka kebingungan cara mengajarkannya secara praktis. Buku Bengkel Baca adalah jawabannya.

“Baca—Bacakan—Bicarakan—Dengarkan—Catat”

Itulah secuil kiat yang ditawarkan buku Bengkel Baca. Yang maknanya sejalan dengan ajakan untuk membangun kebudayaan membaca dan kebudayaan menulis secara berkesinambungan, di rumah, di sekolah, di mana saja.

Buku Bengkel Baca amat sederhana dari segi bentuk dan materi. Tapi justru kesederhanaan ini menjadi sihirnya, menjadi kekuatannya. Ia menjadi salah satu buku bermutu di tengah lautan buku. Buku yang akan memulai langkah kita—para orang tua dan pendidik— untuk segera membangun kebudayaan buku; kebudayaan membaca dan menulis dengan syik dan enjoi. Sebab penulisnya, Septriana Murdiani, memiliki bahasa ibu yang peka, pengalaman yang kaya di dunia pendidikan, hingga kata-katanya dapat diterima oleh anak-anak kecil maupun orang dewasa.

Maka, bacalah: karena dengan membaca, laku pribadi terasa lebih asyik dan menggairahkan!

*Kolumnis

Loading...