Membangun Koperasi dan UMKM, Kenali Dulu Persoalan Pokoknya

  • Bagikan
Produk UMKM Lampung Tengah

Supriyanto/Teraslampung.com. 


Produk UMKM Lampung Tengah siap bersaing. (Foto: Teraslampung.com/Supriyanto)

GUNUNGSUGIH–Membentuk koperasi tidak terlalu sulit, tapi tidak sedikit koperasi yang dibentuk tak mampu berkembang sesuai dengan harapan. Memang sangat sulit untuk membangun koperasi menjadi maju dan berkembangan bila persoalan pokoknya tidak diselesaikan.

Diakui Kepala Dinas Koperasi dan UKM Lampung Tengah Syahriza, di Lampung Tengah belum banyak koperasi yang berkembang dan maju, tapi setidaknya koperasi yang sudah maju bisa dijadikan contoh bagi koperasi lain yang kondisinya masih belum menggembirakan.

Menurut Syahriza, untuk meningkatkan kemajuan kelembagaan koperasi harus dilihat dahulu persoalan pokoknya. Selama ini, permasalahan pokok yang dihadapi koperasai, khususnya di Lampung Tengah di antaranya, persoalan kualitas sumberdaya manusianya (SDM).

Bagiamanapun  baiknya motivasi yang diberikan untuk membangun kelembagaan koperasi bila SDM-nya belum siap maka akan sia-sia. ”Kalaupun terbentuk lembaga koperasinya, bila kegiatan yang ada tak berkembang sebagaimana yang diharapkan, cepat atau lambat lembaga koperasi itu akan beku,”katanya.

Bagaimana meningkatkan SDM Koperasi, masih terus dicari solusinya , tentunya sesuai persoalan yang ada. Langkah awal untuk meningkatkan kualitas SDM Koperasi adalah melakukan pelatihan peningkatan manajeman koperasi. Tahun lalu, kata Syahriza, pihaknya hanya mampu mengikutkan 30 orang pengurus koperasi untuk pelatihan, tentunya saja pembatasan ini karena anggaran yang tidak memungkinkan.

”Pelatihan terhadap pengurus ini sangat penting untuk memberikan peningkatan pengetahuan pengelolaan koperasi yang baik,”katanya.

Ke depan, kata dia, untuk meningkatkan kualitas SDM pengelola koperasi harus ada aturan yang ketat terhadap penetapan pengelola koperasi mulai dari staf hingga manajer, mereka harus mempunyai kopetensi tentang manajemen perkoperasian. Sehingga pengurus koperasi memiliki kemampuan yang layak untuk memimpin lembaga koperasi.

Tentunya, sudah harus dipikirkan tentang materi pelatihan secara berjejang sebagai syarat bisa menduduki kepengurusan koperasi.

”Bagi pengelola koperasi perlu terus ditingkatkan pendidikan dan pelatihannya baik prekwensinya maupun materi yang diberikan,  sertifikat sebagai bukti telah mengikuti uji kopetensi disetiap jenjang pelatihan, dengan sertifikat itu mudah memposisikan jabatan di dalam mengelola Koperasi. Yang belum miliki sertifikat kopetensi tentu belum bisa menjadi pengelola koperasi,”katanya.

Selain masalah SDM, persoalan koperasi yang harus diselesaikan  adalah masalah permodalan. Tidak sedikit Koperasi di Lamteng, masih kesulitan untuk  bisa mengakses permodalan. Omong kosong, koperasi harus maju tapi tidak bisa mengakses modal.

Agar Koperasi bisa mudah mengakses modal,  tentunya lembaga koperasi harus terlebih dulu dibenahi. Misalnya ketaatan dalam menggelar rapat anggota tahunan (RAT), ketertiban adaministrasi dan manajeman lembaga koperasi. Artinya, untuk menjadikan koperasi bisa tumbuh dan berkembang harus dibina kelembagaannya dahulu. Bila kelembagaan sudah kuat, maka akan mudah mengakses modal serta pengembangan usaha.

 ”Kalau sudah kuat monggo, mau mengembangkan usaha bidang apa saja silahkan, ini sudah diluar kewenangan kami. Artinya untuk maju kelembagaan koperasi harus dikuatkan dulu,”katanya.

Di antara bagian untuk membangun kekuatatan kelembagaan koperasi, kata Syahriza,  melalui anggaran 2014 pihaknya telah melakukan kegiatan magang kepada beberapa pengurus koperasi Lampung Tengah ke Kabupaten Karang Anyar Jawa Tengah.

Pengurus koperasi yang diikutkan magang adalah semua jenis koperasi seperti simpam pinjam, koperasi pola syari’ah, koperasi konvensional. Mereka diajak meninjau koperasi agar bisa mengambil ilmunya, mulai dari cara memenej koperasi supaya bagus, hingga bagaimana mengkases modal.

“ Kami sudah mencoba untuk membangun koperasi tapi baru sebatas itu,”katanya.

Disinggung sinergi antaran Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Lampung Tengah dengan Dinas Koperasi dan UKM Lampung Tengah, Syahriza mengaku, hubungan selama ini masih sebatas  kordinasi. Karena hubungan Dinas Koperasi dan Dekopinda sebatas kemitraan. Sehingga setiap kegiatan pelatihan koperasi baik yang dilakukan dinas Koperasi maupun Dekopinda saling terlibat, biasanya menjadi narasumber.

”Karena Dekopinda sebagai wadah pelaku koperasi, maka maju dan tidaknya koperasi sedikit banyak ikut bertanggungjawab untuk membinanya, setidaknya ikut menyelesaikan setiap persoalan yang ada di koperasi yang menjadi anggota Dekopinda,”katanya.

Terkait dengan kondisi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Lampung Tengah, Syahriza, juga mengaku persoalannya tidak jauh berbeda dengan kondisi Koperasi. Setelah melakukan pendekatan guna memahami persoalan yang ada di UMKM, ternyata kendala utamanya masih berkisar pada SDM, dan permodalan.

Sebagian besar pengelola UMKM belum terbangun secara baik dan maksimal jiwa kewirausahaannya. Untuk itu, tahun lalu sudah dilakukan pelatihan kewirausahaan beberapa hari kepada bebarapa pelaku UMKM dan Pengurus Koperasi.

Kegiatan ini untuk menumbuhkan kewirausahaan di kalangan pelaku UMKM dan koperasi, sehingga mereka mampu memenej usahanya lebih baik dan berkembang.

”Kami datangkan pelatih dari Jawa. Dalam pelatihan itu peserta benar-benar dikosongkan pikirannya, dengan memompa bagaimana dalam pikiran mereka tumbuh semangat kewirausahaan yang maju. Sehingga selesai Diklat tumbuh jiwa kewirausahannya,”katanya.

Seorang membuat usaha kecil tanpa memiliki jiwa kewirausahaan tentu sulit berkembang atau mungkin bisa gagal. Dicontohkannya, seorang pelaku usaha kecil mendapatkan pijmanan modal usaha, karena jiwa kewirausahannya masih kurang, setelah uang diterima secara tidak sadar dia gunakan uang itu untuk kebutuhan konsumsi, atau untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan usahanya.

”Bila ini yang terjadi tentu modal pinjaman akan habis percuma. Salah dalam penggunaan modal ini, akibat tidak memiliki jiwa kewiarusahaan, ini sebuah kesalahan dalam berusaha,”katanya.

Masalah lain adalah terkait dengan  permodalan dan kemitraan. Tidak sedikit UMKM yang menjerit butuh bantuan modal dan membangun kemitraan. Usaha memfasilitasi modal dan pemasaran terus dilakukan. Agar produk UMKM kita siap bersaing dipasar, tentunya selain kualitas produknya bagus, juga kemasan produk yang menarik. Persoalan kemasan produk ini belum menjadi perhatian serius pelaku usaha kecil Lampung Tengah.

”Mungkin ini terlihat masalahnya kecil tapi sangat berdampak, kami sudah mengajak pengerajin untuk memulai mebuat  kemasan yang menarik, termasuk mulai dipikirkan pengurusan sertifikat halal dari MUI dan sertifikat higyn dari Dinkes, termasuk perijinan,”katanya.

Bagaimana pelaku UKM akan dapat dengan mudah mengkases modal kalau perijinan dan surat-surat lain belum dimiliki. Masalah dasar inilah, tandas Syahriza, yang masih terus benahi agar UMKM bisa dinaikan kelasnya. Kami juga sudah melakukan sosialisasi tentang Hak Kekayaan Intelektual(HAKI) kepada pelaku UMKM, dengan harapan mau mematenkan produk yg mereka punyai agar tidak dibajak orang lain. Karena banyak produk UMKM yang menjagi unggulan tapi belum memiliki hak paten.

”Kalu sudah punya hak paten, walaupun nantinya banyak produk serupa yang muncul, tidak menjadi problem, setidaknya  sudah mampu bersaing dengan produk lain yang sama jenisnya,”katanya.

  • Bagikan