X
    Categories: Feature

Membangun Rumah Dunia dengan Kata-Kata

Anak-anak asyik mendengarkan dongeng di Rumah Dunia.

Oyos Saroso H.N./Damanhuri

Membangun budaya baca dan menciptakan masyarakat yang menghargai betapa bermaknanya rangkaian aksara ternyata tak selamanya berenturan dengan keterbatasan dana yang tersedia. Tekad kuat, kerja keras, dan ketulusan niat saat berupaya mewujudkannya di tengah masyarakat, merupakan kunci yang lebih penting dari segalanya. Dan para penggiat Rumah Dunia telah membuktikannya.

Sebagai lembaga nirlaba, Pustaka Rumah Dunia menyelenggarakan pendidikan menulis dan bercerita kepada para pelajar, mahasiswa,  pengamen, dan anak-anak secara gratis. Siapa pun boleh mengikuti kegiatan Rumah Dunia (RD)tanpa dipungut biaya. Satu-satunya kewajian calon siswa adalah menyumbangkan sebuah buku untuk menambah koleksi perpustakaan.

Pertanyaan yang segera muncul tentu saja menyangkut perolehan dana dan pengelolaannya untuk segala aktivitas yang dijalankan?

“Sejak awal kami berrtekad untuk belajar mandiri secara finansial. Kami menolak untuk menggunakan dana bantuan APBD karena kami khawatir tidak bisa menggunakannya secara optimal. Biarlah APBD untuk kesejahteraan rakyat yang masih membutuhkan.  Anak-anak muda yang ingin kreatif harus pula kreatif menggali sumber dana lain yang halal,” kata Gola Gong, pendiri dan ketua Pustaka Rumah Dunia.

Tak sekadar berusaha mandiri secara finansial, demi independensi ‘secara ideologi’  Rumah Dunia pun tidak tertarik mencari sumbangan dana dari lembaga donor asing. Sebagai alternatif penggalian dana, Gola Gong dan para aktivis Rumah Dunia lainnya menyumbangkan 25 persen hingga 50 persen royalti buku-buku karya mereka. Gola Gong sendiri bahkan merelakan seluruh royalti dari lima buah novel best seller-nya untuk pembelian tanah tempat berdirinya Rumah Dunia itu. Aliran dana juga mengalir dari honorarium tulisan mereka yang diterbitkan secara rutin seminggu sekali di sebuah harian lokal dan sejumlah sumbangan rutin dari para simpatisan.

“Itu cara aman yang mendidik anak-anak muda. Dengan cara itu diharapkan mereka makin termotivasi  untuk menciptakan karya sastra dan menulis di media massa,” ujar  pengarang yang kini mulai menekuni fiksi Islam itu.

Meski menolak dana APBD dan donor asing, Pustaka Rumah Dunia tetap mau menerima bantuan, asal bantuan itu tidak mengikat dan berkaitan dengan program Rumah Dunia. Sumbangan dari beberapa pihak—perorangan maupun perusahaan—itu dimanfaatkan Gola Gong untuk membangun pagar dan panggung serta beasiswa bagi murid-murid Rumah Dunia.

“Selain untuk menambah fasilitas dan biaya operasional, sumbangan itu juga kami pakai untuk beasiswa ke SMP, SMA, dan perguruan tinggi,” kata Gola Gong.

Perorangan yang aktif menyumbang antara lain rektor Universitas Tirtayasa (menyumbang Rp200rb/bulan, novelis Fahri Azisa Rp100rb/bulan. Sementara lembaga yang rutin menyumbang adalah penerbit Gagas Media (Rp 250 ribu/bulan dan  Harian Radar Banten (Rp 200 ribu/bulan).

Menurut Gola Gong, kini para siswa yang tergabung di kelas menulis Rumah Dunia umumnya sudah mandiri. Itu karena mereka sudah banyak yang lancar menulis dan dipublikasikan di media massa maupun diterbitkan dalam bentuk buku. Ada pula beberapa di antaranya yang kemudian menekuni profesi sebagai jurnalis.

“Kelas menulis bergulir sejak 2002 dan masih berlangsung sampai sekarang,” kata pengarang yang lahir di Purwakarta, Jawa Barat itu.

Mengadopsi metode belajar dari alam ala Sekolah Santiniketan yang dibangun Rabindranath Tagore di Calcuta, India, Pustaka Rumah Dunia gigih melakukan perlawanan moral terhadap praktet-praktek kolusi, korupsi, dan nepotisme di bumi Banten dengan pena. Para aktivis Rumah Dunia ingin membuktikan bahwa Banten tidak identik dengan jawara.

“Kini di Banten sedang ada pertarungan antara ‘Banten Membaca’ dengan ‘Banten Belanja’. Kami ingin menggerakkan pemuda Banten untuk bangkit. Mereka harus rajin membaca dan menulis untuk menaklukkan dunia,” kata Gola Gong.

Berada sekitar lima kilometer sebelah timur Kota Serang, Pustaka Rumah Dunia jauh dari hiruk-pikuk kota. Gola Gong harus mengeluarkan uang sebesar Rp 200 juta untuk membeli tanah seluas 1.000 M2 itu yang berada di dekat pintu masuk jalan tol Serang Timur. Uang itu berasal dari  honorarium Gola Gong sebagai penulis novel. Itulah sebabnya, Gola Gong sering mengatakan bahwa  Rumah Dunia dibangun dengan kata-kata.

“Uangnya saya peroleh dari royalti novel Padamu Aku Bersimpuh (penerbit Dar! Mizan, 2001), yang kemudian disinetronkan di RCTI (2002) serta Al-Bahri (As-Syaamil, 2001) yang kemudian diminiserikan di TV7. Juga dari novel-novel lain dan skenario  yang saya tulis bersama istri saya; Tias Tatanka.,” kata karyawan RCTI yang pernah mengajukan pensiun dini tetapi ditolak itu.

Karena bekerja di RCTI, Gola Gong sering mendapatkan tawaran menulis skenario dari production house (PH). Merasa tak enak hati dengan RCTI, Gola Gong kemudian melimpahkan job itu kepada istrinya. Tias Tantaka bisa menulis skenario karena sejak menikah dengan Gola Gong pada 1997 lalu dia ajari oleh Gola Gong.

“Sekarang saya mensupervisi skenarionya. Itulah sebabnya saya menulis prasasti di Pustaka Rumah Dunia: RUMAHKU RUMAH DUNIA, KUBANGUN DENGAN KATA-KATA (Prasasti 1996 – 2001). Ya, rumah kami memang dibangun dari honorarium menulis,” ujarnya.

Teras Lampung :Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya