Beranda Views Kopi Pagi Membeli Harga Diri

Membeli Harga Diri

245
BERBAGI

Rois Said

Makmun yang baru pulang kerja mendapati Sodik sedang “mengopeh” (Sunda=melakukan kalkulasi, biasanya hitungan perkalian atau pembagian) di kertas bekas bungkus gorengan. Di sampingnya sebuah koran ngablak, seperti habis dibaca. “Ngitung apa sih luh? UN aja udah kelar, nah elu masih aja belajar…” sindir Makmun sembari menaruh tas rombengnya, lalu duduk di tepian ranjang untuk membuka sepatu. Sepersekian menit, bau bangkai langsung menyergap seisi ruangan, seiring telanjangnya kaki Makmun.

Namun, Sodik yang sudah terbiasa dengan aroma busuk itu terlihat cuek. Tanpa menjawab, Sodik cuma mendongak dan mengetuk-ketukkan pensil yang arangnya sudah tumpul, ke bibirnya yang sedikit dower. Matanya berputar-putar seperti mengikuti angka-angka maya yang bertebaran di ambang langit-langit kosan. Makmun penasaran, lalu berdiri untuk melongok ke koran yang terbuka. Terbaca oleh Makmun berita tentang siswa Taman Kanak-Kanak Jakarta International School (TK JIS) yang menjadi korban pelecehan seksual.

“Waduh… keren ya, sampe-sampe enggak cuma satu menteri yang turun tangan, datang langsung ke rumah korban. Ckckckck…” seru Makmun yang kemudian tergelitik untuk meneruskan baca koran.

“Gimana sih lu? Orang musibah dibilang keren?” kali ini Sodik terpancing juga untuk berkomentar.

“Maksud gue keren itu, pemerintah kita hebat, sangat perhatian sama rakyatnya. Menterinya aja sampai mau datang ke rumah orang tua korban. Kasusnya juga sampe ditanganin Mabes Polri. Gimana nggak hebat?”

“Iya sih, emang hebat. Emang keren. Begitu seharusnya pemerintah. Gue cuma ngebayangin, orang-orang di daerah pedalaman sana mungkin enggak didatangin menteri kalo ngalamin kasus yang sama?” celetuk Sodik sembari meneruskan kopehannya.
Seketika Makmun terdiam.

***

Pertanyaan Sodik sangat mungkin menggelitik pikiran banyak orang di kampung-kampung, di dusun-dusun yang jauh dari Ibu Kota. Siapa pun tentu tak ingin mengalami musibah serupa yang dialami M (5), siswa TK JIS. Tetapi, setidaknya kaum pinggiran juga pengin dong punya rasa aman yang sama dengan kaum tengahan. Lho kok tengahan? Iya, kalo ada pinggiran kan biasanya ada juga tengahan.

Yah, apa pun lah itu. Yang jelas, kalau kita melihat data yang diterbitkan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) setiap tahunnya selalu ada tren peningkatan kasus kekerasan seksual kepada anak Indonesia. Sepanjang 2011 saja, ada 2509 laporan kekerasan, dengan 59 persennya kasus kekerasan seksual. Artinya, ada 1.480 kasus kekerasan seksual yang dialami anak Indonesia. Artinya lagi, dalam sehari, ada empat anak yang mengalaminya.

Di tahun 2012, angkanya naik lagi jadi 1635 kasus kekerasan seksual pada anak! Artinya, dalam sehari ada lima anak yang mengalaminya. Terus, selama rentang Januari sampai Juni 2013 terjadi 535 kasus serupa. Itu yang sempat melapor lho. Di luar itu, saya yakin masih banyak kasus yang tersembunyi karena berbagai faktor. Ngeri banget nggak sih?

Ah, enggak usah takut. Kita tawakal saja, semoga Tuhan melindungi anak-anak kita dari gangguan setan yang terkutuk. Lho, tawakal sih tawakal, tapi sadar enggak, yang namanya setan itu, semakin dikutuk maka dia bakal semakin merajalela. Mereka itu kan makhluk frustrasi yang udah dapat vonis enggak akan nyicipin enaknya tinggal di surga. Kalau enggak semakin merajalela, enggak mungkin tuh angka kejahatan meningkat terus.

Oke stop! Enggak usahlah kita menyalahkan setan yang enggak kelihatan. Yang perlu kita tanyakan, ini pemerintah kemana aja? Kok sampai kasus yang serupa terjadi terus berulang-ulang, dan pake acara nambah pula… Kalau pemerintahnya bekerja dengan benar, minimal angkanya ya enggak nambah terus. Selain itu, seperti pertanyaan si Sodik tadi, sudah adil dan merata enggak penanganan pemerintah untuk korban-korban yang ada di daerah? Jangan-jangan kalau enggak ada sorotan kamera media pemerintah akan diam saja.

***

Makmun bergidik dan langsung melemparkan koran yang dibacanya.

“Ngeri gue, Dik! Ngeri! Mending gue enggak kawin aja deh, biar jantung enggak deg-degan terus kalau entar gue punya anak. Kalo bujangan kan gue tinggal bawa diri aja.”

Sodik ternyata masih juga ngopeh. Makmun jadi kesal. Dia tepuk bahu Sodik agak keras, hingga sang kawan terlonjak.

“Woi! Diajak ngomong malah sok sibuk luh! Udeh… bukan tugas lu ngitung data Komnas PA!”

“Sok tahu lu! Gue bukan lagi ngitung data Komnas PA! Ngapain? Kurang kerjaan…” sergah Sodik.

“Lha terus?”

“Gue lagi ngitung berapa keuntungan net mi rebus per bungkus, terus berapa modal yang mesti gue siapin buat buka warung kopi sama mi.”

“Jiahahahaha… gue udah capek-capek berbusa ngomongin kasus anak TK itu, nah elu malah sibuk ngitung mi rebus.”

Sodik lalu nyoret kertas hitung-hitungan tadi dengan dua kata dalam ukuran besar: CARPE DIEM! Lalu ia tempelkan kertas ke jidat Makmun, dan berjalan mencari stok kopi di lemari kecil di kamar itu. Makmun bengong hingga kertas jatuh kembali. Makmun terpaksa membacanya, dan manggut-manggut sambil senyum.

“Bener lu. Kalo capek emang mesti diem…”

“Bukan itu oon… Gue ngitung-ngitung itu buat memetik hari, biar hidup meningkat! Biar gue bisa kaya raya! Kalo udah kaya raya, niscaya pemerintah bakal lebih perhatian sama gue!”

Lagi-lagi Makmun bengong.

Loading...