Membunuh Dalam Diam

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pada saat memberikan kuliah penutup pada program pascasarjana salah satu program studi,  teman satu tim diminta memberikan testimoni tentang perkuliahan tadi. Ternyata ada satu kata kunci yang beliau ungkapkan bahwa bisa saja terjadi ilmu pengetahuan itu “membunuh dalam diam” para penggunanya. Saya seketika terhenyak, ingat Albert Einstein yang menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat,  Franklin D Roosevelt, pada  2 Agustus 1939. Surat yang berisi dorongan untuk meneliti atom itu kemudian berperan besar dalam mengubah dunia sekaligus kehidupan Einstein.

“Surat dalam diam” itu mengubah dunia seisinya, setelah melalui pengembangan bom nuklir dilakukan oleh United States Army Corps of Engineers atas perintah Roosevelt lewat program “Manhattan Project”, sementara itu Albert Einstein sendiri tidak ikut dalam riset itu.

Pada sisi lain ada peristiwa yang tidak kalah pilunya “pembunuh dalam diam nomor satu” yaitu polusi udara. Hasil penelitian di India mengemukakan bahaya mematikan membekap kota-kota, membunuh empat kali lebih banyak manusia dalam setahun dibandingkan Covid-19 (suaramerdeka.com). Di seluruh dunia, hampir 9 juta orang meninggal karenanya pada 2018, dan di India, bahaya ini telah membunuh satu anak setiap tiga menit. Bahaya tersebut adalah polusi. Korban-korban meninggal hanya dengan menghirup udara di sekitar mereka. Udara tercemar. Sebanyak 9 juta nyawa melayang. Apa sumber udara pengap beracun yang meliputi kota-kota? Sebagian besar bahan bakar fosil.

Emisi gas rumah kaca dari batubara, minyak, dan gas bersama-sama menyebabkan pemanasan global, sembari memaksa populasi kota-kota menghirup partikel kecil beracun. Para ilmuwan menyebut partikel paling mematikan ini PM2,5 – yang menembus ke dalam paru-paru dan bisa menyebabkan kanker paru, penyakit jantung koroner, stroke, dan kematian dini. Partikel yang berukuran 2,5 mikro atau lebih kecil itu disebut berbahaya bagi kesehatan manusia karena mereka melewati banyak pertahanan tubuh kita seperti bulu hidung atau lendir.

Perkiraan kematian global, diterbitkan jurnal Environmental Research, menunjukkan jumlahnya meningkat. Totalnya merupakan gabungan orang yang meninggal secara global akibat merokok, ditambah mereka yang meninggal karena malaria. Para peneliti, termasuk spesialis citra satelit jarak jauh dan ahli epidemiologi kesehatan, menggunakan model 3D global kimia atmosfer untuk membedakan antara sumber polusi. Hal ini memungkinkan mereka untuk memetakan lokasi polusi dan referensi silang ke tempat tinggal orang.

Di Asia Timur, pembunuh tak terlihat ini bertanggung jawab untuk hampir satu dari tiga kematian mereka yang berusia 14 tahun ke atas. Di India, polusi udara adalah penyebab kematian tertinggi ketiga, membunuh lebih dari 1 juta orang per tahun. Negara ini merupakan rumah bagi 22 dari 30 kota paling tercemar di dunia, dan Delhi berada di peringkat ibu kota negara paling tercemar di dunia dengan tingkat kematian perkotaan tertinggi 54.000 kematian pada tahun 2020 – kira-kira satu kematian per 500 orang.

Ingatlah, pada 2020, pandemi memperlambat perekonomian dan memangkas emisi CO2 hampir sepanjang tahun. Ini berarti ketika ekonomi nasional pulih dan emisi meningkat lagi, demikian pula tingkat kematian akibat polusi. Berarti kita seakan berada pada dua pilihan yang tidak enak semua akhirnya. Adanya pandemic berarti aktivitas yang menghasilkan CO2 menurun, namun harus kita bayar dengan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi, dan itu berarti pengangguran ada di mana-mana. Sebaliknya Pandemi menurun berarti aktivitas public meningkat, pergerakan ekonomi berjalan, tenaga kerja terserap; namun harus kita bayar dengan peningkatan gas emisi berbahaya.

Bagaimana dengan ilmu sosial ? Ternyata ada pembunuh dalam diam yang merayap sangat lambat tetapi mematikan; yaitu tumbuhnya ideologi ekstrem akibat ketimpangan sosial dalam arti luas yang ada di dalam masyarakat. Tidak jarang ideologi itu menyesatkan, dan pada akhirnya dalam tempo yang panjang akan memporakporandakan negara yang kita diami bersama ini.

Isu ketimpangan sosial kemudian dibumbui dengan issue yang berwarna agama, keduanya ini sangat ampuh jika bergabung untuk digoreng oleh politisi busuk; dibandingkan dengan issue rasial. Kesesatan berpikir dengan membangun silogisme sesat yang didisain sedemikian rupa oleh kelompok tertentu dengan maksud tertentu, lebih cepat menyulut massa untuk melakukan gerakan massa yang bersifat destruktif.

Oleh karena itu, kewaspadaan nasional diperlukan, tetapi bukan berarti membunuh demokrasi, terutama mengemukakan pendapat, atau beda pendapat; namun semua itu disalurkan sesuai dengan etika kenusantaraan. Sebagai contoh bagaimana saudara kita dari Karo tidak harus turun kejalan untuk memperjuangkan daerahnya. Dengan kearifan lokal yang mereka miliki; mereka menyalurkan aspirasinya dengan benar. Mereka tidak terbunuh oleh ilmunya, akan tetapi justru diuntungkan akan ilmunya.

Membunuh dalam diam bisa dilakukan oleh ilmu pengetahuan manakala aspek epistemology dan axiologinya dibelokkan kearah yang bersifat destruktif. Mari kita sadarkan generasi penerus, ilmu tidak lebih adalah alat, tujuan dan kegunaan ilmu itu tergantung kepada pemegang otoritas ilmu. Oleh karena itu bekal rasa nasionalisme keindonesiaan harus kita terus lestarikan kepada generasi yang akan datang, guna menjaga marwah negeri ini dari masa ke masa.***