Opini  

Memenangkan Cita-Cita Kemerdekaan Nasional

Bagikan/Suka/Tweet:
Oleh
: Nyoman Adi Irawan*
Secara resmi KPU sudah menetapkan nomor
urut dua pasang calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang siap
bertarung merebut simpati rakyat dalam momentum puncak tahun politik 2014,
yakni Pilpres pada 9 Juli  mendatang. Dua
pasangan itu adalah Prabowo Subianto – Hatta Rajasa nomor urut 1 dan Joko
Widodo – Jusuf Kalla dengan nomor urut 2. Keempatnya merupakan tokoh politik nasional
yang sudah sangat dikenal rekam jejaknya selama ini.
Uniknya, kedua pasangan ini merupakan
representasi kekuatan politik oposisi yang berbaur dengan unsur kekuatan
politik petahana. Semisal Jokowi dari PDI-P berpasangan dengan mantan wakil
Presiden JK mantan ketua umum partai Golkar dan wapres periode 2004-2009.
Sementara Prabowo dari Gerindra berpasangan dengan Hatta Rajasa yang menjabat menteri selama dua periode Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Duel
Nasionalis
Terlepas itu semua, tahun ini memang
telah menjadi momentum kemenangan bagi kekuatan politik baru yang punya
kecenderungan membangkitkan kembali semangat ideologi nasionalisme ala Bung Karno dahulu. Hasil Pileg
bulan Juli kemarin menunjukkannya dengan perolehan suara yang diraih oleh PDI
Perjuangan di posisi pertama dengan jumlah 18,95 %, Gerindra di posisi ketiga
dengan jumlah 11, 81 %, sementara pendatang baru Nasdem bertengger di posisi 8
dengan jumlah 6,72 %.
Ketiga partai politik ini memang yang
selama ini paling getol menyatakan diri sebagai oposisi dan menghidupkan
kembali nuansa politik ideologis yang kental dengan jargon dan retorika
nasionalisme, semisal semangat restorasi bangsa, trisakti, kebangkitan bangsa,
dan sebagainya. Sementara partai-partai politik lainnya cenderung selalu mengambil
langkah moderat demi menjaga eksistensinya di dalam pemerintahan.
Persoalannya memang selama lebih satu
dasawarsa terakhir, bangsa kita menghadapi situasi pelik yang kian menjauhi
cita-cita kemerdekaan. Alih-alih memenangkan demokrasi politik, reformasi malah
melahirkan gegar kebebasan politik yang membuat para elit sibuk berebut kursi
kekuasaan demi mengamankan posisi kelompok masing-masing. 
Situasi ini telah
begitu melemahkan bangsa kita hingga cengkraman penjajahan asing gaya baru yang
kerap disebut neoliberalisme semakin kokoh meluas. Bagaimana sumber daya alam kita
yang begitu kaya telah dikuasai oleh berbagai perusahan raksasa asing hingga
betapa kuasanya produk impor yang membuat kita ketergantungan. Betapa besarnya
pula lonjakan kenaikan utang luar negeri yang harus kita tanggung sekarang. Ditambah
banyaknya regulasi dan Undang-Undang yang diterbitkan untuk memuluskan
semuanya. Karenanya tak salah jika banyak pihak berpendapat bahwa bangsa ini
belum mencapai kemerdekaan yang seutuhnya.

Indonesia
Menang
Jika kita merujuk pada dokumen resmi
Visi Misi dan Program kedua capres yang dipublikasikan oleh KPU RI, sejatinya
bernuansa selaras dengan mengusung tema kemandirian nasional. Tampaknya mereka cukup
memiliki kesadaran yang sefaham tentang persoalan pokok yang paling mendesak
untuk diatasi bangsa ini, yakni praktik neoliberalisme, serta penegakkan konsep
clean and good government. Namun,
agak disayangkan ketika secara programatik kedua kekuatan
capres nasionalis ini relatif sama, amunisi yang
digunakan untuk bertarung
justru masalah-masalah personal dan rekam jejak. Akibatnya,
rakyat bukan disuguhi gambaran konkret mengenai aplikasi program kemandirian nasionalnya itu, malah hidangan isu-isu kampanye negatif sampai hitam yang
muncul berjejalan. Tentu situasi ini sangat kontra-produktif bagi semangat
kemandirian bangsa itu sendiri.
Kemerdekaan nasional seharusnya menjadi
jalan bagi kita untuk membangun bangsa yang berdaulat di bidang politik,
berdikari di lapangan ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Itu pula yang akan
menjadi landasan bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita nasionalnya:
masyarakat adil dan makmur.

Penting bagi kita semua, seluruh
kalangan rakyat Indonesia, baik yang sudah menentukan pilihan mau pun tidak, agar
memahami betul esensi momentum Pilpres ini sebagai penentu arah masa depan
Bangsa. Kemenangan parpol nasionalis ini harus dikerucutkan menjadi kemenangan
sejati Bangsa Indonesia, siapa pun yang terpilih sebagai Presiden dan Wakil
Presidennya. 
Jika tidak, momentum pemilu ini hanya akan kembali berlangsung
hampa sekadar sebagai prosedur suksesi kepemimpinan yang tidak sungguh-sungguh
membawa perubahan. Hanya dengan mengusung kampanye positif yang kental nuansa
programatik dan ideologis, seraya menempatkan semangat persatuan nasional
sebagai batas perdebatan lah, kelak kedua pihak ini bisa didorong untuk saling
menopang pemerintahan Indonesia yang baru.***

* Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Lampung, Alumnus FKIP Universitas Lampung.