In Memoriam Kang Zainal Muttaqien

  • Bagikan
Kang Zainal Muttaqien (Foto: Istimewa)

Udo Z Karzi*

Innalillahi  wainna ilaihi raji;un. Dua berita duka dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) saya baca di hari yang sama, dari dinding Facebook Mas Oyos Saroso H N. Telah berpulang ke rahmatullah tadi pagi pukul 07.00 (Kamis, 23/3/2016) di Ciparay, Bandung, deklarator AJI Bandar Lampung Zainal Muttaqien. Dan malamnya di Jakarta, pendiri AJI Indonesia Ahmad Taufiq menyusul.

Sadar diri atas keterbatasan, saya hanya mampu menulis serbasedikit sekadar mengenang Kang Zainal.

Sering bolak-balik antar tulisan atau ambil honor di Lampung Post tahun 1990-an, agaknya saya melihat sosok Kang Zainal. Ia punya senyum dan tawa yang khas.

“Orangnya agak pendiam, tetapi ia juga teman ngobrol yang asyik,” kata wartawan Fajar Sumatera Riko Firmansyah mengenang Kang Zainal saat saya beri tahu tentang kabar meninggalnya Kang Zainal. Riko rekan Kang Zainal semasa bekerja di Lampung Post dan Trans Sumatera.

Dan, saya membenarkan kesan Riko.

Sebelum ke Bumi Ruwa Jurai, ia wartawan Harian Gala, Bandung. Selepas Trans Sumatera, ia sempat bekerja di Lampung TV, termasuk — informasi dari Bang Isbedy Stiawan Z S — mendirikan portal inilampung.com. Terakhir, ia ke Bandung dan mengelola seputarjabar.com.

Kang Zainal Muttaqien (berdiri, ketiga dari kanan) bersama awak media online seputarjabar.com (Foto: Istimewa)

Nah, saya bertemu langsung dan setelah ini sering berbincang dengannya sejak perintisan pendirian AJI Bandar Lampung. Mengutip Abdul Manan dkk. dalam buku Semangat Sirnagalih: 20 Tahun Aliansi Jurnalis Independen, Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen, hlm. 265-266, AJI Bandar Lampung disahkan melalui Keputusan Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Didik Supriyanto pada 30 Maret 2001. AJI Bandar Lampung dideklarasikan pada 31 Maret 2001 di Hotel Indra Puri (sekarang Hotel Emersia), yang digelar satu rangkaian dengan acara Debat Publik Pembangkangan Sipil. Kang Zainal dan saya adalah salah dua dari 15 deklator AJI Bandar Lampung. Yang lainnya, tercatat jurnalis Budisantoso Budiman, Oyos Saroso H N, Ila Fadilasari, Firman Seponada, Subur Wadyo, Hasanuddin Z Arifin, Isbedy Stiawan Z S, Ridwan Saepudin, Heri Mulyadi, Sugi Yanto, Idi Dimyati, Damanhuri, dan Samsuri. Sedang dari aktivis ada Herdi Mansyah dan Watoni Nurdin.

Awal-awal berdirinya AJI Bandar Lampung berkantor di Gotongroyong, Bandar Lampung. Di sinilah saya semakin acap bertemu, berbincang, dan berdiskusi, dari soal yang remeh temeh sampai hal serius berkaitan negara-bangsa dengan Kang Zainal dan rekan-rekan AJI lain.

Meski lebih senior, usia saya terpaut 14 tahun dengannya, sama sekali tak ada kesan ‘jaim’ dari Kang Zainal. Benar ia tidak terlalu banyak omong. Bicara juga tidak terlalu menggebu-gebu. Sering juga menekan pokok pikirannya ketika membicarakan sesuatu. Sesekali keluar humor dari ucapannya yang membuat kami terbahak.

Untung Kang Zainal laki-laki hehee… Soalnya seperti yang saya katakan sebelumnya, Kang Zainal punya senyum dan tawa khas. Karena itu, saya terkesan. Ia cukup punya pesona 🙂

Sempat juga kami mengelola tabloid Akar yang kebetulan bermarkas di AJI Bandar Lampung, yang dikomandani Mas Oyos Saroso. Saya belajar banyak juga dari Kang Zainal, bagaimana bekerja dengan enjoy dalam situasi tegang.

Senyum dan tawanya itu lo bikin asyik.

“Hus, jangan tegang gitu geh. Kerjain aja,” kata dia mengomentari keluhan seorang kru Akar, yang saya sempat saya kupingi.

Engkau jurnalis keren, Kang. Di usia ke-61, engkau dipanggil menghadap Ilahi. Hingga akhir hayat, Engkau mengabdikan diri di dunia jurnalisme. Kami perlu belajar darimu tentang kesetiaan yang luar bisa terhadap profesi.

Tentu, banyak jejak yang telah engkau torehkan di Tanah Lada dan Bumi Priyangan.

Selamat jalan, Kang. Surga menunggumu. Amiin.

*Sastrawan dan jurnalis di Fajar Sumatera

Loading...
  • Bagikan