Beranda Budaya Pentas Memotret Serangga dengan Lumia

Memotret Serangga dengan Lumia

223
BERBAGI

Blontank Poer

Sudah lama saya menyukai memotret dengan perangkat smartphone, dan beberapa bulan terakhir, saya memilih serangga atau binatang-binatang kecil lainnya. Ada keasyikan tersendiri memotret jenis ini. Sisi menantangnya tak hanya terletak pada keterbatasan menu dan peralatan pendukung. Karakter serangga dan binatang-binatang kecil, termasuk kupu-kupu, yang ‘susah-susah mudah didekati’-lah yang justru membangkitkan penasaran.

Sebagian orang Jawa menyebutnya Walang Kadung. Sifatnya sangat jinak sehingga mudah untuk mengeksplor angle pemotretan dari jarak sangat dekat. Ia tenang, tidak penakut.

Kepuasan akan muncul ketika berhasil mendapatkan foto seperti dikehendaki. Menaklukkan mereka juga menantang. Apalagi smartphone yang sangat jelas beda dengan DSLR, yang memungkinkan kita melakukan ganti-ganti lensa sesuai kebutuhan atau menambahkan flash, filter dan asesoris lainnya untuk menghasilkan foto sesuai keinginan.

Sudah lama saya menyukai memotret dengan perangkat smartphone, dan beberapa bulan terakhir, saya memilih serangga atau binatang-binatang kecil lainnya. Ada keasyikan tersendiri memotret jenis ini. Sisi menantangnya tak hanya terletak pada keterbatasan menu dan peralatan pendukung. Karakter serangga dan binatang-binatang kecil, termasuk kupu-kupu, yang ‘susah-susah mudah didekati’-lah yang justru membangkitkan penasaran.

Kepuasan akan muncul ketika berhasil mendapatkan foto seperti dikehendaki. Menaklukkan mereka juga menantang. Apalagi smartphone yang sangat jelas beda dengan DSLR, yang memungkinkan kita melakukan ganti-ganti lensa sesuai kebutuhan atau menambahkan flash, filter dan asesoris lainnya untuk menghasilkan foto sesuai keinginan.

Beberapa binatang ini termasuk jenis yang jinak. Tidak liar sehingga mudah dipotret dari jarak dekat.

Terakhir, saya menggunakan Nokia Lumia 1020, setelah sebelumnya sempat menjajal HTC Flyer dan Sony-Xperia (Android) dan BlackBerry. Hingga di sini, saya puas. Masing-masing memiliki ‘karakter’ berbeda, selain kwalitas optik yang berbeda pula.

Apa yang menantang dari binatang-binatang kecil seperti belalang, kupu-kupu dan sejenisnya? (#eh kok jadi ingat lagu anak-anak Pok Ame-ame…)

Kupu-kupu bisa dibilang paling liar. Ia sensitif terhadap gerakan si pemotret. Padahal, kalau lagi mengisap madu dari bunga, angin sekencang apapun hingga mengombang-ambingkan badannya, ia tak beranjak. Tetap asik, diam. Justru kita yang kerepotan jika opsi mode ‘sports’ tak tersedia di aplikasi memotretnya seperti pada BlackBerry Curve 8520 dan HTC Flyer yang pernah saya pakai. Berbeda dengan Lumia 1020 yang memiliki banyak variasi pilihan mode pemotretan.

Sifat sebagian besar kupu-kupu, sepanjang ‘menggauli’ mereka selama ini, mereka tidak terbang menjauh dari bunga-bungaan asal kita tidak menampakkan gerakan ekstrem. Misalnya, jangan sampai gerakan kita membuat tanaman di mana ia hinggap pada bunganya bergoyang-goyang. Selama gerakan kita terkontrol, misalnya dengan beringsut perlahan-lahan, maka kupu-kupu tidak takut.

Sifat yang sama pun dimiliki oleh capung. Bahkan, capung tidak ragu hinggap di dekat kita, bahkan pada perangkat yang kita miliki.

Sedang belalang, hanya pada jenis-jenis tertentu yang memiliki sifat cuek pada kita. Walang kadungtermasuk supercuek. Beda dengan belalang kecil-kecil dan yang gede (entah apa sebutannya. Pokok warnanya hijau dan coklat itu). Dua belalang ini termasuk giras, sensitif terhadap manusia. Belum juga kita mendekat, ia sudah melompat atau terbang.

Silakan membuktikan…

* Blontank Poer adalah seorang blogger, fotografer, dan juragan teh racikan paling enak sedunia merk “Blontea”. Ia pernah menjadi jurnalis detik.com dan koresponden The Jakarta Post di Solo. Tulisan ini bersumber dari blog Blontak: http://blontankpoer.my.id/

Loading...