Beranda Seni Esai Mempertanyakan Puncak Identitas Manusia Indonesia

Mempertanyakan Puncak Identitas Manusia Indonesia

256
BERBAGI
Oleh
Taufik Wijaya
BANYAK
orang Indonesia yang kaya. Baik kaya dengan cara yang benar, maupun kaya dengan
cara yang tidak benar. Tapi, banyak para pekerja budaya, pekerja seni, maupun peneliti
ilmu pengetahuan, mengalami kesulitan mendapatkan sponsor atau dukungan dari
orang-orang kaya tersebut.
Faktanya,
biaya makan malam satu kali orang kaya di sebuah hotel, terkadang cukup untuk
menerbitkan sebuah buku sastra. Biaya liburan keluarga orang kaya, cukup buat
memfasilitasi penelitian yang dilakukan seorang pekerja budaya atau ilmu
pengetahuan.
Pertanyaannya
pentingnya, mengapa orang-orang kaya tersebut tidak tertarik membantu para
pekerja seni, budaya, dan ilmuwan?
Pada
saat ini, secara duniawi, ada kecenderungan umum mereka yang kaya akan
menikmati kekayaannya dengan kebendaan. Seperti memiliki rumah mewah,
kendaraan, maupun benda mewah lainnya. Secara spiritual, jika muslim, mereka akan
menunaikan ibadah haji berulangkali, membangun masjid, pesantren, dan
bersedekah. Bahkan, tidak sedikit identitas itu dimaknai dengan memilki banyak
istri.
Itulah
yang saya sebut puncak kebahagiaan identitas manusia Indonesia hari ini. Puncak
identitas yang juga memengaruhi karakter pemerintahan Indonesia. Duniawi dimaknai dengan
kebendaan dan banyak istri, lalu spitual ditandai dengan simbol-simbol ritual,
seperti gelar haji, masjid, pesantren, maupun sedekah.
Tidaklah
heran, mereka tidak merasa bersalah jika hutan habis, sungai rusak, udara
tercermar, akibat aktifitasnya dalam mengejar kekayaan. Sebagai penjaga alam
yang diciptakan Tuhan, bukanlah identitas yang diburu atau yang dicitakan.
Identitas
Manusia
Tuhan
mengutus atau mengangkat seorang nabi, sebenarnya bukan menciptakan manusia
mengikuti ritual yang dilakukan para nabi terhadap diriNya. Dia juga
menginginkan manusia membangun peradaban yang berasal dari ilmu pengetahuan dan
budaya guna memenuhi perintah awalnya—dalam Islam—iqra atau membaca. Sebab hanya ilmu
pengetahuan dan budaya yang dapat membuka tabir kebesaraan Tuhan. Tanpa ilmu
pengetahuan dan budaya, manusia akan mengalami stagnasasi pemahaman kebesaran
dan kekuasaan Tuhan.
Ritual
seperti salat, berhaji, bersedekah, merupakan pintu awal dari sebuah
pembangunan peradaban. Salat, misalnya, begitu banyak ayat-ayat yang dibacakan
yang intinya mengarah pada pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya, sehingga
maknanya benar-benar dirasakan dan dikembangkan.
Jadi,
identitas kenabian, menurut saya merupakan identitas untuk membangun peradaban
berdasarkan ilmu pengetahuan dan budaya, yang berpijak pada tanda-tanda yang
diberikan Tuhan melalui firmanNya.
Puncak
dari identitas kenabian yakni mampu mengambil peran utama dalam pengembangan
ilmu pengetahuan dan budaya, yang menjaga keberlangsungan alam dan kebahagiaan
manusia hari ini dan pada masa mendatang.
Krisis
Puncak Identitas
Saya
melihat, manusia Indonesia, yang hampir semuanya mengakui keberadaan Tuhan,
tampaknya mengalami krisis puncak identitas. Puncak identitas masih berdasarkan
simbol-simbol feodalistik, yang mengutamakan pengakuan atas penguasaan benda
dan simbol-simbol. Agama
bukan dimaknai sebagai alat membangun peradaban, tapi sebagai simbol sosial.
Terkait
dengan Indonesia, yang sudah sejuta kali dikatakan tertinggal, sudah seharusnya
melakukan revolusi identitas. Revolusi identitas ini tentunya berdasarkan
Pancasila. Makna sesungguhnya beranjak dari ajaran agama dan budaya luhur.
Jika
hal ini dilakukan, maka pada akhirnya manusia Indonesia yang kaya akan berebut
membiayai produk kesenian, penelitian budaya dan ilmu pengetahuan. Mereka pun
akan puas dengan identitasnya sebagai pendorong lahirnya produk budaya dan ilmu
pengetahuan yang baru. Yang mana produk budaya dan ilmu pengetahuan ini menjadi
pintu bagi manusia hari ini maupun mendatang, untuk membaca kebesaran Tuhan
melalui kebudayaan luhur yang dibangun.
Langkah
ini pun menurut saya merupakan puncak dari makna sedekah. Sedekah untuk
menjadikan umat manusia menjadi lebih baik, bukan menciptakan ketergantungan
ekonomi atau rasa kasih. Sebab pada hakekatnya manusia hanya bergantung pada
Tuhan. Puncak
kebahagiaan identitas yang saya uraikan di atas sebenarnya dimiliki bangsa
Barat. Banyak orang kaya di Barat, sangat berperan aktif membiayai berbagai
karya seni dan penelitian terkait budaya maupun ilmu pengetahuan. Tidak heran
misalnya, para peneliti alien pun dapat mengeksplorasi gagasan dan pemikirannya
karena mendapatkan dukungan dana yang cukup besar. Mereka sangat mendukung
jalannya kebebasan berekspresi.
Saya
pun menyakini gaya berpikir bangsa Barat ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran
Islam. Sebab bangsa Barat mengalami pencerahan setelah sejumlah wilayahnya di
Eropa dikuasai pemerintahan Islam.
Kebebasan
Berekspresi
Memang
ada kritik terhadap kebebasan berekspresi terkait pengembangan budaya dan ilmu
pengetahuan. Diyakini memfasilitasi kebebasan sama dengan memfasilitasi sifat
syetan atau iblis. Sebab syetan atau iblis akan tumbuh pada wilayah kebebasan. Tetapi, kritik ini menurut saya
tidak sepenuhnya benar. Saya menilai puncak dari kebebasan adalah kebenaran.
Saya percaya Tuhan tidak akan melepaskan begitu saja setiap manusia untuk dikuasai
syetan. Buktinya, begitu banyak orang yang menemukan cahaya setelah bergelut
dengan kegelapan. Orang menyatakan api itu panas setelah menyentuhnya.
Bayangkan,
jika seorang manusia sejak bayi ditempatkan pada ruang yang terang, apakah dia
mampu memaknai kebesaran cahaya tanpa mengenal kegelapan. Bagi saya, kebebasan
merupakan cara manusia mengenal kehidupan. Setelah mengenal kehidupan, manusia
pun akan mengenal Tuhan. Sebab manusia menginginkan sesuatu yang baik bagi
dirinya. Tidak ada manusia yang merasa bahagia jika melakukan kejahatan pada
alam dan manusia lainnya.
Maka,
saya percaya, tidak ada manusia yang mau masuk neraka.
Jika dia tidak percaya neraka, sesungguhnya dia bukan tidak percaya Tuhan, tapi
belum mencapai puncak kebebasan.
Memang,
sangatlah baik dalam menjalankan kebebasan tersebut, manusia berpijak pada
firmanNya, sehingga cepat menemukan kebenaran hidup. Kebenaran yang bukan
berpijak pada syetan.
Tapi
yang harus diketahui tidak semua manusia saat dilahirkan langsung mengenal
firmanNya.
Banyak
manusia lahir di tengah kegelapan. Baik di perkotaan maupun di hutan. Jika
manusia seperti ini tidak diberi kebebasan, maka sulit sekali mereka akan
mendapatkan atau memahami firmaNya.
Tapi
jika ada yang menolak kebebasan berekspresi berdasarkan ajaran agama, saya
menilai itu bukan semata berdasarkan ajaran Tuhan, tapi merupakan upaya
sekelompok manusia untuk mempertahankan identitasnya. Identitas yang membuatnya
terus berkuasa atau menjadi pemuncak dari masyarakat. Misalnya masyarakat
feodal. Itu pun menurut saya merupakan kebebasan bagi mereka. Persoalannya jika
upaya mereka tersebut, menggunakan kekerasan.

Jika
hal tersebut dipegang, pada akhirnya manusia Indonesia akan berlomba meraih
puncak identitas; menjadi tokoh penting dalam pelahiran produk budaya dan ilmu
pengetahuan yang baru, yang menjaga keberlangsungan alam dan membahagiakan
manusia hari ini dan pada masa mendatang. ***

* Pekerja Budaya, tinggal di Palembang

Loading...