Beranda Ekbis Bisnis Memuliakan Emas Hijau dengan Festival Kopi Lampung Barat

Memuliakan Emas Hijau dengan Festival Kopi Lampung Barat

992
BERBAGI
Salah satu stand pameran di areal Festival Kopi Lampung Barat2018 di Pekon Gunungterang, Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat

Sabtu siang, 21 Juli 2018. Suasana Pekon Gunungterang, Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat lebih ramai dibanding hari-hari biasa. Siang itu warga Pekon Gunungterang disibukkan dengan persiapan pembukaan Festival Kopi Lampung Barat 2018 yang akan dibuka Bupati Parosil Mabsus pada Sabtu malam.

Selain panggung di lapangan ukuran mini yang sudah berdiri, di kanan kiri jalan yang membelah desa juga berdiri sejumlah stand untuk pameran kopi. Yang mengisi stand bukan hanya kelompok tani atau satker di Lampung Barat, tetapi wakil dari kabupaten lain di Lampung. Bahkan, ada perwakilan dari luar Lampung yang siap memamerkan produk kopinya.

Resmi dibuka pada Sabtu malam, Festival Kopi Lampung Barat 2018 berlangsung hingga Senin, 23 Juli 2018. Selain pameran dan hiburan, festival langka itu juga diisi dengan sejumlah acara menarik. Antara lain panen raya kopi, lomba melukis dari ampas kopi, lomba fotografi, kompetisi barista dan uji cita rasa, lelang kopi, dan klinik kopi.

Semua warga Pekon Gunungterang siang itu terlihat bersuka cita. Para pemuda tampak sibuk membantu mendirikan stand pameran. Peratin (Kepala Desa,Kepala Pekon) Gunungterang, Mahmudin, juga sibuk menyiapkan penyambutan para tamu dari luar daerah. Apalagi rumah Mahmudin dijadikan salah satu home stay, tempat para tamu dari luar kota menginap.

Bagi Mahmudin dan warga Pekon Gunungterang, dipilihnya Gunungterang sebagai tempat acara Festival Kopi Lampung Barat 2018 merupakan sebuah kebanggan sekaligus berkah. Bangga,karena baru kali inilah Pekon Gunungterang namanya diangkat begitu tinggi sehingga makin dikenal luas oleh masyarakat Lampung dan lndonesia.

“Kami tentu saja sangat berterima kasih kepada Pak Bupati Parosil Mabsus yang sudah memberikan kepercayaan kepada desa kami menjadi tuan rumah Festival Kopi,” kata pria 30-an tahun yang baru beberapa bulan menjabat sebagai kepala pekon itu.

Mahmudin berharap, Festival Kopi akan makin memacu semangat para petani untuk makin tekun mengolah kebun kopi sehingga bisa keluar dari keterpurukan.

Mahmudin mengaku, meskipun harga kopi relatif stabil tetapi produksi kopi di Lampung Barat terus menurun sejak beberapa tahun terakhir. Kebun kopi yang dulu bisa menghasilkan 2-3 ton per hekrare, kini produksinya merosot menjadi dalam kisaran 700 kg (7 kwintal) hingga 900 kg (9 kwintal).

Bupati Parosil dan Ketua MPRZulkifli Hasan memetik buah kopi merah di kebun kopi Pekon Rigis Jaya.

Selain faktor cuaca, kata Mahmudin, menurunnya produksi kopi di sentra-sentra kebun kopi di Lampung Barat disebabkan kurangnya pupuk.

“Yang bisa menghasilkan kopi biji di atas 1 ton biasanya petani yang modalnya besar dan bisa memupuk kebunnya dengan baik. Yang kurang modal dan susah membeli pupuk akan susah mendapatkan hasil yang baik,” kata Mahmudin.

Modal Lama, Semangat Baru

Festival Kopi Lampung Barat 2018 dihelat di saat kopi robusta Lampung didera kabar buruk: produksi kopi menurun. Di sisi lain, saat ini Kabupaten Lampung Barat dipimpin anak muda, Parosil Mabsus. Sebagai bupati baru yang berpengalaman dua periode sebagai anggota Dewan, Parosil memiliki semangat menggebu untuk membawa rakyat Lampung Barat yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian-perkebunan untuk lebih sejahtera.

Penurunan produksi para petani kopi Lampung Barat pada beberapa tahun terakhir memang lumayan memiriskan: per hektare kebun kopi hanya mampu menghasilkan kopi di bawah 1 ton, Padahal, pesaing terberat kopi Lampung di bursa London, yaitu Vietnam, produksi per hektarenya bisa mencapai 3 ton.

Biaya berkebun yang tinggi, sementara harga kopi biji asalan yang hanya dalam kisaran Rp20 ribu/kg, membuat banyak petani kopi di Lampung Barat yang tetap miskin meskipun memiliki lahan 1-2 hektare.

Gimin (60 tahun), petani kopi dari Pekon Rigis Jaya,misalnya, mengaku kesulitan menyekolahkan anak bungsunya karena kekurangan biaya.

Parosil Mabsus (kanan) dan Ketua DPRD Lampung Barat,Edi Novial (kiri) di usai mengikuti panen raya kopi di Pekon RigisJaya, Minggu (22/7/2018).

Menurut Gimin, untuk biaya mengolah kebun dan membeli pupuk saja sudah berat, apalagi untuk sekolah anaknya.

“Anak saya terpaksa terpaksa tidak melanjutkan pendidikan ke SMA setelah lulus SMP. Ia membantu saya di kebun,biar bisa mengurangi biaya untuk mengupah orang lain,” katanya.

Terkait menurunnya produksi kopi Lampung Barat dalam tiga tahun terakhir, sejumlah petani mengaku selain faktor cuaca ekstrem dan tipisnya modal, juga karena pada umumnya tanaman kopi di Lampung Barat adalah kebun warisan dari kakek atau orang tua petani.

“Perlu peremajaan kebun,tapi hal itu mahal biayanya,” kata Gimin.

Menurunnya produksi kopi di Lampung diakui Bupati Parosil Mabsus. Menurut Parosil, kondisi itu harus segera diubah dengan mengintensifkan pembinaan kepada para petani kopi, terutama terkait dengan teknologi pertanian.

Parosil menegaskan, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan saat ini dan tahun-tahun mendatang bukan hanya meningkatkan produksi kopi robusta, tetapi juga mengampanyekan kopi fine robusta Lampung yang berkualitas dan memiliki rasa yang khas.

“Festival Kopi ini juga merupakan upaya untuk menggaungkan citra positif bahwa fine robusta Lampung Barat layak diperhitungkan di kancah nasional. Kita harus terus bersemangat mengampanyekan keunggulan kopi robusta Lampung. Sudah selayaknya hotel-hotel berbintang di Lampung juga membantu mengampanyekan kopi Lampung,” katanya.

Oyos Saroso HN

Loading...