Beranda Kolom Sepak Pojok Memutus Lingkaran Setan Korupsi

Memutus Lingkaran Setan Korupsi

163
BERBAGI
Ketua Yayasan Alfian Husin, Dr. Andi Desfiandi, M.A.

Andi Desfiandi

Korupsi sampai saat ini masih merupakan masalah besar bangsa yang belum bisa tuntas diberantas atau setidaknya berkurang secara signifikan. Penyebab utamanya selain dari mental oknum-oknum pejabat dan kroninya juga adalah ringannya hukuman para pelaku.

Pidana penjara terbukti tidak memberikan efek jera karena malah menjadikan pelaku “mendadak selebritas” yang namanya langsung melejit dan masih bisa tersenyum sambil melambaikan tangan ke kamera. Bahkan, setelah keluar dari penjara mereka masih bisa beraktifitas dibidang politik bahkan kembali menjadi pejabat publik (sekalipun hakim mencabut hak politiknya namun ada batasnya maksimal beberapa tahun bukan seumur hidup).

Melihat fenomena tersebut selain memperbaiki mental pejabat yang akan memakan waktu cukup panjang untuk memperbaikinya. Maka salah satu cara tercepat dan termudah adalah dengan merevisi hukuman terpidana korupsi.

Pidana penjara hanyalah hukuman tambahan saja tapi hukuman utamanya adalah pemiskinan dan dicabut hak politiknya seumur hidup. Manusia pada umumnya takut menjadi miskin apalagi kalau hartanya didapat dari korupsi, jauh lebih takut melihat keluarganya miskin dibandingkan mendekam penjara (apalagi konon terpidana korupsi sering mendapat hak istimewa didalam penjara, karena masih memiliki uang banyak untuk mengatur segalanya).

Ketakutan kedua adalah masa depan yang semakin suram setelah hukuman pidana selesai karena hak politiknya juga dicabut dan disaat bersamaan jatuh miskin (karena seluruh hartanya disita negara walaupun nilai korupsinya yang masuk pengadilan sangat kecil dibandingkan total harta yang dimiliki koruptor).

Sebagai ilustrasi, pada  tahun 2018 Kejaksaan, Kepolisian dan KPK hanya menangani sekitar 444 kasus korupsi yang merugikan negara sekitar 4.8 triliun. Pada kurun itu Kejaksaaan menangani 51%, kepolisian 36% dan KPK yang memiliki tugas khusus pemberantasan korupsi dengan wewenang yang hampir tidak terbatas menangani 13% kasus dengan rata-rata vonis pidana hanya 2 tahun 5 bulan (belum lagi dipotong masa tahanan).

Mungkin apabila hukuman pemiskinan dan pencabutan hak politik seumur hidup akan memberikan efek jera yang lebih kuat dibandingkan hukuman pidana penjara seumur hidup sekalipun. Sebab, selama ini kita melihat terpidana korupsi yg sudah bebas tetap bergelimang harta dan tetap bisa menjadi pejabat publik lagi, sehingga lingkaran setan korupsi tidak akan pernah terputus sampai kapan pun.

Wallahualam.

Dr. Andi Desfiandi adalah Ketua Yayasan Alfian Husin

Loading...