Menakar Pengembangan Wisata Pelabuhan Bakauheni

  • Bagikan
I.B. Ilham Malik

Oleh: Dr.Eng. Ir. IB Ilham Malik*

Membangun tempat wisata baru di Bakauheni terlihat begitu menakjubkan. Dilengkapi dengan berbagai macam wahana dan kegiatan pendukung, ditambah dengan model public marketing yang memikat mata, menyebabkan gagasan mengembangkan lokasi wisata modern di sebuah titik simpul perjalanan yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, tampak keren dan memacu rasa penasaran. Gagasan ini memang perlu dilontarkan, gagasan tentang mengembangkan Kawasan Bakauheni.

Secara bersamaan, gagasan ini tentu perlu diuji dari berbagai sudut pandang. Pengujian ini tentu saja dengan tujuan dan niatan baik. Bagaimana caranya mempertemukan garis keinginan dengan garis peluang dan garis ancaman/hambatan. Dengan membaca diagram probabilitas pengembangannya, dengan kelengkapan bahasannya nanti, kita akan dapat melihat sejauh mana gagasan itu bisa diwujudkan. Kapan akan terwujud, dan apakah akan benar-benar terwujud? Tulisan ini mencoba untuk memberikan tanggapan atas gagasan yang sempat mencuri perhatian sebagian pihak.

Pelabuhan Bakauheni sangat pantas untuk bersolek. Sebagai Pelabuhan yang berada di jalur terpadat dari semua jalur penyeberangan ferry di Indonesia, yaitu penyeberangan Selat Sunda, maka Pelabuhan ini memang dilalui oleh jutaan orang. Tercatat dari penelitian yang dilakukan oleh Tri Kusumaning Utami (Warta Penelitian Perhubungan, 2020) menyebutkan bahwa produksi penumpang di jalur ini mencapai 1,7 juta penumpang (tertinggi) dan ada 1 juta unit lebih kendaraan berbagai jenis (tertinggi). Selat Sunda yang menghubungkan Pelabuhan Bakauheni (Pulau Sumatera) dan Pelabuhan Merak (Pulau Jawa) memang menjadi jalur terpadat dari 4 (empat) lintasan utama penyeberangan di Indonesia yaitu 1) Bakauheni-Merak, 2) Ketapang-Gilimanuk, 3) Kayangan-Pototano, 4) Padang Bai-Lembar.

Jika kita bicara tentang jalan tol, maka jalan tol yang menghubungkan Lampung dengan Sumatera Selatan telah digunakan oleh lebih dari 23 juta orang. Dan ini merupakan sebuah potensi pasar yang diharapkan sebagai potensial market yang harus dimanfaatkan. Asumsi yang digunakan oleh para pengusul adalah jika saja ada 10% saja dari total pengguna jalan tol dapat ditarik menjadi pasar pengembangan wisata pelabuhan Bakauheni, maka ini merupakan sebuah jumlah yang sangat besar bagi suatu kawasan wisata seperti di Pelabuhan Bakauheni ini nanti. Kawasan wisata Pelabuhan ini akan diperkenalkan sebagai Krakatau Park yang merupakan bagian dari Kawasan Wisata Terpadu Bakauheni Harbour City. Direncanakan, pengelola Krakatau Park ini adalah manajemen Jatim Park yang sudah berpengalaman dalam mengembangkan dan mengelola wisata terintegrasi.

Lahan yang sudah disiapkan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata ini sangat luas. Lahan yang ada pada saat ini saja sudah ada 80 ha, sementara potensi pengembangannya bisa mencapai 200 ha. Berbagai pihak diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan kawasan wisata ini dengan membangun berbagai macam bangunan yang diharapkan dapat menarik wisatawan untuk datang atau mampir di lokasi tersebut. Di sana akan ada theme park, hotel dan sky walk, yang diharapkan akan dapat menarik minat banyak masyarakat dari berbagai tempat untuk datang dan menggunakannya. Dengan begitu, hal ini nanti bisa menjadi generate income bagi pengembangan kawasan.

Dalam waktu dekat ini yang akan di lebih dahulukan pengembangannya adalah mengubah Menara Siger menjadi Museum Krakatau. Di lahan yang dekat dengan museum ini nanti akan dibangun masjid yang bisa menjadi salah satu ikon kawasan. Semua projek awalan ini sudah berjalan. Desainnya sudah ada dan sebagian dana pun sudah dikucurkan untuk merealisasikannya. Jika sudah seperti ini, apakah ini pertanda bahwa projek akan sukses dan berjalan sesuai harapan? Jika ada yang mengatakan tidak layak secara finansial, akankah projek ini akan dihentikan?

Jika kita melihat jumlah penumpang dan kendaraan yang menggunakan kapal penyeberangan di Pelabuhan Bakaheuni dan juga Merak, memang bisa kita katakan bahwa potensi pengembangan kawasan wisata di Bakauheni ini sangat prospektif. Meskipun memang juga perlu melakukan konfirmasi kepada para penumpang, apakah mereka memiliki minat untuk menggunakan destinasi wisata baru ini nanti ketika melintasi lokasi? Karena mayoritas perjalanan yang mereka lakukan adalah perjalanan “lainnya”, bukan perjalanan khusus untuk melakukan wisata. Walaupun kita juga tahu bahwa ada perjalanan sebagian penumpang adalah perjalanan wisata ke lokasi yang ada di Pulau Jawa atau sebaliknya yang ada di Pulau Sumatera.

Namun, apakah para wisatawan yang melintasi pelabuhan ini memiliki minat untuk menjadikan Pelabuhan Bakauheni yang menjadi kawasan wisata baru sebagai lokasi yang akan mereka juga kunjungi atau tidak? Tentu hal ini perlu ditanyakan kepada para penumpang dan para pelancong melalui survei yang cukup ketat dan detail. Kalau kita melihat angka penyeberang di Selat Sunda, memang bisa jadi ini sebuah prospek yang sangat besar yang bisa dimanfaatkan oleh investor. Baik itu investor badan usaha milik pemerintah (BUMN / BUMD) maupun pihak swasta. Kita berharap mereka memiliki data dan memiliki keyakinan untuk mengembangkan Pelabuhan Bakauheni sebagai sebuah obyek wisata baru yang layak diperhitungkan secara nasional dan bahkan internasional.

Menurut informasi yang ada, akan ada tiga perusahaan yang menggarap proyek ini yaitu ASDP, Hutama Karya dan ITDC. Pengelolaannya nanti adalah JatimPark. Namun,  masih belum diketahui siapa yang akan melakukan investasi uang untuk pengembangan wisata baru ini apakah akan menggunakan dana yang dimiliki oleh perusahaan negara? Bekerjasama dengan pemerintah daerah? Atau akan ada pihak swasta yang membenamkan dananya untuk ber investasi di kawasan wisata Bakauheni?

Sempat disampaikan oleh beberapa pihak yang bertanggung jawab dengan rencana ini bahwa mereka akan mengembangkan kawasan pelabuhan ini nanti dengan konsep seperti Dunia Dantasi (Dufan) yang ada di Ancol, Jakarta. Jika ini yang menjadi konsep pengembangannya, tentu akan ada pemilahan wisatawan yang selama ini datang ke Dufan Jakarta, beralih ke dufan yang akan dikembangkan di Pelabuhan Bakaheuni. Adalah penting untuk melakukan pemilahan pengunjung yang ada di kawasan wisata eksisting yaitu Dufan Ancol. Seberapa besar pengunjung yang berasal dari Pulau Sumatera yang diharapkan akan menjadi pengunjung Dufan Bakaheuni? Tentu saja nanti akan ditambah dengan jumlah pengunjung lain yang berasal dari Pulau Jawa serta beberapa daerah lain seperti dari Kalimantan, Sulawesi dan daerah lainnya.

Menjadikan penduduk Sumatera sebagai pasar yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung pendapatan pengembangan kawasan wisata di Pelabuhan Bakaheuni memang cukup realistis dari sisi gagasan. Tetapi apakah ini juga akan layak secara finansial dan juga “pasar” sesungguhnya? Tentu kita sangat berharap pelaku usaha di sektor pariwisata dapat menjawabnya dengan berbondong-bondong berinvestasi di Pelabuhan Bakaheuni. Jika tidak banyak investasi swasta, dan cenderung ke penyertaan modal pemerintah, maka proses dan hasilnya akan jauh berbeda jika dilakukan oleh pihak swasta yang memang bergelut dibidang wisata buatan semacam ini.***

*Dosen tetap di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sumatera (Prodi PWK-Itera)

.com/t/e/teraslampung.com.1193498.js" async>
  • Bagikan