Menakar Takdir

  • Bagikan

Fathoni
Pegiat Filsafat Jatidiri Indonesia

Menarik tulisan Prof Sudjarwo berjudul “Mencoba Takdir” yang dimuat di media ini (https://www.teraslampung.com/mencoba-takdir/), yang bercerita tentang 3 orang yang bertanya, minta nasihat tentang suatu perbuatan yang akan dilakukan di kemudian hari. Penulis hendak melihat “Takdir” dari perspektif yang agak berlainan.

Tentu kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Bahkan, jikapun “sesuatu” itu telah terjadi, kita ternyata tidak benar-benar mengetahui hakikat dari “sesuatu” yang telah terjadi itu. Meskipun demikian, dalam pengetahuan umum, kita dianggap mengetahui tentang “sesuatu” yang sekarang terjadi, padahal dahulunya, “sesuatu” itu masih merupakan “misteri”, kalau mau disebut dengan idiom yang lebih ekstrem ada yang menyebutnya, “misteri Ilahi”. Sesuatu yang telah terjadi itu kemudian kalau ditulis, dia akan menjadi Berita, lambat laun berita akan menjadi cerita bagi orang-orang kemudian yang bukan pelaku sejarah. Bahkan, cerita itu bisa jadi suatu Derita bagi mereka yang benar-benar tidak tahu tentang cerita dan berita mengenai sesuatu itu.

Kembali lagi pada Takdir tadi, ia adalah kata serapan dari kosa kata bahsa Arab, (تقدير), Taqdir, yang merupakan mashdar (musytaq minhu/sumber pengambilan kata dasar) dari kata kerja (fi’il) qaddara (قدر، يقدر، تقديرا), yang berarti “ukuran terhadap sesuatu atau memberi kadar”. Tentu makna kata Takdir juga tunduk pada kaidah Bahasa Indonesia, karena kata ini sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia yang barangkali maknanya bisa saja berbeda dari makna aslinya. Ini seperti kata “Makam” yang diambil dari Bahasa Arab Maqom, yang berarti “tempat berdiri”. Makam dalam Bahasa Indonesia dipahami sebagai kuburan, pesarean. Dalam KBBI, kata “Takdir” dimaknai sebagai “Keputusan Tuhan”, “Ketetapan Tuhan”, atau “Nasib”. Makna yang lebih dekat adalah “ketetapan Tuhan”, yaitu ukuran yang telah dibuat Tuhan atas segala sesuatu, atau takaran penetapan sesuatu.

Sesuatu yang akan terjadi, dipercaya telah ditentukan ketetapannya secara presisi oleh Tuhan sejak zaman azali. Tuhan tentu punya “matematika’-Nya sendiri, dan tentu saja terbatas akal kita untuk menyelidikinya. Itulah makanya dikenal ungkapan, Wallaahu A’lam, Allah yang lebih tahu, bila kita ditanya sesuatu yang pasti kita tidak tahu pasti jawabannya. Tentu saja, manusia modern menguasai metode untuk mengetahui sesuatu. Punya indicator-indikator untuk memprediksi sesuatu, kalau tidak mau kita sebut “meramalkan”, menebak. Misalnya, kita bisa menebak hasil pertandingan Timnas Indonesia vs Timnas Thailand dalam Piala AFF yang baru saja usai. Tentu tidak semua orang punya kemampuan menebak dengan akurat, karena perlu variabel tertentu yang hanya dipahami ahli sepakbola, atau minimal pengamat sepakbola. Misalnya: variabel kualitas pemain, strategi masing-masing Timnas, kondisi fisik dan mental, motivasi pemain, dsb. Tapi ingat, bola itu bundar, jadi prediksi ternyata tidak ada yang benar-benar akurat.

Timnas Indonesia yang pada akhirnya “kalah” oleh Thailand, apakah itu Takdir Tuhan? Tentu saja iya, tentu tidak ada secuilpun kejadian, peristiwa, yang keluar dari radius Takdir-Nya. Tapi, bukan itu yang sedang kita bahas, karena kalau itu bahasan pokoknya, nanti kita akan terjebak pada dualisme kelompok besar, yaitu kaum Jabbariyah yang menganggap segala sesuatu tidak dapat manusia usahakan, semuanya adalah Jabbar (paksaan) dari Tuhan. Manusia ini ibarat wayang yang tidak punya freewill, tidak punya kehendak bebas, paham fatalisme. Sedangkan di kutub lainnya, adalah kaum Qadariyah, yang berkeyakinan bahwa manusia punya kehendak bebas, sehingga padanya dapat dilekatkan pertanggungjawaban.

Lalu, apakah Takdir bisa berubah? Apakah perubahan itu (jika boleh disebut demikian), berarti merubah Takdir Tuhan? Kita disuruh berhenti menjawab jika ditanyakan kepada kita, pertanyaan itu. Sesuatu yang tidak jelas (tentu karena keterbatasan pengetahuan manusia), ternyata perlu dijawab dengan tidak jelas. Frasa “mencoba Takdir” bisa saja dimaknai “mencoba peruntungan” atau “menapaki jalan” yang memang entah apa yang akan terjadi, meskipun setiap 3 orang dari tulisan Prof. Sudjarwo tadi tentu memilih untuk optimis. Meskipun, sang Profesor menasihati, harus siap menang, dan siap kalah.

Kalah dan menang itu juga sebuah idiom, bisa saja secara hakikat, justru yang “kalah” itulah yang sedang menang, yaitu justru sedang “diselamatkan Tuhan” dengan cara yang dalam kacamata manusia disebut “kalah”. Sedangkan yang sedang “menang” itu, barangkali sedang mengalami “kalah” yang sejati, yaitu “Tidak diselamatkan Tuhan” dengan cara yang menurut pandangan manusia disebut “menang”. Kalah – menang itu adalah Takdir yang manusia juga harus “menakarnya” sebatas ilmu yang memang terbatas dalam Samudera ilmu-NYA yang Maha Luas.

Dan, yang terpenting, ternyata bukan menang – dalam “mencoba Takdir”, tapi niat baik yang lebih penting. Lagipula, dalam setiap Do’a, kita selalu diajarkan “Ihdinaa Ash-Shirootho al-Mustaqiem”, “Tunjukilah kami jalannya orang-orang yang istiqomah”, kita diajari untuk minta petunjuk dalam menyusuri perjalanan, tidak peduli akan mencapai ujung perjalanan atau tidak. Meminjam kata dari orang-orang bijak, “Mereka yang berjalan di jalan kebaikan, diongkosi oleh Tuhan”.

Tabik!

  • Bagikan