Menangis

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pada waktu melaksanakan perintah Ketua Program Studi untuk membersihkan gudang agar mahasiswa yang tersendat, malas, atau apapun namanya diberi bantuan ekstra agar segera ujian sidang thesisnya. Disaat ujian inilah ada peristiwa yang berbeda tetapi memiliki gejala atau fenomena sama. Kalau menggunakan istilah Filsafat Ilmu memiliki Ontologi yang sama, tetapi memiliki esensi yang berbeda. Peristiwanya saat seorang mahasiswa maju sidang ujian, karena kemampuan akademiknya belum mencapai standard minimal, maka yang bersangkutan diputuskan untuk mengulang. Meledaklah tangis mahasiswa tadi menerima kenyataan yang dia harus hadapi.

Beberapa saat kemudian mahasiswa ke dua maju ke meja sidang; dengan sedikit modal percaya diri yang bersangkutan menjawab semua sanggahan Dewan Penguji dengan lancar walaupun jawabannya salah, bahkan cenderung ngawur. Namun saat sidang Dewan Penguji yang bersangkutan dinyatakan lulus; karena telah melampaui standard minimal yang telah ditetapkan. Meledak juga tangis mahasiswa ini menerima kenyataan yang dia jumpai.

Sejurus ujian selesai, seorang sahabat sesama penguji nyeletuk, manusia ini aneh, gagal menangis, berhasil juga menangis. Terhentak hati ini ingin mendalami lebih jauh apa sebenarnya yang terjadi dalam alam bawah sadar sana, terutama Garis Emosi secara filosofis; karena fenomena yang sama mensulihartikan kedua hal yang berbeda. Penjelajahan dimulai dari pintu gerbang menangis; yang juga dilakukan oleh para “orang orang suci” pada jamannya.

Para mistikus Islam atau kaum sufi mengatakan bahwa menangis adalah salah satu upaya besar dalam mendekatkan diri kepada Allah. Menangis merupakan usaha orang-orang yang takut kepada Allah, untuk memohon rahmat serta hidayah-Nya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada tetesan air yang dicintai Allah melebihi setetes air mata karena takut kepada Allah SWT,………….” (HR. Turmidzi). Seorang sufi berkata, “Bagaimana mungkin aku tidak menangis atas dosaku, sementara aku melihat dosa tersebut bagaikan penyakit yang menggerogoti anggota badan dan hati.” Sufi bernama Yahya bin Muadz berkata, “Beruntunglah seorang hamba yang selalu menyesali dosa-dosa sepanjang siang dan malam, menangis di setiap ujung malam dan bermunajad kepada Allah.”

Ada sebuah ungkapan sufisme yang terkanal mengatakan, “Siapa yang takut kepada Allah, maka hendaklah dia memperbanyak mengadu dalam kesendirian. Semoga setelah ingat pada-Nya dan menangis, pengaduan tersebut diganti dengan kebaikan. Semoga dosa menjadi ringan saat dibuka pada hari penghitungan, dimana semua manusia sedang menyesal.”

Ada kisah tentang Utsman Bin Affan RA, yang apabila berdiri di atas kuburan akan menangis sampai jenggotnya basah oleh air matanya sendiri. Ketika ditanya tentang tangisannya dia menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, bahwa kuburan adalah satu tempat yang akan dilewati siapapun. Apabila dia selamat dalam kubur, maka tempat selanjutnya akan lebih ringan baginya.

Namun, apabila tidak selamat, maka di tempat selanjutnya dia akan menemui kesulitan yang lebih besar.” Begitu dalam makna tangis dalam pandangan mistik Islam; sampai sampai mereka berpandangan janganlah menitikkan air mata kecuali hanya berharaf ridho Allah.

Penjelasan di atas dari sisi abstrak keilahian, sedangkan dari konsep ilmu pengetahuan dapat dijelaskan secara ringkas bahwa manusia memiliki Garis Emosi. Dititik tengah itu diberi lambang Nol (0), kemudian Garis dari titik nol ke kanan, itu diberi nama “daerah Gembira”, kita beri lambang B. Sedangkan dari titik nol ke kiri diberi nama “daerah Sedih”, kita beri lambang C.

Garis titik tak terhingga kiri dan kanan dibuat garis lengkung penghubung, itu disebut “Garis Spektrum”, kita beri lambang CB. Peluang model yang terjadi adalah: Model (1): Sama Panjang Jarak antara Titik nol ke B dan nol ke c. ini berarti sedih dan gembira pada orang ini memiliki garis spectrum yang sama.

Model (2) Jarak antara Titik nol ke B lebih pendek jika dibandingkan dengan Titik nol ke C. Ini berarti mereka yang ada pada posisi ini adalah lebih gembira, dan sulit untuk sedih. Model (3) jarak titik nol ke B lebih panjang dibandingkan dengan titik nol ke C. berarti mereka yang berada pada posisi ini adalah lebih cepat sedih dan tidak cepat gembira. Model (4) Jarak titik nol ke B berhimpit dengan titik nol ke C, ini berarti respons emosi orang yang berada pada posisi ini cepat sekali reaktif. Reaksi menangis adalah karena terjadinya lompatan spectrum dari titik nol ke B atau C secara berlebihan; maka bentuk perilaku yang ditampilkan adalah “menangis”. Oleh karena itulah muncul adagium “menangis bukan karena sedih, tertawa bukan karena bahagia”.

Tataran disebut terakhir tadi ternyata tidak salah, jika para sufi yang telah sampai pada jenjang tertinggi dalam upaya penyatuan diri dengan Sang Khalik, akan melebur kepada diri pribadinya menyatu antara diri dan emosi ({C0B}) dalam satu wadah {} rahmat Sang Khalik; yang itu bersifat takterukur atau nisbi. Sedangkan mahasiswa yang sedih menangis, gembira menangis, karena spektrum antara 0C dan 0B-nya dalam rentang yang pendek.

Teori ini masih perlu diuji kembali kesahihannya dan perlu diperdebatkan lagi kebenarannya; hanya saja paling tidak posisi asumsi menuju hipotesis telah dilalui; semoga kita menjadi hamba yang selalu tafakur dan rida akan semua ketentuan Sang Khalik untuk kita jalani, dan selalu bersyukur atas rahmat yang diberikan kepada kita oleh Sang Khalik. Mengosongkan diri akan pamrih dalam pribadi, adalah hampir tidak mungkin; namun pamrih untuk mendapatkan ridho dari Sang Kholik dan ihlas menjalani semua qodho dan qadhar-Nya; adalah wujud ketaqwaan dalam bentuk tingkat tinggi dari manusia.***

 

  • Bagikan