Mencari Panggung

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Membuka laman nukilan tulisan lama, terbaca ada satu frase bertulis “Panggung Sandiwara”. Itu adalah satu judul lagu yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar bersama Ucok Harahap, si “duo kribo”, pada tahun 1978. Sedangkan lirik lagu itu adalah gubahan seorang sastrawan Indonesia terkenal dengan sebutan sebagai Angkatan 66, yaitu Taufik Ismail asal Bukittinggi. Beliau menulis lirik itu tahun 1977.

Makna terdalam dari lagu ini adalah berisi pesan moral dari penulisnya bahwa dunia ini memang permainan. “Dan kehidupan dunia tak lain adalah permainan dan sendagurau” demikian firman-Nya (Q.S.  Al-An’am.32).

Taufik Ismail sebagai seorang penyair sampai menyebutkan 13 kali berulang “Mengapa kita bersandiwara?” Ditilik dari berbagai sudut pandang memang menjadi multitafsir, dan itu adalah sah-sah saja dalam memaknai suatu karya sastra.

Istilah sandiwara itu sendiri diciptakan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII (1916-1944) yang diambil dari bahasa Jawa dengan makna sandhi berarti rahasia, warah berarti pelajaran. Herman J Waluyo memberikan makna sandiwara sebagai “Pelajaran yang diberikan secara diam diam. Kemudian berkembang menjadi drama, teater dan lain lain”.

Apa hubungannya dengan judul tulisan di atas? Ternyata dunia yang merupakan panggung sandiwara besar ciptaan Sang Khalik. Masing-masing kita sudah diberi tugas untuk tampil sesuai skenario yang berkaitan dengan waktu, tempat, dan adegan. Hanya kita diberi ruang untuk berkreasi. Itulah wilayah yang kita berinama usaha atau ikhtiar.

Menjadi persoalan ketika kita berperan itu dalam konteks wajar atau berpura-pura. Tampaknya hari-hari terakhir ini panggung kehidupan sedang riuh. Keriuhan itu tentu saja karena banyaknya orang mencari panggung untuk tampil dalam pengertian yang luas. Maksudnya adalah: karena ada peristiwa sosial yang tercipta atau sengaja diciptakan, maka saat bersamaan akan ada sekelompok individu yang memanfaatkan panggung, mencari panggung, atau tidak mau turun dari panggung. Atau lebih seru lagi ketiga-tiganya dilakonkan secara bersamaan. Di sini mulai rancunya konteks wajar atau pura pura; keduanya menjadi sangat tipis perbedaannya.

Sisi lain kita temukan individu atau sekelompok orang yang memaksakan diri untuk mencari panggung agar terkenal dan selalu dikenal; padahal waktu harus berubah, pelaku harus berganti. Akibatnya, gendang ke mana, tarinya ke mana. Dengan kata lain: irama dan gerak sudah tidak sinkron lagi. Oleh karenanya yang didapat hanya cibiran atau malah hujatan, yang semua itu justru dinikmati oleh pelaku. Prinsip yang dipegang seperti apa yang dikatakan filsuf agung pada zamannya bernama Aristoteles yang mengatakan “Jika kamu tidak mampu memukau publik dengan kepintaranmu, bingungkanlah mereka dengan kebodohanmu….”

Akhir-akhir ini tampaknya kalimat terakhir itu yang menjadi jalan tempuh paling sempurna menjadi pilihan banyak orang. Sehingga, kebodohan berubah menjadi kecerdikan, walaupun membedakan dengan kelicikan sulit dilakukan

.Soal pilihan ini memang ranahnya ada pada kita sebagai manusia, hanya persoalannya semua pilihan itu sudah diberi ujung yaitu konsekwensi pilihan. Justru kebanyakan kita hanya bisa memilih tetapi tidak mengetahui akan konsekwensi pilihan itu. Sehingga, yang terjadi pemaksaan kehendak akan sesuatu pilihan; oleh karena itu rekonstruksi berfikir seperti ini menjadikan manusia menjadi gagal paham.

Jika rekonstruksi berpikir seperti ini dilakukan oleh mereka yang tidak pada posisi memimpin, tentu tidak begitu besar resikonya untuk orang lain. Berbeda jika mereka yang ada pada posisi memimpin; tentu akan memiliki dampak yang luas kepada yang dipimpin. Dampak itu bisa menjade efek domino kepada sendi kehidupan dari seluruh elemen yang dipimpin. Ini yang tidak banyak disadari oleh banyak pemimpin, akhirnya berbicarapun mereka sulit membedakan kapasitas sebagai pribadi apa sebagai pemimpin.

Apalagi dengan teknologi dubbing, cutting, dan masing banyak lagi pada media sosial yang bisa dilakukan oleh banyak orang. Bisa mengakibatkan pembelokkan arah dari apa yang menjadi tujuan. Tentu saja teknologi itu bebas nilai, dan sangat tergantung dari penggunanya. Oleh sebab itu,  kehatihatian dan kecermatan untuk melakukan atau mengambil suatu keputusan dan atau kebijakkan, hendaknya memperhatikan hal hal yang seperti ini.

Belajar dari beberapa peristiwa elektronik seperti ini, sekalipun sudah ada undang undangnya, namun tetap saja celah ini dapat dimanfaatkan oleh orang orang tertentu yang memiliki tujuan tertentu untuk membuat sesuatu menjadi viral. Mencari panggung pada masa kini adalah memanfaatkan teknologi inilah sehingga dengan biaya yang sangat murah dapat mencapai tujuan yang sebesar-besarnya.

Kita dapat simak perang dua negara yang sedang berlangsung saat ini, mereka sama sama memanfaatkan keunggulan teknologi medsos guna membangun emosi publik bahkan emosi kolektif untuk menjatuhkan satu sama lain di mata dunia, dan ini adalah bagian dari upaya pencarian panggung keduanya. Hanya orang orang yang berpikir cerdas dan jernih yang mampu membacanya dan tidak terbawa hanyut oleh misi medsos tadi.

Semoga kita dapat mengambil pembelajaran dari peristiwa apa yang ada pada saat ini, kemudian mengambil hikma dari semua pertistiwa yang berlangsung. Benar apa yang dikatakan orang bijak bahwa jujur yang paling sulit itu adalah jujur pada diri sendiri. Ini terungkap dari peribahasa lama : “Awak tak pandai menari dikatakan lantai terjungkat”. Maksudnya: gagal mengerjakan suatu pekerjaan malah menyalahkan orang lain, atau mencari-cari alasan untuk menutupi kekurangan atau kebodohan dirinya sendiri.

Selamat ngopi pagi.