Mencela Nikmat

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Pada suatu kesempatan seorang sahabat berguman, kendaraannya baru saja di cuci, dunia hujan lagi. Sama dengan keluhan pekerja rumah tangga di rumah yang berteriak kesal, pakaian baru dijemur hari hujan lagi. Bersamaan itu juga di sana, ada tukang es keliling yang menatap kosong, karena dagangannya hari itu akan tidak laku.

Tidak jauh dari sana; seorang petani menengadahkan tangannya ditengah hujan lebat, dia bersyukur pada Tuhan karena hari itu diberi hujan, sehingga padi yang baru di tanam kemaren mudah mudahan akan cepat tumbuh. Sama halnya saat itu Tukang Bakso tersenyum gembira karena dagangannya akan laris hari itu, kebiasaan kalau hujan datang banyak pelanggan akan membeli baksonya.

Peristiwa sehari hari seperti itu sangat sering kita jumpai, namun tidak pernah terpikir oleh banyak orang bahwa suatu anugerah yang datang dari Tuhan; sering disikapi oleh kepentingan ego semata, sehingga menutup rasa syukur dengan rasa khufur. Akhirnya yang keluar dari mulut adalah upatan atau makian. Padahal hampir semua kita mengetahui “jikalaulah air lautan itu dijadikan tinta, maka tidak akan cukup untuk menulis semua nikmat yang Tuhan berikan pada hambanya”. Ini diperkuat oleh sinyalemen Tuhan yang tidak terbantahkan bahwa manusia adalah mahluk yang selalu mendustakan nikmat; dan ini jelas tertera dalam Firman-Nya.

Ketidakberterimaan akan nikmat ini ternyata memiliki sejarah yang panjang, bahkan semenjak Jaman Nabi Adam diturunkan ke bumi. Nukilan sejarah manusia selalu ada perseteruan diantara mereka karena perbedaan mensikapi kenikmatan, sebagai rahmat dari Tuhan kepada umatnya. Persoalannya adalah apakah umat yang kemudian akan terus mengikutinya, tampaknya di sini ada persoalan yang harus di dedah.

Menilik ini semua; maka orang orang suci pada jamannya selalu memberikan nasehat bahwa melapangkan hati atas apapun pemberian Tuhan, adalah sikap yang paling benar dalam hidup. Sebab kesenangan kesedihan, kekayaan kemiskinan, dan lain lain lagi; semua itu diciptakan berpasangan, satu paket, seperti halnya kaki kiri dan kaki kanan. Satu dengan yang lain saling melengkapi untuk dapat memberi arti dan manfaat bagi sesama. Dengan kata lain nikmat itu memang berpasangan, jika sedih yang datang, berarti itu nikmat karena akan datang senang. Kalau senang yang datang, maka bersiaplah sebentar lagi sedih juga akan datang; demikianlah perjalanan dunia.

Oleh karena itu, dalam memahami nikmat haruslah dengan ilmu pengetahuan, walaupun kita harus pahami bahwa dalam proses memahamkan menggunakan ilmu itu pasti akan ketemu kesalahan. Hal seperti itu adalah wajar. Yang harus diketahui bahwa kesalahan itu ada dua sifat melekat. Sifat pertama kesalahan karena ketidaktauan. Oleh sebab itu, dalam memahami sesuatu, termasuk nikmat, harus memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang akan dipahami itu. Sifat kedua kesalahan bawaan ilmu; maksudnya setiap ilmu itu tidak ada yang sempurna, pasti ada cacat yang merupakan cacat bawaan lahir dari ilmu.

Jadi, dalam memahami nikmat kesalahan yang paling fatal jika kita tersesat karena kesalahan yang kita lakukan sendiri. Akhirnya semula nikmat itu membawa manfaat, justru berakhir membawa mudhorat; karena ketidakpahaman dalam memahamkan nikmat. Ibarat yang dapat kita jadikan tamsil adalah sepeda motor yang dikendarai oleh anak anak yang belum cukup umur. Sepeda motor yang merupakan nikmat, karena bisa memperlancar dan mempercepat semua urusan; justru di tangan anak anak seperti ini; dia menjadi pembunuh kelas wahid.

Bisa dibayangkan jika itu merupakan amanah jabatan yang merupakan nikmat Tuhan agar kita menjadikannya sebagai alat untuk beribadah kepada-Nya Karena ketidakpunyaan memahami ilmu pengetahuan tentang jabatan, justru itu menjadi alat atau sarana untuk menyengsarakan orang, dan lebih parah lagi menyengsarakan orang lain dan dirinya sekaligus. Lebih fatal lagi ketidaktauan tadi justru tidak membuat untuk belajar kepada orang lain yang pernah mengalami atau paling tidak mengetahui seluk beluknya; maka sempurnalah kesalahan itu jadinya. Menurut seorang jurnalis senior mengatakan Jika ingin tau watak seseorang sesungguhnya beri dia kekuasaan; premis ini benar adanya.

Pada bulan suci ini rasanya paling tepat jika kita mau memahamkan semua karunia Tuhan pada kita. Kemudian merenungkan kembali sudah kita gunakan untuk apa nikmat itu, dan sudah benarkah menurut syariat agama dalam penggunaannya. Semua berpulang kepada hati nurani kita sebagai hakim garis yang dititipkan Tuhan kepada  kita.

Selamat menjalankan ibadah puasa!

 

You cannot copy content of this page