Beranda Kolom Sepak Pojok Mencermati Hasil Survei Rakata Institute Tentang Pilgub Lampung 2018

Mencermati Hasil Survei Rakata Institute Tentang Pilgub Lampung 2018

4938
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Hasil survei Rakata Institute tentang Pilgub Lampung 2018 yang dirilis pada Kamis,12 April 2018 menjadi heboh karena dua hal. Pertama, karena ekspos hasil rilis dituduh eksklusif lantaran hanya tujuh media yang diundang.Kedua, karena menyimpulkan Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim mengalahkan petahana Ridho Ficardo-Bachtiar Basri dengan selisih yang njomplang.

Rakata Instutute menyimpulkan elektabilitas Arinal-Nunik dengan persentase 24,60 atau tertinggi dibandingkan tiga pasangan cagub-cawagub Lampung lainnya. Sedangkan Ridho-Bachtiar berada pada posisi ketiga (19,50 persen). Herman HN,menurut hasil survei Rakata Institute berada pada posisi kedua dengan 23,90 persen, sementara Mustafa-Ahmad Jajuli 8,20 persen.

Munculnya Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim sebagai jawara dalam hal elektabilitas menurut hasil survei Rakata Institute tentu saja layak dicermati. Mengapa Arinal-Nunik sedemikian cepat bisa menyalip Herman HN Sutono dan Ridho Ficardo-Bachtiar Basri?

Data-data yang pernah dilansir Rakata Intstitute berikut ini bisa menjadi acuan kenapa Rakata Institute hasil surveinya menyimpulkan Arinal-Nunik pada posisi teratas dan Ridho-Bachtiar disimpulkan hanya pada urutan ketiga:

Pada Mei 2017 Rakata Institute merilis hasil survei elektabilitas Bakal Calon Gubernur Lampung dan menempatkan Mustafa pada posisi teratas 15,00 persen. Mustafa ditempel ketat Herman HN (14,00 persen) dan Ridho Ficardo (13,90 persen). Saat itu elektabilitas Arinal Djunaidi masih sekitar 2 persen.

Pada survei yang diekspose pada Agustus 2017, Rakata Institute kembali memposisikan bakal calon gubernur Mustafa pada posisi teratas dengan elektabilitas 18,83 persen, disusul Ridho Ficardo 17,33 persen, Herman HN 17,00 persen, dan Arinal Djunaidi 13,17 persen. Saat itu jumlah respondennya 400 orang.

Hasil survei Rakata Institute tentang Pilgub Lampung 2018 yang dirilis pada Kamis (12/4/2018).
Hasil survei Rakata Institute tentang Pilgub Lampung 2018 yang dirilis pada Kamis (12/4/2018).

Mustafa tetap pada posisi paling atas elektabilitasnya menurut hasil survei Rakata Institute yang dilakukan pada 10 November hingga 4 Desember dan diekspos pada 11 Desember 2017.

Dalam rilisnya 11 Desember 2017,  Rakata menyimpulkan bahwa elektabilitas Mustafa 18,25 persen, disusul Herman HN 17,75 persen, Arinal Djunaidi 14,75 persen, dan Ridho Ficardo 12,00 persen. Saat itu, sampel yang dipakai Rakata Institute sebanyak 400.

Ketika Mustafa, Ridho, Herman, dan Arinal memiliki pasangan dan resmi menjadi Cagub Lampung, Rakata Institute kembali mengadakan survei pada 2-7 April 2018 dengan 1.000 responden dan dirilis pada 12 April 2018. Hasilnya: elektabilitas pasangan Arinal Djunaidi-Chusnunia posisinya teratas (24,60 persen), Herman HN-Sutono 23,70 persen, Ridho Ficardo-Bachtiar Basri 19,20 persen, dan Mustafa-Ahmad Jajuli= 8,20 persen.

Satu hal yang perlu dicatat di sini adalah: pertama, hasil survei Rakata Institute ‘selalu konsisten’ menempatkan petahana Ridho Ficardo pada posisi kurang baik. Ia selalu kalah bersaing dengan Herman HN dan hanya lebih baik dibandingkan Mustafa ketika Mustafa terkena masalah hukum dan ditahan KPK.

Kedua, terjadi lonjakan persentase elaktabilitas yang spektakuler pada Arinal Djunaidi. Ketika awal muncul dan disurveri Rakata Institute pada Mei 2017 Arinal elektabilitasnya masih terbuncit (2 perseb) dibanding Mustafa, Herman, dan Ridho,

Pada Desember 2017, ketika Arinal belum ditetapkan berpasangan dengan Chusnunia Chalim elektabilitasnya adalah 14,75 persen atau masih di bawah Herman HN yang saat itu elektabilitasnya 17,75 persen dan sedikit lebih baik diibandingkan Ridho Ficardo (12,00 persen).

Meskipun jumlah sampel pada survei bulan April 2018 dua kali lipat lebih, tetapi peningkatan persentase elektabilitas yang sangat drastis bisa memunculkan sejumlah pertanyaaan.

Publik di Lampung tahu bahwa pada saat masa sosialisasi dan pasangan cagub-cawagub Lampung ditetapkan oleh KPU, hanya Arinal Djunaidi yang paling masif melakukan sosialisasi. Ia bersama Ki Entus Susmono menggelar acara wayangan berhadiah sepeda motor, ternak piaraan, dan uang tunai seminggu dua kali di berbagai pelosok Lampung.

Arinal Djunaidi juga menggandeng artis ibu kota untuk melakukan sosialisasi dalam acara jalan sehat dengan hadiah mobil dan hadiah menarik lainnya.

Harus dicatat: saat itu Ridho Ficardo dan Herman HN nyaris belum melakukan sosialisasi. Mustafa sudah melakukan sosialisasi, tetapi tidak semasif Arinal dan dengan biaya semahal Arinal Djunaidi.u diatas 50 persen atau pada desember berada pada angka 70,25persen.

Dengan sosilisasi semahal itu, popularitas, akseptabilitas Arinal Djunaidi pada rentang Mei-Desember 2017 belum sebanding. Ia masih kalah dibanding Mustafa dan Herman. Artinya, ada kemungkinan nama Arinal memang ‘tidak layak dijual’.

Sebab itu, sangat wajar jika ketika KPU Lampung sudah menetapkan pasangan calon gubernur-calon wakil gubernur dan ada pembatasan sosialisasi pencalonan (kampanye) plus pemodal Arinal Djunaidi tidak bisa leluasa membagi-bagi hadiah mahal elektabilitas Arinal (berpasangan dengan Chusnunia Chalim justru melonjak tajam.

Publik akan bertanya-tanya, mengapa ketika pada saat yang sama Herman HN-Sutono, Ridho Ficardo-Bachtiar Basri, dan Ahmad Jajuli (minus Mustafa) juga gencar melakukan kampanye elektabilitasnya tetap termehek-mehek? Faktor paling dominan apakah yang membuat Arinal-Nunik sedemikian memukau warga Lampung sehingga menurut hasil survei Rakata Institute elektabilitasnya tertinggi dibanding calon lain? Mungkinkah tingginya elektabilitas Arinal-Nunik karena faktor Nunik?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum ditambah dengan fakta bahwa tidak ada pola sosialisasi dan kampanye cara baru yang ditawarkan Arinal Djunaidi. Sosialisasi yang dilakukan Arinal Djunaidi adalah fotokopi persis sosialisasi yang pernah dilakukan Ridho Ficardo-Bachtiar Basri pada Pilgub Lampung 2014.

Dengan fakta-fakta di atas, saya pribadi meragukan kesahihan hasil survei Rakata Institute yang menempatkan Arinal-Djunaidi-Chusnunia Chalim dengan elektabilitas tertinggi. Saya tidak menyebutkan Rakata Institute telah melakukan framing dan menggiring opini publik. Namun, kami di Teraslampung.com mencoba mengkonfirmasi kecuriagaan adanya framing. Menurut Direktur Rakata Institute, Eko Kuswanto, pihaknya tidak melakukan framing atau menggiring opini publik.

“Rakata tahun ini sudah berusia 10 tahun (pada Agustus 2018 nanti) dan sangat kecil bagi Rakata menjual berita survei hari ini sehingga menjadi framing. Rakata dalam hal ini punya data cukup kuat tentang hasil survei tersebut,” kata Eko kepada Teraslampung.com.

Eko menegaskan dirinya mempertaruhkan  kredibilitas Rakata Institute. “Kami tidak mau hanya berita hasil survei hari ini membuat kerja keras Rakata selama hampir 10 tahun jatuh dan diluar kendali SOP-nya,” kata Eko.

Saya tidak berusaha mengejar masalah framing, karena pada dasarnya aneka iklan,pariwara, dan aneka berita positif pada dasarnya bentuk framing juga. Kini saya lebih baik untuk sementara memercayai Eko sambil sekaligu meragukannya.

Selalu ragu (atau curiga) terhadap pernyataan atau data yang disodorkan narasumber, itulah yang selalu saya lakukan selama saya bekerja di dunia jurnalistik.

Soal elektabilitas hasil survei, toh masih ada peluang survei satu kali lagi pada Juni 2018 sebelum pencoblosan Pilgub Lampung 2018. Saat itu para lembaga survei kemungkinan besar akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Namun, Tuan dari segala peluang keterpilihan pasangan cagub-cawagub Lampung 2018 tetaplah rakyat yang mencoblos di dalam bilik TPS.

 

 

Loading...