Beranda Teras Berita Menciptakan Arena Bermain di Kolam Bekas Sawah

Menciptakan Arena Bermain di Kolam Bekas Sawah

15
BERBAGI
Anak-anak asyik bermain di kolam bekas sawah di Sebalang, Lampung Selatan (teraslampung.com/isb)

Bandarlampung, Teraslampung.Com—Area bermain bagi anak-anak remaja pada saat sekarang, benar-benar mahal. Pembangunan fisik seperti pemolesan kota melalui gedung-gedung bertingkat, makin menggusur lahan bagi anak-anak untuk bermain dan berkreativitas.

Minimnya ruang hijau atau alun-alun serta langkanya lahan bermain bagi anak-anak, tidak sedikit para remaja akhirnya salah arah. Misalnya, kebut-kebutan ala gank motor. Bermain sepak bola di lahan berdekatan dengan sawah atau pabrik.

Sementara para remaja yang memiliki hobi berenang, tak mampu bersukacita di kolam-kolam renang. Karena tiket masuk yang tak setiap orang bisa tejangkau. Selain itu, kemungkinan jauh dari tempat tinggalnya.

Tetapi, anak-anak remaja ini tak kalah kreatif. Meski memanfaatkan kubangan air dari curah hujan di bekas sawah ini, mereka bisa bersukaria sambil menyalurkan hobi berenangnya. Siapa tahu kelaknya mereka jadi atletik renang andal.

“Cita-cita saya memang ingin jadi perenang. Ingin jadi atlit,” kata Subhan, sambil memeregakan gaya salto sebelum terjun ke air.

Hal sama diakui Fandi, remaja asal Rangai, Lampung Selatan. Sejak kecil ia suka berenang di pantai Sibalang. Tetapi sejak berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sebalang milik PT. PLN (persero), dia jarang ke pantai.

Karena, dia beralasan, kalau sedang pasang ombaknya besar dan jika surut terlalu menjorok jauh dan banyak batu. “Jadi kami biasa ke sini,” kata Fandi sambil menunjuk kubangan air di sawah warga setempat yang sudah tidak terpakai.

Mereka menyalurkan hobi berenang di kolam ini. Setiap petang anak-anak remaja ini mengendarai beberapa motor ke tempat ini. Tidak semua terjun ke air memang. Seperti Rahmat, Ujang, ataupun Dani.

Ketiga remaja ini asyik mengobrol seraya menyaksikan rekan-rekannya yang berenang. Canda para remaja ini begitu asyik. Mendekati magrib, mereka meninggalkan tempat itu. Begitulah cara anak-anak remaja ini mencari hiburan, setelah suntuk di bangku sekolah pada pagi hingga siang.(isb)