Mencoba Takdir

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Seorang mahasiswa pascasarjana program doktor menghadap untuk konsultasi hasil penelitiannya. Diskusi keilmuan begini memang mengasyikkan, sampai lupa waktu. Tidak terasa empat jam berlalu; terakhir yang bersangkutan mengambil kesimpulan bahwa karena tidak mengetahui akan takdir kita, maka semua keputusan yang kita ambil itu seolah bernegosiasi dengan Tuhan untuk membaca takdir-Nya atau mencoba memahami akan takdir-Nya.

Jeda sejenak, ada lagi tamu yang sudah lama tidak jumpa. Kali ini beliau ingin mengajak diskusi ke luar. Karena jadwal yang padat terpaksa permintaan itu tidak bisa dipenuhi. Beliau sebagai seorang organisatoris kawakan meminta pertimbangan; karena didorong beberapa rekan, beliau berkeinginan maju sebagai anggota legieslatif pada pemilihan yang akan datang. Sebagai sahabat tentu saya sangat senang mendengarnya. Soal wejangan saya meminjam istilah mahasiswa pasca di atas; bahwa takdir itu sebelum dijalani hanya Tuhan yang mahamengetahui, setelah kita jalani, baru kita paham apa yang akan terjadi.

Menjelang sore hari saat mau meninggalkan kantor, ada tamu mendadak: seorang guru besar muda dari fakultas lain. Tampaknya beliau tergesa-gesa, tergopoh-gopoh ingin jumpa. Dengan sedikit berat hati karena waktu sudah senja; beliau diminta untuk mengemukakan apa maksud dan tujuan kedatangannya. Dengan sedikit malu-malu beliau mengemukakan maksud kedatangan ingin minta saran jika dirinya ingin maju mencalonkan diri menjadi pimpinan di perguruan tinggi.

Saya termenung sejenak, sambil menatap dalam-dalam wajah sang profesor muda. Ada sebersit kekhawatiran terhadap anak muda yang lincah ini; tapi tidak elok untuk dikemukakan.Akhirnya, sekali lagi meminjam jawaban sang mahasiswa doktoral di awal tulisan ini, saya memberinya saran: silakan menapak tadirmu, kalau itu milikmu.

Tampaknya mereka bertiga di atas puas dengan jawaban sufi tadi. Mereka mengantongi jawaban: Harus siap kalah dan siap menang. Dalam pengertian, kalah dan menang adalah takdir. Jika menang, maka jangan beranggapan itu adalah usaha penuh darinya, akan tetapi ada campur tangan Tuhan. Demikian juga halnya jika kalah, itu adalah skenario dari Tuhan. Sikap jumawa saat menang dan sikap kekanak-kanakan saat kalah merupakan sikap hidup yang tidak terpuji di mata manusia apalagi di mata Tuhan.

Akhir-akhir ini banyak saudara, teman, sahabat yang sudah ancang-ancang mau masuk gelanggang pertarungan; apakah itu legislatif, eksekutif; atau apa pun organisasinya. Mereka membawa harap, bermodal tekad; dengan gagah berani ingin adu nyali pada persaingan abadi. Disebut abadi karena pasti ada yang kalah, dan ada yang menang, itu adalah konsekuensi.

Sayangnya, mereka terkadang hanya bersiap untuk menang, tetapi tidak pernah bersiap untuk kalah; pada akhirnya saat menang pun kelakuannya berubah menjadi aneh, sementara saat kalah kelakuannya lebih aneh lagi.

Mencoba melalui pendulum takdir, adakah milik kita di sana ? Ini adalah pertanyaan bijak yang harusnya ada di dalam niat saat maju ke medan pilihan, sehingga secara psikologis mampu menerima apa saja yang menjadi ketentuan Tuhan untuknya.

Tahun pemilihan umum semakin deka. Pemanasan secara individual sudah dimulai, paling tidak menyampaikan niatan hati pada orang terdekat, atau orang yang dianggap tua, untuk dimintai petuah dan petitih. Namun keputusan akhir, tetap ada pada hati nurani masing masing, dengan segala macam kalkulasi baik material maun inmaterial.

Berdasarkan pengalaman perjalanan hidup, pertimbangan yang sangat membaggakan dan membahagiakan, salah satunya dari sejumlah hal adalah; manakala didatangi oleh yunior, apakah dia berstatus murid atau sahabat, memohon saran dan pendapat, serta penilaian personal untuk kesiapan diri menjadi guru besar. Di sana ada suasana hati yang sulit digambarkan dengan kata, apalagi kalimat.

Hal yang kedua adalah diminta pendapat untuk tidak berpendapat tentang sesuatu yang memang sudah ada pendapat kokoh kemutlakannya; sehingga ketidakberpendapatan tadi mempermudah pihak lain menentukan pendapat. Walaupun berada pada area ini tidak sembarang orang bisa, karena betul-betul harus mengosongkan diri total dari hasrat duniawi.

Memang pada dasarnya ada pendapat yang tidak perlu diberi tafsir, sehingga tidak diperlukan pendapat baru. Yang diperlukan menolaknya atau menerimanya; walaupun kedua pilihan tadi sebenarnya bersumber dari pendapat, paling tidak pendapat pribadinya. Sehingga kepenolakan atau keberterimaan akan sesuatu, termasuk takdir, adalah sesuatu yang bersifat misteri. Sekali lagi ini bukan wilayah imanen, tetapi wilayah transenden; oleh karena itu jangkauan apapun yang dimiliki manusia, tidak akan mampu menembusnya.

Selamat ngopi pagi….

  • Bagikan