Mendaratkan Burung Besi

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Entah sudah berapa kali dalam hidup menaiki “burung besi” untuk menuju beberapa belahan bumi ini sebagai tujuan. Kekhasan kendaraan satu ini:   selain cepat juga tidak harus memakan waktu lama. Namun semua moda punya aturan, termasuk kendaraan satu ini. Salah satu di antaranya adalah mengedepankan keselamatan dan kenyamanan penumpang.

Untuk satu persoalan ini kita harus akui bahwa standar dunia menuntut demikian adanya; jika ada maskapai yang tidak dapat memenuhi standar itu maka akan mendapatkan “hukuman” dari asosiasi mereka. Persyaratan ketat ini merupakan jaminan akan keberlangsungan maskapai ini dalam rangka juga menjamin keberlangsungan kehidupan korporasi mereka. Prosedur Standar Operasional ini disusun sampai dengan manual mutu untuk masing masing element.

Urusan ini kita serahkan kepada mereka para ahlinya, persoalannya adalah ternyata pekerjaan Pilot sebagai pengemudi, juga hampir sama dengan pemimpin suatu negeri. Keberlangsungan kehidupan anak negeri itu sangat tergantung bagaimana pemimpinnya dalam memimpin.

Saat menerima tampuk kepemimpinan negeri, biasanya pemimpin negeri yang baru akan menjelaskan arah tujuan yang akan dicapai, waktu tempuh penyelesaian program yang diperlukan, kesiapan apa yang diperlukan, dan semua harus bertindak apa. Pilotpun begitu sebelum lepas landas menjelaskan tujuan, waktu tempuh, apa yang harus dilakukan oleh semua penumpang, dan seterusnya.

Begitu mengudara pesawat akan dikemudikan secara otomatis; semua penumpang bisa agak sedikit bebas. Sama juga saat pemimpin sedang ada pada posisi puncak, mulai bagi bagi jabatan, bagi bagi rejeki atas nama menuju kemakmuran bersama. Konsep “bersama” dimaksud definisi operasionalnya sangat fleksibel; tergantung atas keperluan apa dan untuk apa, oleh siapa.

Begitu akan mendarat, di sini mulai kelihatan aslinya, baik penumpang maupun Pilotnya; sama juga menjelang berakhirnya masa kepemimpinan, sepertinya kebudayaan itu berulang. Kalau Pilot konsentrasi penuh bagaimana mendaratkan pesawat dengan baik, benar, dan selamat, serta nyaman. Kalau penumpang mulutnya komat kamit berdoa mohon keselamatan agar pendaratan ini berjalan mulus. Sementara kalau pemimpin pada umumnya; Pertama, berupaya untuk tidak melakukan apa apa, agar di belakang nanti tidak terjadi apa apa. Kedua, mulai melonggarkan pengawasan, dengan dalih konsentrasi penyelesaian program yang tersisa; sehingga ada celah para kroni untuk mengambil manfaat dari sisa waktu yang ada. Ketiga, mulai mempersiapkan diri setelah tidak memimpin akan jadi apa.

Akibat kondisi seperti ini yang diminta oleh rakyat menurunkan harga pangan dan listrik, justru yang didapat menurunkan volume ampli di masjid; tentu saja menjadi tidak nyambung kejadiannya. Tetapi semua ini akibat dari penyelarasan dan keharmonisan dari semua kepentingan. Tinggal yang menyimak menjadi bingung karena antara halaman satu dengan halaman berikutnya betul betul tidak ada kaitannya. Akibat lanjut membedakan menimbun dengan menyimpan juga jadi rancu; sampai sampai seorang Doktor mengajak berdebat tentang ini saking geramnya; karena kita sudah malas membuka kamus bahasa.

Pemimpinnya jalan ke utara, sementara yang dipimpin menunggu di tempat, pada hal teori Maslow mengatakan bahwa kebutuhan dasar manusia yang paling dasar itu adalah makan, sandang, dan papan, baru yang lainnya; semua para punggawa sampai rajapun mengetahui. Tetapi mengapa kebijakkan tentang ini dari jaman Majapahit-Sriwijaya sampai sekarang belum juga selesai, bahkan sering dijadikan bulan-bulanan, bahkan alat politik untuk bargaining guna mempertahankan posisi diri atau kelompok.

Tampaknya kondisi makin memprihatinkan karena wabah belum juga berakhir, bahkan varian baru mulai merebak. Rakyat sudah makin bosan karena merasakan tekanan hidup makin menghimpit, ini ditandai dengan daya beli yang makin sulit, mencari pekerjaan tidak mudah, sekedar mendapatkan minyak goreng saja antri; janji kesejateraan yang didengungkan pada awal awal dulu, rasanya makin jauh, baik dari capaian maupun sasaran.

Tentu ada yang bertanya, lalu mau apa kita sekarang? Jangan terburu-buru menjawab pertanyaan ini. Cermati pertanyaan ini datang dari siapa, tujuannya apa, dan atas dasar kepentingan apa. Karena kondisi seperti sekarang yang kita sangat khawatirkan adalah adanya pihak yang memancing di air keruh. Mengambil manfaat dari suatu situasi guna mencapai tujuan yang mereka inginkan. Jika ini yang terjadi,lagi lagi korbannya adalah rakyat.

Negara ini tidak mungkin diinvasi secara fisik, akan tetapi sangat mungkin secara ideology. Kondisi yang rapuh di dalam negeri akan memudahkan ideologi terinfiltrasi ke dalam. Oleh karena itu, kewaspadaan kita semua sangat dituntut. Membangun kewaspadaan nasional bukan hanya tugas guru Pendidikan Moral Pancasila; akan tetapi semua elemen bangsa agar tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kondisi sesulit apa pun negeri ini, kita harus selalu waspada akan adanya kepentingan lain yang ingin menghancurkan negeri ini. Pengalaman sejarah nusantara; banyak kerajaan besar di wilayah ini hancurnya bukan karena invasi dari luar, tetapi justru rapuh dan roboh karena pertikaian di dalam negerinya. Apakah sejarah akan berulang ? Jawabannya ada di hati nurani kita masing masing.

Selamat ngopi pagi.