Mendes PDTT: SDGs Desa Ditargetkan Berkontribusi terhadap 74 Persen Tujuan SDGs

  • Bagikan
Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar

TERASLAMPUNG.COM — Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar menyatakan SDGs Desa diharapkan berkontribusi terhadap 74 persen tujuan nasional berkelanjutan atau SDGs Nasional.

“Artinya, Perpres 59/2017 akan mendapatkan kontribusi yang signifikan ketika SDGs Desa diterapan di desa-desa,” kata Menteri Abdul Halim, di Jakarta, Kamis (10/12/2020).

Menurut Mendes, SDGs Desa adalah pembangunan total atas desa. Dengan SDGs Desa, maka seluruh aspek pembangunan harus dirasakan seluruh masyarakat desa tanpa ada yang terlewat (no one left behind).

“Pembangunan desa mengarah para 18 tujuan pembangunan nasional berkelanjutan. Generasi mendatang tetap menjadi bagian pelaksanaan dan pemanfaatan pembangunan,” kata Mendes.

Mendes mengungkapkan, 17 dari 18 tujuan pembangunan nasional berkelanjutan tersebut merujuk pada Perpres nomor 59 tahun 2017.

“Sedangkan yang nomor 18 adalah upaya pengembangan upaya pengembangan kami dari Kemendes sebagai upaya untuk memberikan kepada kebhinekaan kita. Sebanyak 74.954 desa yang ada di Indonesia memiliki bahasa, budaya, dan adat yang berbeda. Itulah sebabnya perlu diberi ruang yang cukup,” katanya.

Mendes mengutarakan masuk akal jika tujuan pembangunan nasional berkelanjutan fokus pada desa. Sebab, dari aspek kewilayahan, sebesar 91 persen wilayah Indonesia adalah wilayah desa. Sementara itu, 12 dari tujuan SDGs desa berkaitan erat dengan kewilayahan desa.

“Sedangkan dari aspek kewargaan, 43 persen penduduk Indonesia ada di desa dan 6 tujuan SDGs berkaitan erat dengan warga desa. Dari kondisi tersebut, terlihat aksi SDGs desa memiliki kontribusi yang cukup signifikan,” Mendes menandaskan.

Menurut Mendes, penjelasan mengenai SDGs Desa ini masuk dalam Trilogi Pertama yang dituangkan dalam Buku terbitan pertama yang diberi judul ‘SDGs Desa Percepatan Pencapaian”. Ini merupakan rangkaian pertama dari SDGs Desa.

Trilogi Kedua SDGs Desa pun diterbitkan dalam buku kedua yaitu SDGs Desa, Metodologi dan Pengukuran. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kesuksesan arah pembangunan desa nantinya.

Metodologi adalah apa yang dianggap benar, yaitu tercapainya sasaran-sasaran dari 18 Tujuan SDGs Desa, terpenuhinya mekanisme kerja sama antarpihak dalam mencapai
sasaran-sasaran tersebut dan terwujud ketika diterapkan pada level desa.

Metodologi ini telah melewati kontrol akademis dari tiga pergurun tinggi yaitu Universitas Negeri Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Universitas Negeri Surabaya.

Kontrol akademisi dalam bentuk pengecekan kerangka pemikiran, konsep, definisi operasional, dan instrument. Kemudian, rekomendasi atas draft-draft yang disusun. Selanjutnya uji validitas internal instrumen seperti kesesuaian dengan konsep SDGs, dengan hasil valid karena didasarkan pada meta data Perpres 59/2017 tentang pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, diambil yang tepat dibangun pada konteks desa.

Uji Validitas internal dengan uji kesesuaian dengan konsep indikator SDGs Global, Tujuan Pembangunan Nasional dan SDGs Desa maka dilaporkan SDGs Global ada 196 indikator dan Tujuan Pembangunan Nasional ada 241 Indikator.

Kemudian saat dilandingkan ke SDGs Desa ada 222 Indikator yang bisa diterapkan di desa, dimana 210 Indikator SDGs Global dan Nasional serta 12 Indikator yang merupakan penjabaran poin ke-18 SDGs Desa.

Kemudian dilakukan Uji Instrumen Lapangan yang digelar pada 26-30 November 2020 di Desa Sumberagung, Kecamatan Perak dan Desa Bawangan Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Jumlah kuesioner yang diuji yaitu dua kuesioner desa, 18 kuesioner rukun tetangga, 77 kuesioner keluarga, dan 216 kuesioner individu. Kuesioner desa hanya dua buah, seluruh pertanyaan dapat dijawab perangkat desa.

Empat Desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur dipilih menjadi pilot studi SDGs Desa yang dimulai tahun 2021. Output dari pilot studi keempat desa sebagai bahan penyusunan Trilogi SDGs Desa buku ke-3.

Keempat desa pilot studi itu adalah Desa Kemojing Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap berpenduduk 744 Kepala Keluarga dan Desa Tempel Sari, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung berpenduduk 732 Kepala Keluarga (KK). Keduanya di Jawa Tengah.

Sedangkan dua desa lain di Jawa Timur, masing-masing Mlaten, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro dengan penduduk 751 KK dan Desa Kretek, Kecamatan Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso dengan jumlah penduduk 746 KK.

Konsentrasi yang dilakukan kepada 4 desa pilot studi itu berupa sensus untuk seluruh penduduk, keluarga dan rukun tetangga. Kemudian dari sensus itu akan muncul hasil berupa profil desa, profil kependudukan, masalah kewargaan, masalah kewilayahan, serta rekomendasi-rekomendasi mengenai masalah level individu, keluarga, wilayah, tingkat capaian SDGs Desa serta laju pemenuhan sasaran SDGs Desa.

“Empat desa itu memiliki tipologi desa yang berbeda, yaitu pesisir dan pegunungan di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ujar Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini.

  • Bagikan