Beranda Views Jejak Menelisik Awal Mula Ditemukannya Prasasti Batu Tulis Palas Pasemah

Menelisik Awal Mula Ditemukannya Prasasti Batu Tulis Palas Pasemah

1164
BERBAGI
Sahidin, penjaga Kompleks Prasasti Batu Tulis Palas Pasemah.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Prasasti Batu Tulis Palas Pasemah di Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan menjadi salah penanda bahwa orang Lampung sejak zaman dulu sudah mengenal tulisan. Prasasti Palas Pasemah berperan penting dalam memberikan informasi kepada masyarakat, terutama masyarakat generasi berikutnya tentang jejak masa lalu.

Ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno sebanyak 13 baris. Meskipun tidak berangka tahun, tetapi bentuk aksaranya diperkirakan prasasti itu berasal dari akhir abad ke-7 Masehi. Isinya mengenai kutukan bagi orang-orang yang tidak tunduk kepada Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti merupakan sumber sejarah dari masa lampau yang tertulis di atas batu atau logam dan biasanya dikeluarkan oleh seorang penguasa yang pada zaman itu berkuasa di wilayahnya, baik pada tingkat pusat pemerintahan maupun penguasa daerah. Di Provinsi Lampung belum dapat ditemukan secara pasti suatu indikator pusat pemerintahan pada tingkat kerajaan dari masa Hindu-Buddha, meskipun disebutkan adanya sebuah Kerajaan Tulang Bawang, Skala Brak, dan Punggung yang ada di Lampung.

Beberapa peninggalan dari masa lampau tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pendukungnya bukan dari pusat kerajaan namun masyarakat yang berada di bawah satu kerajaan. Berdasarkan prasasti-prasasti yang pernah ditemukan, menunjukkan bahwa di daerah Lampung pada masa klasik berada di bawah penguasaan Kerajaan Sriwijaya yang pernah mengalami kejayaannya di Nusantara pada 500 Masehi ditangan seorang raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Salah satu Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di Sungai (Kali) Pisang anak sungai Way Sekampung yang berada di Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan yang menyiratkan bahwa Lampung berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.

Menurut Sahidin (40) yang menjaga serta mengurus peninggalan sejarah Batu Bertulis tersebut menceritakan, ditemukannya Batu Bertulis tersebut, berawal dari dua orang pemuda kampung berbeda suku yang berasal dari Pagar Alam, Sumatera Selatan dan Cirebon, Jawa Barat. Meski berbeda suku dan bahasa, kedua pemuda tersebut bersahabat sejak kecil dan kesehariannya membantu orangtuanya mulai dari bercocok tanam hingga mencari ikan di Desa Palas Pasemah.

Pintu gerbang ke areal Kompleks Prasasti Palas Pasemah di Lampung Selatan.

“Mereka ini adalah perantau ikut orangtuanya masing-masing untuk mengadu nasib di Desa Palas Pesamah ini, kalau nama kedua pemuda itu katanya bernama Ujang yang berasal dari Pagar Alam, Sumatera Selatan dan Asep berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Tapi saya tidak tahu pasti benar dan tidaknya nama mereka, yang jelas seperti itulah ceritanya,” kata Sahidin, kepada teraslampung. com saat ditemui di lokasi benda bersejarah tersebut.

Pada hari Jumat 5 April 1956, kata Sahidin, seperti biasa kedua pemuda itu pergi mencari ikan. Keduanya pergi menuju ke Kali (Sungai) Pisang yang saat itu airnya sedang surut. Meski di Kali tersebut banyak terhampar batu-batu, namun ikan yang ada di Kali itu cukup lumayan banyak. ketika sampainya di kali tersebut, pemuda bernama Ujang tiba-tiba perutnya terasa mulas dan berasa ingin buang air besar.

“Ujang pergi menuju ke tengah Kali Pisang itu, mencari tempat yang dikira nyaman untuk nongkrong sembari buang hajat. Kala itu Ujang duduk diatas batu yang berukuran agak besar, dan diatas batu itulah Ujang buang air besar. Baru saja melepas hajatnya, tiba-tiba Ujang jatuh dari batu yang ditongkronginya itu dan pingsan,”ujarnya.

Temannya bernama Asep yang yang melihat kejadian itu, merasa kebingungan karena Ujang tiba-tiba terjatuh dan pingsan. Lalu Asep meminta pertolongan dengan orang yang ada disekitar Kali Pisang itu, untuk membantu temannya Ujang dibawa pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Ujang, ternyata pemuda bernama Asep ini kerasukan mahluk gahib (halus) dan memaki-maki Ujang yang saat itu belum sadarkan diri dari pingsannya.

Makiannya Asep itu, ‘Kamu (Ujang) kurang ajar, telah menghina telah mengotori (memberaki) tempatnya. kalau Ujang mau sembuh dan sehat lagi, maka harus memotong kambing hitam’,” katanya.

Batu Bertulis Palas Pasemah

Mendengar cacian dan makian Asep yang kerasukan mahluk ghaib, kata Sahidin, warga meminta bantuan kepada tetua-tetua kampung yang ada di Desa Palas Pasemah ini untuk menanyakan dimana Ujang buang air besar (hajat) tersebut. Selanjutnya tetua kampung bersama warga, menuruti permintaan mahluk ghaib yang telah merasuki Asep dan juga demi kesembuhan kedua pemuda tersebut.

Setelah pemuda asal Cirebon tersebut sembuh dari kerasukan mahluk ghaib, tetua kampung menanyakan dimana letak batu tersebut. Lalu mereka pergi menuju ke Kali Pisang, mencoba mengangkat batu di tengah kali untuk diangkat ke atas (darat) yang berjarak hanya sekitar 100 meter dari Kali Pisang di tanah peladangan milik seorang warga bernama Senemak.

“Mereka mencoba membersihkan batu tersebut, setelah dibersihkan ternyata ada sebuah tulisan-tulisan kuno di batu itu dan warga tidak memahami arti dan makna tulisan kuno yang ada di batu tersebut. Hasil temuan itu, dilaporkan ke Kandepdikbud Kasi kebudayaan Kecamatan Palas dan diteruskan ke Pemerintah Provinsi dan Pemda Lampung Selatan,”terangnya.

Sebelum dilaporkan mengenai hasil temuan itu, sambung Sahidin, warga yang tinggal di Desa Palas pasemah ini, secara sukarela memotong kambing hitam. Hal tersebut dilakukan, menuruti permintaan dari makhluk gaib yang telah merasuki di tubuh kedua pemuda tersebut. Warga juga sekaligus mengadakan syukuran (selametan), agar semuanya dapat diberikan keselamatan dan tidak terjadi sesuatu di Desa Palas Pasemah khususnya.

“Atas izin dan ridho Alllah SWT, kedua pemuda Asep dan Ujang akhirnya sembuh dan sehat kembali seperti sediakala. Sejak peristiwa itu hingga saat ini, saya tidak tahu kemana kedua pemuda tersebut,”ungkapnya.

Batu Tulis Palas Pasemah

Pada tahun 1979, datanglah salah seorang petugas dari pusat yakni Prof. Dr. Buchari, seorang ahli bidang penelitian terhadap benda-benda bersejarah dan purbakala melakukan penelitian tulisan yang ada di batu tersebut. Setelah diteliti, tulisan-tulisan kuno yang ada di batu itu, merupakan Batu Bertulis salah satu benda bersejarah (Prasasti) peninggalan dari Kerajaan Srwijaya.

“Hasil penelitian itu juga dikuatkan keterangan dari para tetua kampung yang menyatakan bahwa di daerah Palas ini khususnya Palas Pasemah, merupakan salah satu daerah kekuasan dari Kerajaan Sriwijaya. Kalau isi atau arti dan makna dari tulisan kuno itu, sebuah kutukan janji sumpah dari Raja Kerajaan Sriwijaya,”jelasnya.

Sahidin menambahkan, sebelum dilakukan pemugaran oleh pemerintah daerah terhadap benda bersejarah Prasasti Batu Bertulis peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebut, awalnya almarhum ayahnya yang menjaga dan mengurunya.

Lalu dilanjutkan oleh pamannya dan pada tahun 1993, barulah dirinya yang menjaga dan merawat Prasasti Batu Bertulis tersebut sampai saat ini. Hingga akhirnya ia diangkat pegawai oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang, Banten, sudah sekitar delapan tahun.

“Kalau untuk pemugarannya ini sendiri, dilakukan Pemda sudah ada 13 tahun yakni pada tahun 2004 silam,” kata Sahidin.

Sahidin berharap, Pemerintah melalui Instansi terkait agar bisa lebih memperhatikan peninggalan bersejarah ini yang menjadi bahan kajian oleh pemerhati sejarah di seluruh dunia tersebut.

Sahidin di deoan pintu gerbang Kompleks Prasasti Batu Tulis Palas Pasemah. Lampung Selatan.

Pantauan teraslampung.com, jalan menuju Prasasti Batu Bertulis Palas Pasemah tersebut, telah diperbaiki dengan diilakukan pengecoran (rigit), kompleks lokasi Prasasti telah dipagar, jalan di areal komplek Prasasti telah dipasangi pavling blok dan Prasasti Palas Pasemah itu juga dilidungi dengan kotak dari kaca.

Prasasti Batu Bertulis Palas Pasemah yang berbentuk setengah bulat-lonjong, dengan tinggi 64 cm, lebar 75 cm, tebal 20 cm itu merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditulis dalam 13 baris dan berhuruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Namun dari baris ke 1 sampai 3 hilang karena usang termakan usia, sehingga isi naskah yang tertulis itu tidak dapat terbaca secara jelas dan lengkap dan sulit bagi kita untuk memahami isinya.

Kemudian isi Prasasti tersebut, dibahas oleh Prof. Dr. Buchari dalam sebuah artikelnya “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, dalam buku “Kumpulan Makalah Pra Seminar Penilitian Sriwijaya”, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979.

Diketahui bahwa isi atau arti dari tulisan di Prasasti palas Pasemah tersebut, memuat berupa kutukan bagi mereka yang tidak patuh atau tunduk kepada penguasa (Raja) Kerajaan Sriwijaya. Isi di Prasasti tersebut, hampir ada kesamaan dengan isi beberapa prasasti lainnya yang ditemukan di Privinsi Lampung. Kemudian Prasasti Karang Brahi yang berada di daerah Jambi, dan Prasasti Kota Kapur di daerah Bangka.

Prasasti Palas Pasemah tersebut, tidak memuat angka tahun dalam pembuatannya. Namun berdasarkan ilmu tentang tulisan kuno (palaeografi), prasasti tersebut berasal dari zaman Hindu-Budha yang diperkirakan dibuat sekitar abad ke-VII sampai ke-IX Masehi.

Inilah tulisan berhuruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno yang ada di Prasasti Batu Bertulis Palas Pasemah tersebut:
(1) siddha kita hamwan wari awai. kandra kayet ni pai hu (mpa an). (2) namuha ulu lawan tandrum luah maka matai tandrun luah wi (nunupaiihumapa). (3) an hankairu muah. kayet nihumpa unai tunai. unmeteng (bhakti ni ulun). (4) haraki unai tunai. kita sawanakta dewata maharddhika san nidhana mangra (ksa yang kadatuan). (5) di sriwijaya. kita tuwi tandrum luah wanakta dewata mulayang parsumpaha (n. parawis. kada). (6) ci urang di dalangna bhumi ajnana kadatuanku ini pewaris. Drohaka wanu (n. samawuddhi la). (7) wan drohaka. manujari drohaka. niujari drohaka. tahu din drohaka (tida ya marpadah). (8) tida ya bhakti tatwa arjjawa di yaku dnan di yang nigalar kkusanyasa datua niwunuh ya su (mpah ni). (9) suruh tapik mulang parwwa (dnanda) tu sriwijaya talu muah ya dnan gotra santanana. tathapi sa (wana). (10) kna yang wuatna jahat maka lanit urang maka sakit maka gila mantraganda wisaprayoga upah tua ta (mwal sa). (11) ramwat kasihan wasikarana ityewarnadi janan muwah ya siddha pulang ka ya muah yang dosana wu (a). (12). tna jahat inan. ini grang kadaci ya bhakti tatwa arjjwa di yaku dnan di yang nigalarkku sanyasa datua santi muah (ka). (13) wuattana dnan gotra santanana smarddha swastha niroga nirupadrawa subhiksa muah yang wanuana parawis.

Kali (sungai) Pisang inilah Batu Tulis Palas Pasemah sebuah Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya pertamakali ditemukan oleh dua pemuda asal Sumatera Selatan dan Cirebon, Jawa Barat. Kali (sungai) Pisang tersebut, berjarak sekitar 100 meter berada di sebelah kanan dari kompleks Batu Tulis yang sudah dilakukan pemugaran.

Terjemahan dari kata-kata dalam tulisan Pallawa dan bahasa Melayu Kuno yang telah dilakukan riset oleh Boechari dan para ahli sejarah tersebut adalah:

1 sampai nomor 4, merupakan salam, hormat kepada semua dewa, yang maha kuat, yang melindungi kerajaan. (5) Sriwijaya, hormat juga kepada tadrum luah wahai, dan semua dewa yang mengawasi sumpah kutukan ini (jika). (6) Ada orang atau rakyat di bawah kekuasanku yang tunduk pada kerajaan yang memberontak, (berkomplot dengan). (7) Pemberontak, bicara dengan para pemberontak, tahu pemberontak (yang tidak menghormatiku). (8) Tidak tunduk takzim dan setia padaku dan bagi mereka yang yang dinobatkan dengan tuntutan datu, (orang-orang tersebut) akan terbunuh oleh (sumpah kutukan ini). (9) dan kepada penguasa (Gubernur) kerajaan sriwijaya diperintahkan untuk menghancurkannya, dan mereka akan dihukum bersama (termasuk) seluruh anggota marga dan keluarganya. juga (sama). (10) orang yang berniat buruk, (seperti orang yang) membuat prang menghilang. membuat orang sakit, membuat orang gila, mengucapkan kata-kata magis (jampi-jampi), meracuni orang dengan upas dan tuba, dengan racun yang terbuat dari akar-akaran dan semua jenis (tanaman). (11) merambat, menjalankan ilmu pengasih (supaya orang jatuh cinta), melecehkan orang dengan guna-guna, biarlah mereka dijatuhkan dari keberuntungan, dan dibenci masyarakat. (12) karena sangat berlaku buruk. tetapi mereka patuh dan setia kepadaku, dan mereka kunobatkan menjadi datuk akan memperoleh (segala) keberuntungan. (13) dalam usahanya termasuk marga dan keluarga mereka. dan sukses itu, (memberi) sejahtera, sehat, aman, yang berlimpah kepada Negara.