Beranda Views Opini Menengok Kabar Sektor Kelistrikan dan Gas pada Masa Pandemi Covid-19

Menengok Kabar Sektor Kelistrikan dan Gas pada Masa Pandemi Covid-19

125
BERBAGI

Oleh : Zulfikar Halim Lumintang, S.St

Listrik merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Tanpa listrik, kehidupan akan gelap gulita. Tanpa listrik, internet tak bisa sampai di rumah kita. Dan seperti kita ketahui bersama, bahwa listrik juga belum menyentuh seluruh pemukiman penduduk di Indonesia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam bisnis.com mencatat bahwa masih ada 25.000 rumah tangga yang belum dialiri listrik. Daerah tersebut merupakan daerah tertinggal, terluar, dan terdepan Indonesia. Namun, daerah yang sudah dialiri listrik, belum tentu juga masyarakatnya menggunakan listrik.

Hal tersebut karena mereka tidak sanggup membayar tagihan listrik. Sehingga mereka memilih untuk tidak menggunakan listrik. Memang masih ada sumber alternatif lain, seperti panel surya tetapi ada kelemahan yang membuat masyarakat berpikir ulang untuk memanfaatkannya.

Antara lain, jika tidak terpasang dengan baik dapat terjadi over-heating pada panel surya. Memiliki ketergantungan terhadap cuaca, jika cuaca mendung tentu panel surya tidak bisa menangkap sinar matahari dengan maksimal.

Jadi penggunaan listrik masih menjadi pilihan utama saat ini. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini. Tentu kebutuhan listrik rumah tangga akan meningkat drastis. Seiring dengan adanya kebijakan Work From Home (WFH).

Namun, apakah kebutuhan listrik rumah tangga ditengah pandemi ini bisa dipenuhi oleh perusahaan swasta maupun plat merah? Kemudian bagaimana kondisi internal perusahaan tersebut selama pandemi Covid-19 ini?

Pertumbuhan Konsumsi Listrik Melambat

Pada masa pandemi Covid-19 ini. Pemerintah memberikan kebijakan berupa bekerja dari rumah, dan sekolah dari rumah. Artinya waktu di rumah bagi anggota rumah tangga akan lebih banyak dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. Hal ini membuat konsumsi listrik rumah tangga mengalami peningkatan hingga kuartal I 2020 sebesar 7,54%.

Namun, konsumen listrik tentu bukan hanya rumah tangga saja. Ada segmen industri dan bisnis yang ikut ambil bagian. Pada tahun 2018, industri dan bisnis mendominasi konsumsi listrik hingga 52%.

Dengan terhambatnya kegiatan industri dan bisnis, tentu membuat menurunnya konsumsi mereka akan listrik. Sehingga dengan proporsi sebesar itu, tentunya pertumbuhan konsumsi listrik secara keseluruhan akan melambat juga. Tercatat dalam dunia energi.com, hingga Maret 2020, realisasi penjualaan listrik PLN sebesar 61,15 TWh atau hanya tumbuh 4,61%

dari realisasi 2019 yang sebesar 58,46 TWh. Padahal pada kuartal I 2019 pertumbuhannya bisa mencapai 5,48%.

Bahkan khusus pada bulan Maret 2020 realisasi pertumbuhan segmen bisnis negatif sebesar -0,88% dan segmen industri juga negatif sebesar -2,71%. Berdasarkan data tersebut, terbukti bahwa meskipun pemerintah sudah memberlakukan subsidi listrik rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi listrik secara keseluruhan tetap melambat.

Dari segi gas, Perusahaan Gas Negara (PGN) juga sebenarnya sudah bersiap untuk menangggung kebutuhan gas PLN untuk produksi listrik. Dalam antaranews.com, Direktur Komersial PGN, Dilo Seno Widagdo menjelaskan, selama Januari sampai dengan Maret 2020 PGN telah memasok gas bumi ke berbagai pembangkit listrik milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) dengan rata-rata volume pemakaian sebesar 331 BBTUD. Total pasokan gas tersebut mampu menghasilkan tenaga listrik sebanyak 1.600 MW.

Jadi, melambatnya sektor kelistrikan dan gas selama pandemi Covid-19 ini, disebabkan oleh mandegnya segmen industri dan bisnis. Dimana segmen tersebut merupakan konsumen listrik mayoritas dari PLN.

Nilai Tukar Rupiah Anjlok

Permasalahan PLN rupanya tidak berhenti sampai disitu saja. Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga berpengaruh terhadap kondisi keuangan PLN.

Pendapatan yang diterima PLN berupa rupiah, sedangkan pengeluaran untuk membayar penyedia listrik swasta dalam bentuk dollar. Selama 26 Februari 2020 hingga 26 Mei 2020, nilai tukar rupiah terhadap dollar terus berfluktuasi. Dari Rp 13.966/USD, sempat menginjak angka Rp 16.741/USD pada awal April, hingga menyentuh Rp 14.774 pada 26 Mei 2020.

Dengan kondisi nilai tukar rupiah yang sangat fluktuatif, bahkan cenderung menurun. Maka PLN tentu merasa sangat kewalahan untuk mengatur keuangannya. Ditambah lagi, selama pandemi Covid-19 ini, pemerintah pusat menerapkan subsidi tarif listrik. Bayangan cukup atau tidaknya subsidi pemerintah pusat untuk menutupi konsumsi listrik rumah tangga tentu sangat menghantui.

Saran Kebijakan

Ditengah pandemi Covid-19 ini, semua sektor lapangan usaha tentu mengalami dampak negatif. Termasuk sektor kelistrikan dan gas pada awal masa pandemi Covid-19 menjangkiti Indonesia.

Namun jika dibandingkan, sektor lapangan usaha yang lain. Sektor kelistrikan dan gas diprediksi oleh BI akan tumbuh lebih baik pada triwulan II 2020. Hal ini kemungkinan besar menjadi pertanda, bahwa kegiatan industri dan bisnis akan mulai aktif kembali. Sehingga konsumsi liatrik industri dan bisnis meningkat.

Pemerintah pusat, selaku pemangku kebijakan PSBB semasa pandemi Covid-19. Harus memberikan protokol yang jelas terkait hal ini. Dilonggarkannya PSBB demi memutar roda perekonomian, khususnya industri dan bisnis, secara tidak langsung mengutus masyarakat untuk berinteraksi antar pegawai di perusahaan.

Pelonggaran PSBB di perusahaan industri tentu diharapkan tidak ikut-ikutan menjadi cluster baru yang menambah jumlah pasien positif Covid-19. Mulai dari pembatasan jumlah pegawai yang masuk kerja, dan tetap menerapkan mekanisme WFH bagi pegawai yang rentan terjangkit Covid-19.

Dengan begitu, diharapkan keduanya bisa berjalan beriringan. Antara perekonomian yang membaik dab kesehatan masyarakat yang terjaga.***

*Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara

Loading...